Buya Hamka: Negara Islam - IBTimes.ID
Perspektif

Buya Hamka: Negara Islam

7 Mins read

Beberapa orang saudara di antaranya, yaitu Tuan Zainal Abidin Ahmad dan Tuan Abdul Malik Ahmad, pernah menyatakan kepada saya kekecewaan pergerakan Islam. Karena belum banyak dikarangkan orang buku tuntunan cita-cita bernegara Islam itu. Saudara Abdul Malik Ahmad pernah berkata: Alangkah baiknya kalau sekiranya Tuan Guru (Buya Hamka) susunkan buku tuntunan dari hal Negara Islam itu.

Soal pemerintahan atau Negara Islam itu, saya sendiri juga merasa kekurangan. Di dalam tarikh-tarikh Islam (pada masa Nabi dan Khalifah-khalifahnya) yang lebih banyak dibicarakan hanya soal peperangan. Hanya Ibu Khaldun yang banyak menulis di dalam Muqaddimah tarikhnya tentang bentuk-bentuk pemerintahan Islam. Itu pun jika dibaca pada masa ini, tidak pula semua dapat dipakai. Misalnya, tentang khalifah.

Edaran masa dan kebangunan dunia Islam di dalam abad kedua puluh ini menyebabkan pemerintahan berkhalifah itu tidak dapat dipakai lagi pada masa sekarang. Riwayat dunia Islam berkhalifah telah habis semenjak Kemal Attaturk menghapuskan jabatan (khalifah) itu dari Turki. Dan ahli-ahli pemerintahan zaman baru tidak ada lagi yang mau menghilangkan temponya buat menyeru kaum Muslimin akan mendirikan khalifah kembali. Dan Syekh Muhammad Abduh pernah menyatakan jaman khalifah Turki masih ada, Imam kaum Muslimin hanya al-Qur’an.

Jadi, soal pemerintahan (negara) Islam sudah lama benar; sejak Kemal Attaturk menghapus (sistem) Khalifah dari Turki, tidak mencapai kemajuan  dalam dunia Islam. Ulama-ulama Islam beratus tahun lamanya hanya rintang (terikat) dengan kitab-kitab yang telah ada. Tidak ada keberanian memperluas penyelidikan. Kitab-kitab fikih yang terbagi kepada empat rubu-rubu; ibadat, mu’amalah, munakahat, dan jinayat.

Mula-mulanya adalah ijtihad, yaitu hasil kesungguhan usaha menyelidiki, menganalisis, mengistinbath, mengupas daripada al-Qur’an dan as-Sunnah. Cara penyelidikan itu terbagi 4 (empat), yaitu cara Imam Malik bin Anas, Abu Hanifah an-Nu’man, Muhammad bin Idris as-Syafi’i, dan Muhammad bin Hanbal.

Ilmu fikih, artinya ilmu berpaham. Di dalam ilmu itulah diatur ibadah mulai dari sembahyang (shalat), lalu kepada Haji. Diatur juga ilmu Mu’amalah, yaitu berkenaan dengan pergaulan hidup, jual beli, pagang gadai, perkongsian, pinjam dan sewa, dan lain-lain. Ilmu munakahat, yaitu ilmunikah kawin, talak dan rujuk, wasiat dan waris, dan lain-lain. Rubu keempat ialah dari hal hukum siksa, hukum mencuri, merampok, berzina, minum khamr, dan lain-lain. Di belakang itu, ditambahkan juga dari hal memilih imam, dari hal pemerintahan, membuat perjanjian dengan negeri lain, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, maka nyatalah bahwasannya ilmu fikih itu belum tersusun di zaman Nabi dan di zaman pemerintahan khalifah-khalifahnya yang berempat (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali), dari pada satu masa kepada masa yang lain. Barulah fikih tersusun, yaitu pada setelah dunia Islam bertambah luas, pengalamannya bertambah banyak, dan percampurannya dengan bangsa-bangsa lain telah banyak pula. Maka itulah perlu disusun fikih khalifah, yaitu fikih yang siyasah.

Imam Malik memulai usahanya menyusun kitab al-Muwattha di negeri Madinah. Khalifah Abu Ja’far al-Mansur amat bersenang hati melihat usaha beliau. Syafi’i belajar pula kepada Imam Malik. Sementara Imam Malik menyusun fikihnya berdasar kepada pengalamannya di dalam pergaulannya di Madinah. Imam Hanafi memulai pula menyatakan pahamnya berdasar kepada pengalamannya di negeri Irak. Sementara Imam Syafi’i berguru kepada Imam Malik di negeri Madinah. Dan Ahmad bin Hanbal berguru pula pada Imam as-Syafi’i. Pendapatan-pendapatan dan ijtihad daripada keempat Imam ahli Islam itu, dengan terang-terang mereka katakan fikih namanya. Artinya hasil paham, hasil pendapatan, hasil kesungguhan ijtihad.

Baca Juga  Laki-laki Juga Sumber Fitnah, Mengapa Hanya Foto Perempuan yang Diblur?

Sebab itu, tidak ada yang yakin melainkan zhanny semata. Yaitu, pendapatan yang boleh dibanding, boleh ditukar dengan pendapatan yang lebih benar. Mereka tetap mengakui bahwasannya tempat kembali yang sebenarnya hanya al-Qur’an. Sesudah itu ialah as-Sunnah yang shahih; sunnah yang terang dan jelas dari Nabi Muhammad SAW. Adapun pendapatan mereka itu, boleh dibantah dan ditolak dan ditukar dengan yang lebih benar. Hasil ijtihad keempat Imam itu ternyata berlain-lain jalannya, karena cara mereka memahamkan tidak pula sama.

Oleh karena itu, di dalam penyusunan pemerintahan Negara Islam, kita tidak akan dapat memakai kitab fikih sebagai dasar, tidak bisa. Ulama-ulama fikih belum banyak tahu pemerintahan demokrasi. Kitab-kitab fikih yang berlain-lainan itu lebih sering membicarakan dari hal ta’at kepada Imam (pemimpin). Kaum Ahlussunah wal-Jama’ah (Sunni) yang di dalamnya para Imam fikih berempat itu menghendaki supaya Imam itu hendaklah daripada Quraisy. Kitab-kitab fikih tidak ada membicarakan dari hal pemerintahan republik, paling tingginya hanya soal khalifah. Sedangkan khalifah itu sekarang tidak ada lagi. Beberapa Ulama jumud di negeri-negeri kecil yang masih memakai raja-raja atau sulthan-sulthan sebagai di Sumatera Timur atau di Tanah Melayu berpegang teguh kepada ujung-ujung kitab fikih itu, untuk mempertahankan raja-rajanya, jangan sampai dijatuhkan dari singgasananya oleh rakyat.

Padahal itu hanya kitab fikih, bukan al-Qur’an. Al-Qur’an atau perbuatan Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan kebebasan kepada umat Islam memilih bentuk pemerintahan menurut apa yang cocok dengan jamannya. Apakah sebabnya kitab fikih tidak membuka soal itu?

Sebab, belum ada karangan fikih yang dikarang baru, belum ada kitab fikih modern sejak Kemal Attaturk menumbangkan sultan-sultan atau kekhalifahan di Turki. Maka untuk pemerintahan Islam di zaman tamaddun (berkemajuan) ini, kita wajib berani meletakkan kitab fikih ke tepian meja dan terus mengambil daripada al-Qur’an dan as-Sunnah belaka. Sebab, di dalam kitab-kitab fikih itu belum ada Ulama dahulu mengupas soal Negara Islam menurut bentuk yang ada sekarang ini. Kalau fikih yang itu juga yang kita turutkan tentu kita kelam. Maka bentuk Negara Islam yang saya karangkan sekarang ini, tegasnya yang menjadi cita-cita daripada tiap kaum Muslimin, dasarnya diambil daripada al-Qur’an semata-mata, dan dicontohkan dengan kemajuan pemerintahan yang telah dicapai oleh dunia pada masa ini, sejak dunia mengakui hak manusia yang luhur.

Dengan bekal al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW telah berhasil membentuk satu negara, Negara Islam. Negara yang menang setelah menaklukkan kota Makkah yang dalam penjajahan bangsa jahiliyah yang sejak Nabi Muhammad SAW menjadi Rasulullah terus-menerus melancarkan perlawanan dengan berbagai cara. Indonesia, adalah negara yang menang, menang dari penjajahan. Indonesia haruslah menjadi Negara Islam, negara yang menang menaklukkan penjajahan.

Baca Juga  Buya Hamka: Menulis Berarti Menggubah untuk Mengubah

Seorang ahli tarikh bangsa Perancis, Gustave Le Bon, pernah menyatakan rasa kagumnya ahli-ahli penyelidik tentang kebesaran Nabi Muhammad SAW.  Beliau telah sanggup dengan sekaligus menciptakan 3 (tiga) pekerjaan besar; membawa sebuah agama, membentuk suatu bangsa, dan mendirikan sebuah Negara. Beliau Nabi, beliau pemimpin, dan beliau juga politikus besar yang tidak ada taranya. Beliau membawa satu “kebenaran” ke dalam alam, dan untuk menegakkan kebenaran beliau telah berjuang, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Kepada orang yang ingkar, yang menolak kebenaran, hanya semata-mata karena hendak mempertahankan yang lama, beliau lakukan sikap yang tegas dan keras. Kalau perlu beliau angkat senjata buat mempertahankan kebenaran yang dibawanya itu. Kebenaran harus dipertahankan dengan kekuatan. Kekuatan itulah yang dibentuknya.

Cita-cita Nabi Muhammad Saw ialah Islam itu nyata di atas segala agama. Kebenaran Islam itu memang di alam dunia, di alam pikiran, dan kehidupan manusia dalam bernegara. Berpuluh kali terjadi perjuangan dengan golongan yang menolak kebenaran Islam. Beliau berjuang. Beliau membanting tulang, menyediakan segenap hidupnya untuk titah Tuhannya itu, sehingga tiada kesempatan lagi beliau akan mencari kesenangan untuk dirinya sendiri.

Di negeri Makkah pada permulaan kebangunannya, Nabi Muhammad SAW mendapat halangan besar dari kaumnya, lalu beliau pindah ke negeri Madinah. Cita-cita beliau yang paling utama ialah menjadikan Mekkah sebagai pusat Tauhid, mengembalikan kebesaran Ka’abatan (Ka’bah) yang asli sebagai telaga Tauhid bagi seluruh alam semesta. Untuk itu, beliau bersedia keluar dari kampung tempat beliau dilahirkan itu, karena bersedia pula untuk menyusun kekuatan akan  menaklukkan itu di kemudian hari, yang akhirnya setelah 10 (sepuluh) tahun beliau duduk di Madinah. Maksudnya itu merasa berhasil dengan jayanya. Beliau diusir dari Mekkah dan keluar dari sana dan teman sejawatnya keluar pula dengan sembunyi-sembunyi. Tetapi akhirnya beliau dan para sahabatnya datang lagi dengan penuh kebesaran dan membawa kebenaran.

Dengan jelas, Nabi mengatakan, bahwa kebenaran itu setelah beroleh kemenangan, yakni setelah Mekkah takluk, sudah boleh dijadikan timbangan yang adil oleh isi alam. “Tidak ada paksaan dalam perkara agama, sudah jelas nyata mana perkara yang bijaksana dan mana perkara yang gelap bagi pikiran”. Dunia mesti menerima kebenaran itu kalau dia sudi mempergunakan pikirannya. Sebab itu, maka al-Qur’an menganjurkan manusia mempergunakan pikiran itu, mempertinggi kecerdasan akalnya, dan memperdalam ilmunya. Mukjizat Nabi Muhammad SAW bukanlah lagi perkara membelah laut, berjalan di atas air, atau mengeluarkan unta dari dalam batu. Mukjizat Nabi Muhammad SAW ialah mengetok pintu pikiran para insani  di zaman kemajuan pikiran.

Tegaknya kebenaran itulah cita-cita kita di dalam Negara Indonesia Yang Merdeka ini. Bukanlah perkara tetek-bengek yang akan kita suruh uruskan kepada Negara. Kita tidak hendak mengukur Negara yang terdiri di pertengahan abad kedua puluh dengan kitab fikih karangan Ulama untuk abad yang kesepuluh dahulu kala. Kita tidak akan memaksa-maksa dunia mesti memeluk Islam dengan pedang terhunus di dalam tangan. Kita tidak hendak menipudayakan saudara sesama warga Negara yang berlain agama supaya memeluk agama Islam. Kita tidak hendak membelokkan isi Undang-undang Dasar Negera Republik Indonesia (UUD 1945) supaya ditulis Agama Negara ialah Islam.” Kalau lantaran perkataan itu akan terkecewa rasa hatinya saudara kita setanah air. Sebab, Nabi pernah mengatakan, bahwa barang siapa yang menyakiti orang dzimmi, sama artinya dengan menyakiti diri Nabi sendiri. Tapi kita akan berbuat lebih daripada itu, yaitu pengaruh kebenaran Tuhan harus terbukti di dalam Negara kita karena kehidupan umat kita.

Baca Juga  Get The Boot A Birds Eye Look Into Mcse Boot Camps

Di dalam Negara Islam, tegak suatu keadilan dan suatu kebenaran. Negara Islam tidak dilambangi atau ditandai oleh sistem tertentu, tidak ditandai oleh wilayah belahan dunia, baik Asia, Asia Timur, Erofa, Timur Tengah, Timur Jauh, ataupun belahan dunia yang lain. Negara Islam juga tidak ditentukan oleh sistem pemerintahan, baik itu republik ataupun kerajaan, atau kekhalifahan. Di dalam Negara Islam, yang paling utama adalah tegaknya kebenaran dan keadilan.

Di dalam Negara Islam adalah ibarat darussalam. Ibarat rumah yang mendamaikan, ibarat rumah yang menyenangkan, ibarat rumah yang menenteramkan. Di dalam Negara Islam, orang yang kuat melindungi yang lemah, dan yang lemah mendapat perlindungan daripada yang kuat. Dalam Negara Islam keamanan melindungi bagi segenap warga Negara. Sehingga aman seorang perempuan muda berjalan seorang diri dari hijrah ke tanah suci Mekkah, dengan tak usah berteman.

Di dalam Negara Islam hidup rukun dan damai di antara pemeluk segala agama, sama-sama patuh mengerjakan agama masing-masing, sama-sama bertahan membela kemerdekaan tanah airnya daipada gangguan bangsa manusia yang zalim. “Kalau tidak ada pertahanan manusia atas gangguan manusia tentulah runtuh biara tempat pendeta pertekun, geredja, tempat lonceng berbunyi, masjid tempat Muslim berazan, tempat menghimbau nama Tuhan”, Tuhan Yang Maha Esa.

Maka marilah kita bersama berusaha bersama-sama wahai pemeluk agama Islam, terutama angkatan muda dalam Islam, mencapai maksud yang mulia itu. Yaitu membina Negara Republik Indonesia menjadi suatu Negara Ketuhanan Yang Maha Esa, Negara yang mempertahankan keadilan dan kebenaran, cinta-mencintai, kasih mengasihi, mencari yang lebih sempurna, melindungi yang lemah, dan tidak berlaku paksa dalam agama. Itulah dia, Negara Islam, dan itulah yang diserukan Tuhan dalam firman-Nya Walahu yad’ukum ila daris salam! Allah menyerumu semua menuju suatu Negara yang Berbahagia!

* Ditulis-turunkan kembali oleh : Noor Chozin Agham, dari : Hamka,  Negara Islam, Anwar Rasjid, Padang Pandjang, 1946, halaman 3-11, 98-104, dan: Prof. Dr. Hamka, Agama dan Negara, dalam Islam Revolusi dan Ideologi, Gema Insani, Jakarta, 2018, halaman 109.

Avatar
6 posts

About author
Noor Chozin Agham, dosen UHAMKA dan UMT Indonesia, Penulis Buku : ISLAM BERKEMAJUAN gaya MUHAMMADIYAH - Telaah terhadap Akidah, Akhlak, Ibadah, dan Mu'amalah Duniawiyah - UHAMKA Press, 2015
Articles
Related posts
Perspektif

Bisakah Ramadhan Menyelamatkan Indonesia?

5 Mins read
Datangnya Ramadhan Tantangan dan ujian terasa sudah menyatu dengan kehidupan. Tak ada hidup tanpa di dalamnya juga terisi dengan problematika. Kita yang…
Perspektif

Isu Terorisme: Soal Agama atau Ketidakadilan?

3 Mins read
Membaca “Islam Radikal” Banyak orang yang memberikan perspektif mengenai kekeliruan dalam melihat soal terorisme dan kaitannya dengan Islam yang memang tidak pernah…
Perspektif

Bagaimana Terorisme Memanfaatkan Media Baru?

3 Mins read
Rangkaian Aksi Teror Ada empat aksi teror bom setelah kejadian di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton tahun 2009, yakni: teror bom…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa