Bom Waktu PDB

 Bom Waktu PDB
Ilustrasi. Sumber: Kineruku.com            

Oleh: La Halufi*

Kedikdayaan Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai alat ukur pertumbuhan ekonomi memang tak bisa disangkal lagi. PDB merupakan alat ukur untuk mengukur  nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam rentang waktu tertentu.

Ada tiga cara yang digunakan untuk mengukur PDB. Pertama, pendekatan pengeluaran yang digunakan untuk menghitung jumlah seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh pemakai barang.

Kedua, penghitungan pendapatan dan pengeluaran yang digunakaan selama proses produksi (pendekatan pendapatan). Ketiga, pengukuran jumlah nilai tambah dari setiap tahapan produksi (pendekatan nilai tambah).

Semenjak awal kelahirannya dengan sebutan neraca ekonomi nasional (Pendapatan Nasional) dengan tugas mengukur kesejahteraan masyarakat Irlandia. Hal itu telah menjadi cikal bakal awal pengukuran pertumbuhan ekonomi dan kemudian dikembangkan oleh Kuznets di Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II. Hal yang sama juga dilakukan untuk mengukur kemampuan perekonomian AS untuk ikut terlibat dalam perang.

Keberhasilan pengukuran statistik ini menjadikan AS sebagai role model bagi negara-negara lain. Kemudian metodologi pengukuran tersebut diadopsi oleh semua negara yang ada dibelahan bumi ini.

PDB telah menjadi kiblat perumusan dan pengambilan kebijkan pemerintah dalam pengembangan negara. Juga sebagai rujukan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Hal ini kemudian menyebabkan gelombang protes dari para politisi sebab peran mereka dalam hal kebijakan telah diambil alih oleh para ekonom. Dengan data statistika yang ada secara tidak langsung.

Masalah PDB

Seiring dengan perkembangannya yang makin pesat sampai saat ini, Kuznets yang merupakan inisiator pengukuran Pendapatan Nasional (PDB) telah menyampaikan jauh-jauh hari bahwa ada hal yang telah disalah gunakan dan dimanupulasi dari PDB untuk kepentingan politik.

Umumnya penghitungan dan pertumbuhan PDB (dari dulu sampai saat ini) merupakan representasi dari tingkat kesejahteraan masyarakat dalam suatu Negara. Jika pertumbuhan PDBnya baik maka tingkat kesejahteraan masyrakatnya juga baik dan begitu pula sebaliknya.

Hal ini kemudian mendapatkan perhatian penting dari Kuznets seperti yang tertuang dalam buku Problem Domestik Bruto halaman 65 bahwa “Kesejahteraan suatu bangsa hampir tidak dapat disimpulkan dari sebuah ukuran pendapatan nasional”.

Jika berkaca pada realitas kehidupan saat ini, hasil perhitungan PDB yang katanya alat ukur yang sangat dikdaya dalam kelasnya, menyimpan kejanggalan. Sebab, tolak ukur tingkat kesejahteraan mengacu pada PDB.

Mulai dari tingkat kesenjangan kehidupan antar umat manusia (kaya dan miskin) yang makin meningkat. Kemiskinan yang tidak mampu diatasi secara menyeluruh, akses pendidikan yang sangat susah dan sebagainya. Semua aspek tersebut sangat bertolak belakang jika merujuk pada PDB.

Yang lebih mencengangkan lagi, aspek-aspek tersebut tidak dimasukan dalam perhitungan PDB. Sebab menurut PDB, poin-poin tersebut tidak melalui mekanisme pasar. Atau dengan kata lain,  bahwa hal tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang benilai ekonomis. Hal ini juga berlaku untuk lingkungan atau sumber daya alam.

Yang Luput dari PDB

Masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia terkait persoalan lingkungan yang dipublikasi oleh Watch doc. Di mana perusahaan atau industri yang wilayah operasinya berada dikawasan hutan, mengabaikan pemulihan wilayah tersebut. Apalagi menelan korban manusia yang cukup banyak.

Namun semua hal ini diabaikan oleh perhitungan statistic PDB sebagai tolak ukur pertumbuhan ekonomi dan juga tingkat kesejahteraan masyarakat. Padahal SDA merupakan hal yang krusial bagi produsen dan konsumen.

Pertumbuhan PDB meberikan isyarat agar masyarakat meningkatkan konsumsi mereka agar pertumbuhan PDB makin meningkat. Hal ini juga menjadi motivasi dan mendorong pertumbuhan industri untuk bertambah besar dan lebih subur lagi. Dengan dalih pertumbuhan ekonomi.

Akibatnya manusia dan lingkungan juga menjadi sasaran utama selaku penyedia faktor produksi. Juga sebagai pemasok barang dan jasa sehingga eksploitasi terhadap keduanya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Manusia harus bekerja agar bisa menyediakan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan pasar dan SDA juga makin terkikis keberadaannya.

Akibat tuntutan pertumbuhan industry, diprediksi jika awal 2050 hingga 2070 kekurangan global dalam hal SDA akan terjadi seperti yang tertuang dalam buku The Limit to Growth. Hal ini diperkuat oleh data yang dikeluarkan oleh Beyond GDP New measures for a New Economiy (New York : Damos 2012), bahwa PDB makin meningkat dari tahun ke tahun.

Sementara SDA mengalami degradasi dan penurunan yang tiap tahunnya. Hal inilah menjadi tantangan besar umat manusia terlebih lagi mereka kaum kapitalis, pemerintah dan semua komponen masyarakat bumi. Untuk bagaimana bisa meminimalisir masalah ini sebab kondisi ini makin membahayakan kehidupan di bumi.

 

*Pegiat Rumah Baca Komunitas (RBK)


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam. Kanal media multiplatform yang menyediakan wacana Islam Rahmatan lil Alamin secara aktual, mendalam, dan mencerahkan

Related post

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.