Revolusi Industri 4.0 Menuju Peradaban Atau Kebiadaban?

 Revolusi Industri 4.0 Menuju Peradaban Atau Kebiadaban?

Ilustrasi: University of Nottingham

Oleh: Aldi Bintang Hanafiah*

Revolusi Industri 4.0 merupakan istilah yang sangat populer dan hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat pada awal abad 21 ini. Revolusi Industri 4.0 yang pekat dengan teknologi informasi dan komunikasi menandakan bahwa zaman semakin maju dan berkembang pesat. Kehidupan sosial budaya di masyarakat pun semakin berubah.

Revolusi Industri 4.0 Menuju Peradaban Atau Kebiadaban?

Sungguh, saya penasaran dan agak sedikit gelisah sebenarnya jika membandingkan revolusi industri 4.0 dengan melihat realitas sosial di masyarakat. Hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan, apakah revolusi industri 4.0 ini dapat membawa manusia menuju ke arah peradaban atau justru sebaliknya menuju ke arah kebiadaban?

Teknologi informasi dan komunikasi memang saat ini telah mendominasi di dalam kehidupan masyarakat. Penggunaan media sosial merupakan salah satu manifestasi dari kemajuan teknologi tersebut. Namun, hal ini seperti jauh panggang dari api.

Media sosial banyak dijadikan sebagai ladang dan sarana untuk bersilat lidah seperti membenci, memfitnah dan menyebarkan berita hoaks. Tidak hanya itu, penggunaan internet pun kini dijadikan sebagai media praktis untuk mendapatkan informasi tanpa diselidiki kebenarannya. Akibatnya masyarakat banyak yang gagap dan buta terhadap kebenaran informasi.

Tak hanya itu, di kalangan anak – anak muda misalnya, sekarang lebih memilih belajar praktis malalui internet tanpa mau mendatangi seorang guru, ulama, atau seorang yang kompeten di bidangnya. Fenomena–fenomena tersebut diantaranya banyak muncul ustadz–ustadz dadakan jebolan dari internet.

Hal ini seperti yang digambarkan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid:

”Mereka adalah generasi baru yang kini bermekaran dalam satuan – satuan lain, seperti negara, bangsa, daerah, partai, ormas, kelas usaha, dan sebagainya pengetahuan mereka bukan dari lembaga konvensional, seperti masjid, pesantren, atau madrasah, melainkan sumber anonim, seperti kursus, seminar, buku, majalah, kaset, CD, VCD, internet, radio, dan televisi, banyak yang tercengang melihat fenomena ini. Seperti halnya banyak agamawan yang tidak sanggup melihat gejala–gejala modern sehingga gagal memahami makna kesenjangan struktural, atau para pelaku KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) berjubah kesalihan”.

Dampak Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 selain berdampak terhadap teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat, tampaknya berdampak juga terhadap cara berpikir (state of mind) masyarakat. Kemajuan teknologi yang semakin canggih membuat pabrik–pabrik semakin mudah untuk memproduksi dan menciptakan barang–barang baru. Tidak hanya kebutuhan pokok, barang–barang mewah pun semakin banyak diproduksi dan banyak membuai masyarakat.

Di lain sisi ini merupakan kemajuan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat seperti dituntun ke arah konsumtif, materialis, gaya hidup yang mewah, dan berlebihan.

Tak heran jika revolusi industri 4.0 menimbulkan jurang kesenjangan ekonomi dan hanya menguntungkan kelas–kelas borjuis. Pasalnya, ini merupakan cara–cara baru kaum kapitalis untuk menguntungkan dirinya dengan cara membuai masyarakat dengan barang – barang mewah dan canggih. Masyarakat khususnya kaum muda sangat dirugikan dalam hal ini. Mereka secara tidak sadar dibawa ke arah eskapisme, nihilisme, dan kurang peduli terhadap realitas sosial masyarakat. Pada akhirnya paham tentang hedonisme semakin bertumbuh subur.

Seorang intelektual asal Iran, Ali Syariati melukiskan pandangannya dengan tajam tentang hedonisme. “Siapakah orang hedonis itu? Mereka adalah orang yang makan dan minum tanpa mau berbuat apa-apa. Mereka makan dari jerih payah orang lain,  para konsumen yang tidak mau lelah, bekerja, atau memedulikan nasib pekerjaan dan produksi. Para hedonis itu mau makan dan minum saja, tanpa pernah menyadari hakikat dan pahitnya garam kehidupan. Begitulah cara kenikmatan timbul dan lahir, kosong dari segala keluh kesah dan kesumpekan yang dirasakan para buruh dan pekerja.” Itulah kritikan tajam Ali Syariati terhadap orang hedonis, yang gaya hidupnya selalu bersenang-senang dan serba mewah.

Homo Konsumen dan Arus Besar Peradaban Manusia

Tidak kalah tajam seorang filsuf berkebangsaan Jerman Erich Fromm melukiskan pandangannya terhadap orang-orang konsumtif sangat menarik. Erich Fromm menyebutnya sebagai homo konsumen, “Orang yang mengkonsumsi penuh yang tujuannya hanyalah untuk memiliki sebanyak-banyaknya dan menggunakan lebih banyak lagi.”

Pandangan Erich Fromm tersbut jelas menggambarkan seseorang konsumtif yang serakah, individualis, tidak mau berbagi. Anehnya, banyak kita jumpai di era kontemporer ini.

Demikianlah sedikit gambaran tentang revolusi industri 4.0. Kemajuan yang seharusnya bisa menuju ke arah peradaban dan mengangkat harkat martabat manusia kini sepertinya sulit untuk dirasakan. Mungkin masih kita jumpai pada pribadi-pribadi tertentu yang pola hidupnya tidak konsumtif, materialis, hedonis dan individulis. Namun, pola hidup serupa tidak lagi menjadi arus besar dalam masyarakat revolusi industri 4.0.

*) Aktivis IMM Malang Raya

Avatar

RedaksiIB

IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam

Related post

3 Comments

    Avatar
  • I just want to say I am just all new to weblog and definitely enjoyed you’re web-site. Probably I’m likely to bookmark your blog . You definitely have really good articles and reviews. Appreciate it for revealing your blog site.

  • Avatar
  • Last month, when i visited your blog i got an error on the mysql server of yours.*~,”*

  • Avatar
  • Hello! I just would love to provide a significant thumbs up for the excellent information you have here on this article. I will be coming back to your blog for even more soon.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.