Dalam beberapa tahun terakhir, istilah hidden gem semakin akrab di media sosial. Berbagai pantai, gunung, hingga destinasi wisata yang sebelumnya jarang dikenal kini mendadak ramai setelah diangkat oleh influencer maupun content creator. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang signifikan. Dalam memperkenalkan potensi wisata suatu daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Namun, promosi wisata juga perlu dilakukan secara adaptif, kreatif, dan informatif. Agar tidak hanya menarik minat wisatawan untuk berkunjung, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga kelestarian destinasi. Di balik meningkatnya popularitas tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan. Apakah setiap destinasi wisata yang viral benar-benar siap menghadapi lonjakan pengunjung tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat?
Pandangan tersebut semakin saya rasakan setelah mengikuti diskusi mengenai pariwisata berkelanjutan dalam kegiatan Impact Circle 13.0 AIESEC in Unila 2026. Dari diskusi tersebut, saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alamnya. Tetapi juga oleh bagaimana destinasi tersebut dikelola agar tetap memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian secara berkelanjutan.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa viralnya sebuah destinasi wisata yang dikenal sebagai hidden gem. Dapat memberikan dampak positif yang besar bagi masyarakat sekitar. Ramainya kunjungan wisatawan mampu menggerakkan perekonomian lokal melalui meningkatnya aktivitas usaha kuliner, penginapan. Maupun penjualan produk UMKM khas daerah, seperti kain tapis dan Kopi Lampung. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, perkembangan sektor pariwisata juga membuka peluang kerja baru bagi warga setempat.
Namun, manfaat tersebut sering kali membuat sebagian pihak terlalu berfokus pada peningkatan jumlah pengunjung tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan destinasi wisata itu sendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, lonjakan wisatawan berisiko menimbulkan berbagai permasalahan, seperti penumpukan sampah, kerusakan fasilitas, hingga terganggunya ekosistem setempat. Pada akhirnya, kondisi tersebut justru dapat mengurangi daya tarik wisata dan berdampak pada perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.
Selain itu, meningkatnya popularitas sebuah destinasi wisata juga dapat menimbulkan tekanan terhadap fasilitas dan sumber daya yang tersedia. Tidak semua destinasi wisata memiliki kapasitas yang memadai untuk menerima lonjakan pengunjung secara terus-menerus. Misalnya, meningkatnya jumlah wisatawan tanpa diimbangi fasilitas yang memadai dapat menyebabkan penumpukan sampah, kerusakan area wisata, serta menurunnya kenyamanan pengunjung.
Kondisi ini juga masih dapat dijumpai di Lampung yang memiliki beragam potensi wisata alam. Namun, sebagian destinasi masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur, pengelolaan, maupun fasilitas pendukung. Ironisnya, faktor yang membuat sebuah hidden gem menjadi populer justru dapat menjadi penyebab menurunnya kualitas destinasi tersebut apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan menjadi semakin penting untuk diterapkan. Konsep ini menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, pengembangan destinasi wisata tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengunjung.
Tetapi juga memperhatikan dampak jangka panjang yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini juga sejalan dengan Tujuan 8 Sustainable Development Goals (SDGs). Yaitu Decent Work and Economic Growth, yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja. Serta pengembangan sektor pariwisata yang bertanggung jawab.
Selain itu, tata kelola destinasi wisata yang baik juga memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Transparansi dalam pengelolaan dana, peningkatan kualitas fasilitas. Serta pengawasan terhadap praktik pungutan liar perlu menjadi perhatian bersama agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat maupun wisatawan.
Infrastruktur dan aksesibilitas yang memadai juga menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata. Destinasi wisata yang dikelola secara profesiona. Didukung fasilitas yang baik, serta memiliki akses yang memadai akan lebih mampu memberikan pengalaman positif bagi wisatawan. Sekaligus menarik minat investor untuk berkontribusi dalam pengembangannya. Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat berkelanjutan di masa depan.
Setiap unggahan, foto, dan video yang kita bagikan mungkin dapat membantu sebuah hidden gem dikenal lebih luas. Namun, di balik setiap konten yang viral, selalu ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa alam, masyarakat, dan budaya yang ada di dalamnya tetap terjaga. Karena pada akhirnya, destinasi wisata yang berkelanjutan bukan hanya tentang tempat yang ramai dikunjungi, tetapi juga tentang tempat yang tetap layak untuk dikunjungi, dinikmati, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Viralitas mungkin mendatangkan pengunjung tetapi tanggung jawablah yang menjaga keberlanjutan. Sebab, beyond the beauty, terdapat tanggung jawab untuk memastikan bahwa keindahan itu tetap ada di masa depan.
Editor: Anas


