Belum lama ini, publik di dunia maya dihebohkan dengan sebuah tragedi di Jerebuu, sebuah kecamatan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, dimana seorang anak berusia 10 tahun bernama YBR mengakhiri hidupnya secara tragis dengan gantung diri. Siapa sangka, wilayah yang pernah dikenal melalui senandung riang Tabola Bale yang mendunia itu, kini justru menyingkap sebuah ironi yang memilukan dan menyisakan duka nasional yang menyesakkan dada.
Terlibat dalam peninjauan lapangan bersama otoritas terkait di lokasi peristiwa pilu ini terjadi, saya menempuh perjalanan sejauh 1.500-kilometer dari Jakarta menuju Jerebuu, sebuah perjalanan yang menuntun saya pada realitas yang jauh lebih kompleks, melintasi kesenjangan peradaban antara Ibu Kota Jakarta dan Nusa Tenggara Timur yang mengusik nurani.
Di saat pemerintah Indonesia tengah merayakan gempita digitalisasi, Jerebuu berdiri dalam kesunyian; di mana lampu penerangan banyak belum ditemukan di kanan kiri jalan, jalanan utama yang menjadi akses lalu lintas warga menuju kota rentan longsor dan penuh lubang, belum ada transportasi daring yang dapat diakses, serta jaringan internet yang lamban.
Di sana, menyaksikan anak-anak sekolah SD pulang sekolah dengan kaki telanjang adalah sebuah kewajaran. Kaki-kaki kecil itu masih akrab dengan jalanan berlumpur menuju rumahnya; sebuah realita yang setiap hari anak-anak itu jalani demi masa depan yang masih samar.
Semua ironi ini bermuara pada satu pertanyaan besar tentang bagaimana kita membaca tragedi YBR. Jika meminjam ungkapan dari seorang tokoh pluralis Nasional, Buya Ahmad Syafii Maarif, peristiwa memilukan yang menimpa YBR adalah manifestasi nyata dari “kritik sosial dari batin yang retak”. Untuk membaca keretakan itu, kita tak cukup hanya dengan meringkasnya dalam angka statistik. Ia perlu dibaca melalui lensa kemanusiaan untuk memahami betapa hancurnya harapan anak-anak di tepian negeri yang selama ini luput dari pandangan.
Anak Baik Hati yang Retak dalam Sunyi
Motif yang beredar luas soal tak bisa membeli pena dan buku yang tak sampai sepuluh ribu rupiah hanya menyentuh permukaan. Kisah hidup YBR yang sesungguhnya menggugah nurani kemanusiaan yang lebih dalam. YBR menjalani sebuah perjalanan hidup yang tidak sederhana. Namun, ia tak pernah menunjukkan keluh kesahnya baik di hadapan pihak sekolah, teman, maupun keluarga. Ia dikenal sebagai anak yang sopan dan ceria, hingga tak ada satu pun pihak yang menyangka bahwa YBR mampu nekat mengakhiri hidupnya.
Salah satu guru YBR di UPTD SD Negeri Rutojawa, bernama Ibu Linda, mengungkapkan bahwa YBR adalah sosok anak yang cerdas, sopan, aktif, dan memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi daripada teman-teman sebayanya. Ibu Linda menuturkan bahwa terdapat salah satu teman sekelasnya yang dekat sekali dengan YBR yang juga berasal dari keluarga kurang mampu. Ketika kawannya tersebut mengalami kesulitan dalam memahami beberapa mata pelajaran, YBR akan proaktif membantunya memahami pelajaran itu bersama. Karena perilaku YBR yang cenderung aktif dan ceria di sekolah, tak ada satu pun yang mendeteksi bahwa kondisi mental YBR sedang tidak baik-baik saja.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMDP3A) Kabupaten Ngada, Philipus Ngei Botha, menjelaskan bahwa tragedi yang menimpa Ananda YBR disebabkan oleh faktor pemicu yang kompleks, yang dapat ditinjau dari karakter lingkungan tempat sang anak tinggal; baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun keluarga. Ia menegaskan bahwa motifnya tidak sesederhana soal tidak bisa membeli buku dan pena.
YBR adalah seorang anak yang hidup tanpa figur ayah sejak dalam kandungan. Ia dibesarkan dan tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah pondok bambu berukuran 2×3 meter, tidur di bawah penerangan lampu minyak, terpencil di tengah hamparan hutan dan area perkebunan desa. Sementara itu, ibunya bekerja serabutan dengan penghasilan maksimal Rp.50.000 per hari. Penghasilan itu harus dibagi untuk kebutuhan bersama dua kakak YBR lainnya: AFM (14 tahun) dan AN (17 tahun) yang sudah putus sekolah.
Kondisi ekonomi yang mencekik tersebut bahkan memaksa sang ibu terjerat pinjaman di koperasi dengan iuran Rp. 130.000 per minggu yang tak mudah dilunasi. Di tengah himpitan itu, YBR sendiri diketahui berjualan sayur pada guru-gurunya di sekolah dan menukar pembayaran tunai dengan iuran sekolahnya yang belum lunas. Situasi ini kurang lebih menggambarkan beban yang dipikul oleh YBR seorang diri dalam sunyi, di usianya yang masih 10 tahun.
Membaca Kekerasan Struktural di Balik Tragedi
Kesulitan ekonomi berupa kemiskinan ekstrim, serta minimnya akses pendidikan menjadi faktor-faktor yang saling berkelindan, dan berpotensi melahirkan tragedi seperti yang menimpa YBR. Temuan ini menjadi sebuah alarm bagi pemerintah untuk tidak lagi menunda kehadirannya untuk mewujudkan lingkungan yang aman bagi anak anak di tepian negeri, khususnya di Jerebuu.
Pasca tragedi YBR, utusan pemerintah pusat dan daerah memang bergerak cepat turun tangan memberi bantuan serta pendampingan bagi keluarga dan sekolah korban. Namun, ke depannya pemerintah diharapkan mampu bertindak tidak hanya sebagai pemadam kebakaran yang baru bergerak setelah api berkobar; baru menyapa setelah nyawa melayang. Jika tidak, dikhawatirkan nanti yang runtuh bukan hanya nyawa, melainkan juga semakin memudarnya kepercayaan publik (public trust issue).
Jika ditarik lebih jauh, realitas pahit ini hanya menyentuh puncak gunung es. Tragedi YBR menyingkap sebuah realita pahit berupa kesenjangan yang menganga dalam dunia pendidikan di Indonesia Timur. Kesenjangan ini, jika dilihat dalam kacamata sosiologis Johan Galtung, adalah salah satu manifestasi nyata dari kekerasan struktural; suatu kekerasan yang tidak membuat berdarah secara langsung, namun membunuh secara perlahan melalui kemiskinan ekstrem, isolasi geografis, dan pengabaian hak dasar terstruktur.
Meskipun berbagai kebijakan dari pusat telah diluncurkan, tantangan mengenai pemerataan kualitas pendidikan serta kesejahteraan tenaga pendidik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas di Indonesia. Perjalanan di Jerebuu dalam meninjau kasus ini menyisakan sebuah pertanyaan reflektif: Jika bukan karena tragedi kematian YBR yang menggemparkan nasional, akankah realitas di wilayah Jerebuu ini mampu menembus perhatian pemerintah dan nurani kita bersama?
Pada akhirnya, tragedi yang menimpa YBR menjadi titik balik yang menggugah nurani bangsa. Sudah saatnya untuk membenahi sistem pendidikan secara kolektif oleh lintas sektor, agar perlindungan dan pendidikan bagi anak bangsa dapat terwujud secara merata. Peristiwa memilukan ini menjadi alarm keras agar tidak membiarkan pengabaian sistemik terus berlanjut yang dapat memicu efek domino yang meruntuhkan harapan anak-anak lain di tepian negeri.
Editor: Ikrima


