Avatar

Fikrul Hanif Sufyan

Menterengnya Kulliyatul Muballighin Padang Panjang

Perkembangan Kulliyatul Muballighin Padang Panjang tidak lepas dari perkembangan Muhammadiyah di Minangkabau pada masa itu. Secara administrasi, organisasi cabang Muhammadiyah pertama yang mendapat pengesahan dari hoofdbestuur Muhammadiyah Yogyakarta adalah Muhammadiyah Cabang Padang Panjang dengan besluit Hoofdbestuur No. 36 tanggal 20 Juli 1927 (Deliar Noer, 1996). Sejak itu, Muhammadiyah Padang Panjang tidak henti-hentinya mengembangkan amal usaha […]Read More

Bahtera Masa, Pers Pertama Muhammadiyah Kurai Taji

Lima tahun pasca berdirinya groep Muhammadiyah Sariak Malai Pariaman, Buya Oedin, terus melakukan terobosan. Ia ingin melebarkan sayap Islam Berkemajuan di kantong-kantong tarekat Syattariyah.  Bertambahnya jumlah groep dan amal usaha dari Cabang Muhammadiyah Pariaman, tidak membuat pengurus persyarikatan berpuas diri. Sampai awal Januari 1936, beberapa pemuda yang berasal dari Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah membicarakan […]Read More

Samik Ibrahim: Perintis Angkatan Laut Pertama di Kota Padang

Peran saudagar, terutama yang aktif dalam gerakan Islam Berkemajuan pada masa awal kemerdekaan, tidaklah kecil. Tidak hanya sebatas menyebar berita Proklamasi, merelakan kantor Persatuan Dagang Indonesia (PERSDI) dijadikan markas BPPI, juga ikut merintis organ utama Angkatan Laut Republik Indonesia. Proses berdirinya pun menarik untuk dicermati. Diawali dengan konsolidasi kekuatan massa maritim, kantor Djawatan Pelabuhan dipimpin […]Read More

Kisah Samik Ibrahim Menagih Utang Militer

Samik Ibrahim Sang Kreditur Pasca aksi polisioneel pertama, Karesidenan Sumatra Barat merasa perlu menyeimbangkan biaya operasional revolusi kemerdekaan. Untuk memperoleh suplai peralatan perang, pemerintah menerapkan iuran perang 10% untuk seluruh sumber-sumber pendapatan rakyat. Tidak hanya untuk padi, pajak juga diterapkan untuk gaji, hasil pertanian, dan keuntungan perdagangan (Maklumat Residen Sumatra Barat No.3 tahun 1947).  Untuk […]Read More

Kisah M Yunus Anis ‘Terperangkap’ di Minangkabau pada Masa PDRI

Banyak kisah menarik pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat. Termasuk ‘terperangkap’nya Pimpinan Besar Muhammadiyah Yogyakarta, M. Yunus Anis, di Bukittinggi semasa PDRI. Di antara para hoofdbestuur Muhammadiyah yang sering berkunjung ke ranah Minang, adalah M. Yunus Anis. Kali pertama, ia berkunjung sebelum Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo, kemudian dilanjutkan saat penyelenggaraan […]Read More

Buya Hamka dan Buya Oedin Mendamaikan Dua Kubu Masyumi

Masa kejayaan Muhammadiyah secara keseluruhan di Minangkabau dimulai sejak Indonesia merdeka (1945). Yang aktif bukan saja pemimpinnya, tapi juga seluruh anggota Muhammadiyah menurut bidangnya masing-masing. Misalnya, Majelis Pengajaran, Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), Ibu-ibu di Aisyiyah, remaja putri di Nasyiatul Aisyiyah, dan lain-lain. Pada masa itu yang menjadi pimpinan tertinggi Muhammadiyah di Minangkabau adalah Buya Hamka. […]Read More