Baca Ini, Sebelum Menulis Buku - IBTimes.ID
Resensi

Baca Ini, Sebelum Menulis Buku

3 Mins read

“Menulislah apa yang kamu kuasai.” Begitulah pesan Pak Isa Alamsah, jurnalis senior juga suami penulis ternama Asma Nadia. Pesan ini memotivasi saya ketika sedang buntu ide dan bingung menentukan tema tulisan. Saya selalu memperhatikan pesan tersebut setiap kali ingin menulis buku, saya tidak pernah luput memulai dari hal yang saya minati. Kemudian bentuk apapun tulisan saya entah artikel, opini, essai, puisi, cerpen maupun novel, tak jauh-jauh dari apa yang saya tekuni. Selanjutnya, mengalir saja melanjutkan tulisan saya sampai menjadi buku. Persoalan berikutnya adalah pasca menerbitkan buku. Mau di ke manakan buku yang sudah saya tulis ini? Bagaimana saya membuat orang lain mau membeli dan membaca karya saya. Itulah yang saya pikirkan.

Tips agar Buku Karya Kita Diminati Orang Banyak

Biasanya penerbit (Indie) ikut mempromosikan karya kita, lewat flyer, maupun brosur yang disebarkan lewat sosmed. Selanjutnya nasib pemasaran buku sepenuhnya ada di tangan penulis, bagaimana ia harus proaktif memasarkan bukunya.

Langkah awal saya lakukan biasanya membuat list Pre-Order, dengan menawarkan di berbagai laman sosial media saya, maksimal 22 eksemplar yang pernah terjual. Untuk menembus toko buku besar seperti Gramedia dan Toko buku Togamas, butuh waktu dan biaya. Kalau tidak kenal dengan General Manager atau buku kita yang diterbitkan oleh Penerbit Mayor akan sulit sekali bagi penulis mengharapkan bukunya bisa mejeng di rak-rak toko buku tersebut.

Lalu beli-lah saya buku ini. Judulnya “Sukses Bisnis dengan Menulis, Panduan menjadi Writerpreunuer, karya Pak Eko Prasetyo. Seorang Pimred Majalah Literasi  milik komunitas Guru terbesar di Indonesia, Media Guru. Pengalamannya sebagai Penulis yang sudah melahirkan lebih dari 85 buku dan akan terus pula menulis buku. Melalui buku ini penulis membagikan berbagai pengalaman bagaimana menjual karyanya.

Baca Juga  Membaca Teori Oligarki, Membaca Indonesia

Buku Berjudul, “Sukses Bisnis dengan Menulis, Panduan menjadi Writerpreunuer

Sesuai ekspetasi saya ketika memilih membeli buku ini di dalamnya dijelaskan apa mestinya yang dilakukan penulis setelah berkarya, menjadi sebuah buku, dan  bagaimana cara jitu penulis memasarkan karya. “Mengenang perjuangan” begitu penulis menyampaikan di halaman Prakata, bahwa buku ini menjelaskan banyak hal tentang bagaimana penulis membagikan pengalaman dan proses perjalanan serta proses kreatifnya menulis buku.

Jauh sebelum booming “Literasi” sekitar tahun 2014, penulis sudah lebih dulu terjun total di dunia literasi. Pengalamannya sebagai editor di sebuah Surat Kabar ternama di Jawa Timur yakni Jawa Pos. Penulis sudah lebih dulu mengkampanyekan gerakan literasi  melalui program literasi ” Untukmu Guruku” yang diselenggarakan oleh Jawa Post.

Lalu bersama Bapak M. Ikhsan, CEO komunitas Media Guru, penulis semakin aktif memberikan pelatihan-pelatihan juga menulis banyak sekali buku di antaranya buku tentang Writerpreneur ini yang terbit pada September 2020.

Terdiri dari 5 BAB, buku setebal  262 halaman ini mengulas tentang: Penulis dan Problematikanya ( BAB 1), Metode Menulis (BAB 2), Mereka yang Mandiri, Dia yang Sukses  (BAB 3), Motivasi (BAB 4), serta Teknis dan Penerbitan (BAB 5). Dengan mengeksplore pengalaman menulis dan memasarkan karya oleh para penulis terkenal seperti Dewi Lestari, Kang Abik, Buya Hamka, Andrea Hirata, Rahmania (penulis Eifel Im In Love), Sapardi Joko Pramono dan masih banyak lagi. Pembaca tak akan merasa digurui dengan teori-teori menjual.

***

Menariknya pembaca akan disuguhi berbagai pelajaran berharga dari proses kreatif dan sukses story penulis-penulis tersebut. Kita tak hanya belajar menjual, tetapi juga belajar bagaimana berkarya dan menuliskan hal yang bernilai.

Baca Juga  Anthropology of the Arabs: Lebanon dalam Kacamata Etnografer Jawa

Menurut saya, setelah membaca buku ini, kita tak hanya akan memiliki motivasi namun juga mengenal biografi penulis ternama. Anne Frank contohnya yang menjadi “kejutan” tersendiri bagi saya pribadi.

Saya belum tahu sama sekali siapa dan bagaimana kisah hidup Annne Frank. Saya hanya mengetahui nama tersebut karena sebuah film berjudul “Freedom Writer” tentang sebuah sekolah di daerah Gangster. Karena motivasi besar seorang guru untuk mengajak mereka menulis dan merubah nasib mereka, lalu guru ini mengenalkan tentang kisah Anne Frank.  Kemudian di datangkanlah “Anne Frank” ini jauh-jauh dari Eropa untuk datang ke sekolah ini di Amerika untuk memotivasi mereka.

Dalam buku ini penulis juga menyelipkan beberapa karya yang pernah dimuat di media  dan bagaimana tulisan tersebut viral. Secara tidak langsung, melalui ini, penulis juga berbagi tips tentang tulisan-tulisan seperti  apa yang selalu menarik pembaca.

Kelebiihan Buku Eko Prasetyo

Buku ini terasa sangat lengkap manakala penulis sangat total mempersembahkan pada pembaca bagaimana tulisan dan buku kita akan benar-benar diminati orang. Antara lain adalah kita harus belajar mengangkat tema-tema yang update dan menjadi pusat perhatian . 

Penulis juga memberikan pesan secara tersirat terutama pada penulis pemula agar orientasi menulis tidak harus karena materi. Meskipun sebenarnya cita-cita semua penulis adalah karyanya menjadi best seller. Hal ini agar menjaga dan memberi nilai maupun kualitas tulisan kita agar karya kita tidak sekedar laris, tetapi juga membawa banyak manfaat bagi pembaca.

Di bagian akhir buku ini dibahas bagaimanakah proses dan teknik penerbitan buku.  Intinya meskipun pada akhirnya bagian itu cukup diserahkan saja pada ahlinya paling tidak penulis harus mengetahui dunia penerbitan dan royalti. Pembahasan ini memberikan kita wawasan agar kita memahami, bagaimana sistem royalti bila kita bekerja sama dengan sebuah penerbit dan berapa besar hak penerbit juga penulis.

Baca Juga  IBTimes Target 1000 Penulis Muda, Mungkinkah?

Hal yang saya tangkap dari tulisan ini, sebenarnya penulis lebih banyak menyarankan “Self Publishing”  hal ini ditegaskan di halaman 242, tentang rincian langkah-langkah penulis menerbitkan buku sendiri.

“Kebahagian sejati seorang penulis tak hanya bisa diukur dengan uang “Demikian quotes penulis di bagian akhir sebagai penutup yang sempurna buku ini. Dan bagi yang sangat tertarik dan sedang menekuni dunia penulisan, saya sangat merekomendasikan anda untuk membeli dan membacanya sampai tuntas.

Editor: RF Wuland

Related posts
Resensi

Bagaimana Kebebasan Berfikir dalam Islam?

2 Mins read
Antara Iman dan Akal Bagaimana mendudukan iman dengan akal? Apakah akal terlebih dahulu? Atau akal terlebih dahulu? Saya sering sekali mendapati diskusi…
Resensi

Dilarang Mengutuk Hujan: Buku Penuh Esai Reflektif

4 Mins read
“Dilarang Mengutuk Hujan” begitulah Iqbal Aji Daryono melahirkan karya terbarunya. Dia seorang kolomnis esai di berbagai media ternama. Tulisan-tulisannya yang tersebar di…
Resensi

Francis Fukuyama Bicara Masalah Politik Identitas

3 Mins read
Buku Indentitas: Tuntutan atas Martabat dan Politik Kebencian Dunia modern telah membawa manusia pada peradaban yang sangat revolusioner seperti bagaimana dunia modernitas…

Tinggalkan Balasan