Ciri Orang Beriman, Tetap Waras di Zaman Edan - IBTimes.ID
Perspektif

Ciri Orang Beriman, Tetap Waras di Zaman Edan

3 Mins read

Ciri orang beriman pada hari ini perlu dipertanyakan, bagaimana tidak? Di tengah pusaran arus digitalisasi dan perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, hidup terasa seperti rumah kaca (serba transparan). Kebahagiaan dan kesedihan pun seperti entitas yang tidak terjadi secara natural dan mengalami distorsi nilai yang akut. Imbasnya, banyak orang krisis identitas dan tidak menjadi pribadi yang autentik.

Diskursus Mengejar Kesuksesan

Dalam zaman yang disruptif nan manipulatif ini pun, berlomba-lomba menuju kesuksesan adalah hal yang wajib. Dan haram hukumnya jika hidup tidak berdasar pada standar kesuksesan yang ditetapkan oleh rekaan sosial media dan standar sosial yang fasik.

Sialnya, standar ini diamini mayoritas individu (tak bernalar dan beriman). Sukses menurut mayoritas golongan ini ialah: cepat lulus kuliah, bergaji besar, punya rumah dan mobil mewah, beranak pinak, hingga akhirnya mati.

Sungguh tragis bukan? Hidup sekali dan mati itu pasti. Namun, siklus hidup yang dijalani hanya dihabiskan dengan menghamba pada materialisme, dan enggan mengabdi pada nilai-nilai ketauhidan. Inilah ironi manusia modern, menjadi gila dunia akibat matinya kewarasan iman dan berlagak seperti Tuhan.

Lantas, bagaimana menjadi waras dalam bingkai keimanan yang utuh? Mari kita bahas.

Optimalisasi Ibadah Adalah Kunci

Jika kita menilik tujuan Allah menciptakan manusia sebagaimana yang tertulis dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, maka harusnya kita paham akan tugas kita di muka bumi ini. Beribadah, begitulah kita ditugaskan, tentu konteks ibadah adalah praktik yang universal.

Lebih eksplisit lagi, sebagaimana tertuang dalam QS. Al Baqarah: 30, bahwa manusia adalah khalifah fil ardh (wakil Allah bumi). Wajib hukumnya bagi kita membumikan sifat-sifat Allah di muka bumi dalam bentuk lelaku kita. Oleh karenanya itu, maka kita dituntut ber-ama’ruf nahi mungkar sebagaimana perintah Allah juga dalam QS. Ali-Imran: 104.

Baca Juga  Jangan Jadi Muhammadiyah Terserah!

Meskipun sudah banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan soal tujuan penciptaan manusia. Realitasnya banyak manusia yang mengesampingkan perintah yang justru terjerembab ke dalam indahnya tarian iblis berbentuk nafsu yang berlebihan. Inilah penghambaan manusia modern saat ini yang picik, keliru dan jauh dari perintah yang diamanatkan oleh Allah.

Urgensi Ibadah yang Optimal

Oleh karena itu, agar kita tak terperdaya dengan perkosaan zaman yang cenderung menyesatkan maka optimalisasi ibadah. Hal tersebut dilakukan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah adalah kunci kewarasan. Dengan jalan inilah kehadiran kita sebagai seorang manusia. Dalam hal ini khalifah fil ardh bukan untuk menjadi bencana melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin).

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-daari ra. Menyampaikan bahwa, “agama itu adalah nasihat”. Artinya sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah fil ardh) maka wajib bagi kita menyiarkan pesan agama yang rasional. Dilakukan melalui mengingatkan kesalahan dan melengkapi kekurangan orang lain agar tidak terperdaya dengan tarian iblis di muka bumi ini. Inilah sebagian dari upaya untuk mewujudkan ciri orang yang beriman.

Sebaik-baik ibadah adalah harus terus dilakukan dalam setiap derap langkah kita agar kewarasan sebagai orang yang beriman tetap terjaga. Sehingga jauh dari tipu daya dunia serta godaan setan yang menjelma sebagai nafsu dalam diri kita.

Harus kita tanamkan dalam diri kita bahwa. “Kemenangan di dunia ini bukanlah kemuliaan iman dan kekalahan bukanlah titik kehinaan iman. Sebab kita semua akan kembali dan dimintai pertanggungjawaban pada-Nya di hari akhir kelak”. Inilah ciri orang beriman, wahai saudaraku sekalian.

Baca Juga  Ketika Capres AS Mengutip Hadis Nabi

Ciri Orang Beriman adalah Mendayagunaan Akalnya

Manusia adala makhluk yang diciptakan Allah dengan kesempurnaan dan kesitimewaan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Salah bentuk keistimewaan itu ialah manusia dibekali fuad (akal dan hati).

Namun, muncul pertanyaan, sudahkah kita mendayagunakan potensi akal kita secara maksimal ?. Pertanyaan ini perlu diajukan agar kiranya kewarasan kita sebagai wakil Allah di muka bumi yang bertugas membumikan sifat-sifat-Nya. Hendaknya upaya tersebut kita dilakukan secara istikamah di zaman yang edan ini.

Ciri orang beriman adalah menjalankan tugas sebagai pembawa risalah surga menjadi rahmatan lil ‘alamin, tentu banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Tantangan dan rintangan itu datang dari iblis dengan tariannya yang berwujud macam rupa, seperti: tahta, harta, nafsu angkara atau pribadi manusia. Sebab demikianlah ikrar iblis, untuk senantiasa menghalang-halangi manusia dari tugas mulianya. Hal ini juga tertulis jelas dalam QS. Al A’raf: 16-17.

Akal (kecerdasan) yang diberikan oleh Allah kepada manusia ini pulalah yang membuat iblis merasa iri dan dengki. Sehingga pada akhirnya membuatnya ingkar akan perintah Allah yang menyuruhnya untuk bersujud kepada Adam. Karena akal (kecerdasan) merupakan kesempurnaan dan keistimewaan yang dimiliki oleh makhluk bernama manusia. Maka sungguh menyesal mereka yang menyia-nyiakan potensi ini untuk beribadah secara kaffah kepada Allah.

Oleh karenanya, agar misi mewujudkan cita-cita dan perintah Allah yang tertuang di dalam Al-Quran bisa terwujud maka pendayagunaan akal adalah syarat wajib. Kenapa demikian?

Karena melalui inilah semangat juang tinggi mampu terpatri dalam diri setiap muslim beriman yang terealisasi dalam bentuk jihad fi sabilillah. Pendayagunaan akal ini juga penting untuk mendobrak tembok-tembok godaan yang dibuat oleh iblis.

Baca Juga  Siapa Saja Golongan Non-Muslim dalam Al-Qur'an?

Akhirnya, dengan pendayagunaan akal ini pula kita bisa melawan iblis yang bersemayam di dalam diri kita. Inilah pentingnya pendayagunaan akal sebagai jalan keselamatan di tengah zaman yang penuh kebohongan dan dusta serta jauh dari ajaran Allah. Semoga ketenteraman, dan keberkahan selalu menyertai kita semua yang tetap istikamah, sabar, dan qanaah dalam menjalankan perintah-Nya, Aamiin.

Editor :Rivaldi D.

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Aktivis Pegiat Pendidikan Indonesia (PUNDI) dan Peneliti di Mahardika Institute
Articles
Related posts
Perspektif

Ketika Negara Tak Berkutik Menghadapi Kaum Islamis Mayoritarian

3 Mins read
Islamis Mayoritarian | Beredar di media sosial sebuah video yang menayangkan penandatangan penolakan pendirian Gereja yang dilakukan oleh Wali Kota Cilegon Helldy…
Perspektif

Kasus Gontor: Seharusnya Tak Akan Terjadi di Instansi Muhammadiyah

3 Mins read
“CEPET DEKK”, “BISA BARIS GA SI”, “KALIAN GATAU KAMI SIAPA!!” Barangkali itulah beberapa kata yang umumnya dikatakan senior pada junior-juniornya di kala…
Perspektif

Matinya Islam di Bali

2 Mins read
Semoga saja kalimat yang ada pada judul artikel ini tidak benar-benar terjadi. Saya begitu khawatir dengan perkembangan golongan Islam yang belum bijaksana…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.