Boleh Isbal Asal Tak Sombong - IBTimes.ID
Fatwa

Boleh Isbal Asal Tak Sombong

2 Mins read

Pernah ditemukan sebuah brosur yang dicetak rapi oleh kelompok Islam tertentu, di mana isi brosur itu: “Sholat kalau tertutup mata kaki (isbal), tidak sah, alias haram hukumnya. Benarkah demikian?

Hadis Seputar Isbal

Terdapat sejumlah hadis yang menerangkan bahwa menurunkan pakaian di bawah mata kaki (Isbal) hingga menyentuh tanah, dicela oleh syara’. tetapi harus diingat, “celaan itu berkaitan dengan sifat sombong/angkuh” dari si pemakai pakaian itu.

Dan hadis tentang Isbal sebenarnya berkaitan dengan adab/akhlak. Di bawah ini kami sebutkan sebahagian hadis-hadis itu, antara lain yaitu:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ. متفق عليه

Artinya: “Dari Ibnu Umar ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Allah tidak memandang kepada orang yang memanjang (menyeret) pakaiannya dalam keadaan sombong.” [HR al-Bukhari dan Muslim]

Dimaksud, tidak dipandang oleh Allah dengan pandangan kasih sayangnya artinya Allah tidak memberi rahmat kepada orang yang memanjangkan/menyeret celananya (sampai ke tanah) karena sombong/amgkuhnya itu, baik pria maupun wanita. Hal ini lebih jelas kalau dihubungkan dengan hadis lain riwayat al-Bukhari berikut ini:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فِى النَّارِ. رواه البخاري

Artinya: “Sesuatu yang berada di bawah dua mata kaki dari kain sarung itu di dalam neraka”

Yang dimaksud oleh hadis itu, yaitu orang yang memanjangkan kain sarungnya dalam neraka “karena kesombongan”. Hal itu menunjukkan orang yang memanjangkan pakaian sampai di bawah tumit atau menyentuh tanah, kalau tanpa disertai sifat sombong, maka tidak termasuk dalam ancaman itu.

Hal tersebut dijelaskan oleh hadis lain riwayat al-Bukhari, Abu Daud dan an-Nasa’i, bahwa Abu Bakar ra berkata kepada Nabi saw setelah mendengar hadis tersebut: “Sesungguhnya kain sarungku selalu melorot ke bawah kecuali saya menaikkannya”, lalu Rasulullah saw menjawab kepada Abu Bakar ra:

Baca Juga  Bolehkah Menghias Masjid dengan Kaligrafi?

“Sesungguhnya engkau bukan termasuk yang melakukanya dengan sombong.”

Begitu juga hadis Nabi saw riwayat Abu Daud dari sahabat Ibnu Mas’ud:

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِى صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ فِى حَلٍّ وَلَا حَرَامٍ. رواه أبو داود

Artinya: “Barangsiapa yang memanjangkan sarungnya dalam shalatnya karena sombong, maka ia di hadapan Allah seperti orang yang tidak mengenal halal dan haram.”

Dalam melihat hadis soal menawarkan pakaian di bawah mata kaki, yang popular dengan istilah isbal, kita haruslah mengumpulkan hadis-hadis tersebut baik yang illat-nya dengan jelas disebutkan, yaitu “sombong” atau hadis-hadis yang tidak menyebut illat-nya.

Baca Juga: Inilah Konsep Pacaran Menurut Islam

Kemudian dalam kita menetapkan hukum (istinbat), tidak boleh menurut apa adanya. Tetapi kepada muqayyad dengan sifat khuyala (sombong) harus dihubungkan dengan lafaz mutlak yang tidak menyebutkan illat-nya.

Di sini kita perlu memakai kaidah hukum yang dipakai ulama ushul fikih/para ahli ijtihad, yaitu:

حَمْلُ اْلمُطْلَقِ عَلَى اْلمُقَيَّدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مُقَيَّدَانِ مُتَضَادَّيْنِ أَوْ مُخْتَلِفَيْنِ، فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ مُقَيَّدَانِ فَلاَ يُحْمَلُ اْلمُطْلَقُ عَلَى اْلمُقَيَّد

Artinya: “Lafaz mutlak dibawa kepada muqayyad dengan ketentuan di situ dua muqayyad itu tidak paradok/berbeda. Jika berbeda maka muqayyad itu tidak dibawa kepada yang mutlak. Contohnya cukup banyak, bisa dilihat di dalam al-Qur’an dan di dalam hadis.” [baca kitab ushul fikih bab Mutlak dan Muqayyad]

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pemahaman yang dilakukan oleh pengarang brosur itu, walaupun hadis-hadis yang dinukilkan benar dan shohih, tetapi keliru dalam cara penetapan hukumnya, yaitu mereka tidak memperhatikan illat yang di-nash-kan (disebutkan) dalam hadis itu.

Baca Juga  Bolehkah Mendirikan Bangunan di Atas Makam?

Serta tidak menjabarkan istinbat yang lazim dipakai para pakar hukum Islam. Yaitu apabila bertemu lafaz mutlak dan muqayyad, maka lafaz mutlak harus dibawa/ditarik kepada yang muqayyad.

Dikatakan oleh ash-Shan’aniy (pengarang kitab Subulus-Salam): “Pakaian yang lebih dari itu (artinya menutupi mata kaki) sesungguhnya tidak berdosa bagi pelakunya dan pakaian yang lebih dari kedua mata kaki, itu baru haram kalau pemakaiannya untuk kesombongan/keangkuhan”.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga duduk persoalannya menjadi jelas bagi kita semua dan tidak lagi terombang-ambing oleh cara penetapan hukum (istinbat) yang tidak benar itu.

 

Sumber: Suara Muhammadiyah No. 3 tahun ke-87 1422 / 2002

Lihat Juga: www.tarjih.or.id

Related posts
Fatwa

Hukum Suap, Menyikapi Serangan Fajar Menjelang Pilkada Serentak

2 Mins read
Pada 9 Desember 2020 nanti, Indonesia melaksanakan Pilkada serentak yang diikuti oleh beberapa Kabupaten/Kota. Banyak cara yang akan dilaksanakan oleh paslon untuk…
Fatwa

Membaca Al-Qur'an dengan Pengeras Suara, Gangguan atau Berkah?

3 Mins read
Sudah menjadi kebiasaan di beberapa daerah jika kita mendengarkan bacaan Alquran yang diputar dari masjid-masjid menggunakan pengeras suara. Beberapa masjid selalu memutar…
Fatwa

Makna Gelar Almarhum dan Almarhumah

2 Mins read
Seseorang yang sudah meninggal dunia sering diberikan gelar dengan almarhum untuk laki-laki dan almarhumah untuk perempuan. Ada juga sebagian yang menggunakan gelar…

Tinggalkan Balasan