Cerita Mu’alaf Dosmauli S: Dulu Benci Kini Pejuang Islam

 Cerita Mu’alaf Dosmauli S: Dulu Benci Kini Pejuang Islam
Dosmauli S (tengah menggendong balita), kini aktif membina para mualaf di pedalaman Merbabu. Foto: republika.co.id            

Awalnya, perempuan bernama lengkap Dosmauli Simbolon ini sangat membenci Islam. Bahkan dia juga membenci wanita berhijab.

Kebenciannya terhadap Islam dan para pemeluknya itu diwujudkan dengan aksi nyata. Setelah suaminya meninggal dia aktif di sebuah gereja di Karawang. Namun ketika anaknya berusia tujuh tahun dia dipindahkan ke Sleman, Yogyakarta selama tiga tahun.

“Setiap Ahad, saya naik gunung untuk menginjili penduduk sana bahkan memurtadkan warga setempat,” jelas perempuan yang akrab disapa Uli ini, sebagaimana dikutip Republika.co.id dari Harian Republika.

Namun hidayah Allah SWT bisa diberikan kepada siapapun dengan jalan yang tidak pernah dia duga. Perempuan kelahiran Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatra utara ini justru mendapatkan hidayah setelah tiga tahun menjadi penginjil di Sleman. 

Sederhana, dia tergerak hatinya untuk lebih jauh mengenal Islam ketika menonton sebuah sinetron di salah satu stasiun televisi. “Saya melihat sebuah keluarga Muslim di sinetron yang bersabar dan tetap taat menjalankan ibadah meski kesulitan dialami,” jelas dia.

Istrinya tetap lemah lembut dan suaminya tetap bekerja sebagai pemulung. Tetapi lambat laun keluarga itu mendapatkan buah kesabaran. Meski mereka hidup di fitnah dan dihina. Akhir hidupnya mereka bisa hidup sejahtera, sedangkan orang yang menghina dan memfitnah mereka mendapat balasannya.

Kisah ini membuatnya sadar, bahwa Allah SWT, Tuhannya Islam itu tidak tidur, itu yang sebelumnya Uli yakini. “Saya merasa menjadi Muslim itu enak, karena Allah melihat dan membalas kebaikan bagi umatnya yang baik dan yang jahat pun akan dibalas,” ujar dia.

Pada 2014, Uli pun menguatkan niat untuk bersyahadat. Islam membuatnya tenang dan damai. Setelah bersyahadat, Uli berusaha untuk mengajak anaknya.

Namun satu bulan setelah dia menjadi mualaf, anaknya menolak untuk bersyahadat. Setelah sebulan, Johanes anaknya yang duduk di bangku kelas lima SD memeluk Islam.

Namun dia harus rela putus hubungan dengan keluarganya. Jelas saja, karena keluarganya tidak menyetujui kepindahan keyakinannya menjadi Muslim. Karena adat tentu saja tak dapat lagi dijalankan.

“Saya tidak terlalu ambil pusing karena saya berkeyakinan agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku,” ujar dia.

Setelah menjadi mualaf, Uli memberanikan diri untuk membuka lembaran baru. Dia menikah dengan seorang lelaki Muslim.

“Saya berharap mendapat suami yang bisa menjadi imam untuk saya dan anak saya, namun Allah menakdirkan hal berbeda, pernikahan kedua saya hanya bertahan beberapa bulan saja,” tutur dia.

Setelah menjadi mualaf, ini adalah ujian pertamanya yang terasa berat dipikul. Setelah bercerai, dia harus rela tidak memiliki tempat tinggal dan tidur di masjid berdua dengan anaknya.

Sejak saat itu, selama dua tahun dia mendapat ujian bertubi-tubi. Dia harus belajar sendiri untuk mengaji, beribadah, dan hukum syariat lainnya bersama anaknya.

Uli bersyukur, ujian tersebut dapat dilaluinya. Allah SWT memberikan jalan keluar. Dia bisa menyelesaikan pernikahan terdahulu di pengadilan.

Setelahnya, dia dipertemukan pria yang mampu menjadi imam. Sujatman, suaminya saat ini mampu membimbingnya sesuai syariat Islam. Bahkan suaminya mendukungnya untuk terjun di dunia dakwah. Dia berharap dapat terus berjuang untuk agama Islam.

Kini dia bersyukur anaknya menempuh pendidikan di pondok pesantren dan telah mampu menghafal Alquran hingga tiga juz.

Hidupnya dihabiskan untuk mengabdi pada agama dan suami. Jika tidak sedang berdakwah, dia sibukkan untuk menjaga kios miliknya.

Uli, kini aktif di berbagai komunitas Islam khususnya komunitas mualaf. Dia merupakan Ketua Ukhuwah Mualaf Indonesia (UMI).

Komunitas ini bergerak untuk membina mualaf dan umat Islam yang rawan akidah. 

Tak hanya sekali atau dua kali dalam sepekan. Ada sekitar 13 lokasi yang harus mereka datangi, sehingga harus dijadwal hampir setiap hari. 

Bahkan, dalam sehari kadang mereka harus mengajar di dua lokasi. Lokasinya pun berjauhan dengan medan jalan yang cukup menantang.

“Para relawan atau ibu-ibu yang tergabung dalam UMI ini pun tempat tinggalnya berjauhan. Jadi setiap hari kami jemput satu per satu dari rumah mereka kemudian diantar ke lokasi belajar,” kata Uli. 

Uli juga bercerita mengenai kisah dakwah di daerah lainnya. Seperti di Cuntel Kopeng. Mereka belajar mengaji bersama. Ukhuwah Mualaf Indonesia (UMI) membina jamaah di dusun Cuntel ini setiap Jumat, mulai pukul 14.30-16.00 WIB. “Alhamdulillah, saat ini jamaahnya semangat belajar, dengan adanya program UMI. Karena mereka juga sangat senang jika bisa baca Alquran,” jelas dia.  

Dia berusaha merangkul bagi siapa saja yang mau belajar agar bisa membaca Alquran, baik itu yang mualaf dan yang Islam dari lahir. Sudah satu tahun lebih mereka membina umat Islam di wilayah ini.

Uli berharap dia bisa tetap istiqamah. Dusun Cuntel merupakan desa terakhir di lereng Merbabu. “Kita berusaha merangkul yang Muslim, supaya Akidah mereka tidak goyah dan tetap kuat,”ujar dia.

Sumber: Republika 


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam

Related post

3 Comments

    Avatar
  • I just want to mention I’m newbie to blogs and certainly enjoyed your website. Almost certainly I’m planning to bookmark your site . You really have really good posts. Thanks a lot for sharing your website page.

  • Avatar
  • The next time I check out a blog, I wish that it doesn’t dissatisfy me as high as this. I mean, I understand it was my selection to check out, however I in fact thought youd have something fascinating to say. All I hear is a lot of grumbling concerning something that you could repair if you werent as well busy seeking interest.

  • Avatar
  • I would like to convey my admiration for your generosity in support of men and women that have the need for help with this particular concern. Your special dedication to getting the message all over had been wonderfully productive and have all the time made professionals much like me to attain their dreams. Your own invaluable tutorial means a great deal to me and additionally to my office workers. Thank you; from everyone of us.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.