Covid-19 adalah Rahmah

 Covid-19 adalah Rahmah
Poto: Hatib Rahmawan            

Ada yang menganggap pandemi Covid-19 merupakan siksa Tuhan kepada manusia. Jadi sekarang, seolah-olah Tuhan sedang menghukum manusia dengan musibah ini. Tuhan menjadi sangat jahat dan kejam. Tuhan ingin menampakan kekuasaannya dengan sifat-sifatnya yang menakutkan. Apakah benar Tuhan menyeramkan seperti itu?

Padahal dalam 99 asmaul husna yang dimiliki Tuhan, tidak satupun yang mencitrakan bahwa Tuhan jahat, kejam, dan menakutkan. Sifat Rahman dan Rahim yang dimiliki Tuhan, melingkupi semua sifat-sifat Tuhan yang lain. Itulah sebabnya Tuhan tidak pernah memberikan hal negatif (keburukan) kepada hamba-Nya. Jadi anggapan bahwa pandemi Covid-19 ini musibah dari Tuhan tidak tepat. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah narasi yang dapat meluruskan masalah tersebut. Semoga tulisan ini dapat menjawab hal tersebut.

Kata musibah di dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 10 kali. Dari sepuluh ayat tersebut jika diklasifikasikan akan menghasilkan beberapa konsepsi; pertama, musibah akibat ulah manusia. Kedua, musibah merupakan ketentuan dari Allah. Ketiga, nilai-nilai esensial dalam menghadapi musibah. Keempat, musibah adalah rahmat dari Tuhan.

Musibah Akibat Ulah Manusia

Dalam kamus Al-Muhith, musiibah (Indonesia: musibah) berasal dari kata shaaba-yasuubu, yang artinya tepat, benar, dan mengalir. Maka, disebut musibah karena tepat mengalir ke sasaran. Orang awam biasa menyebut musibah dengan bencana. Artinya bencana itu diberikan kepada orang yang tepat. Jadi musibah tidak mungkin tertukar. Jika kematian itu adalah musibah, maka malaikat Izrail tidak akan salah mencabut nyawa seseorang.

Ayat yang menjelaskan bahwa musibah akibat ulah manusia antara lain; Ali Imran/3: 156, An-Nisa/4: 62, Al-Maidah/5: 106, At-Taubah/9: 50, Al-Qoshosh/28: 47, dan Asy-Syura/42: 30. Ayat-ayat ini menjadi bukti sekaligus bantahan terhadap sikap pasrah total (jabariyah) manusia. 

Sebagai contoh Surah Ali Imran/3: 156. Ayat ini menjelaskan kekalahan umat Islam dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut Nabi saw terlibat. Akibat ulah pasukan panah yang tidak tertib, akhirnya pasukan umat Islam yang akan menang malah dipukul mundur oleh pasukan lawan. Ini sebuah bukti, bahwa kekalahan (musibah) umat Islam, diakibatkan perilaku mereka sendiri. 

Corona memang benar makhluk Tuhan, namun bagi hambanya yang tidak menghindar, maka dia akan terkena dampaknya. Contoh lainnya rumah terbakar. Api yang membakar memang hamba Allah, tapi jika kita tidak pergi menjauh, maka api tersebut akan membakar diri kita. Berdiam diri dan berdoa tanpa ikhtiar tidak akan melepaskan diri kita dari musibah tersebut.

Maka, tepat sekali pengertian musibah sebagaimana dijelaskan di atas. Bahwa musibah adalah sesuatu yang menimpa seseorang dan tidak akan lepas sasaran. Menimpa siapa? Menimpa hamba-Nya yang tidak berusaha menghindar dari musibah tersebut. 

Apabila saat ini tidak terkena Corona, mungkin karena kita tidak berada pada lingkungan yang terpapar, atau antibodi kita sedang kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh sombong dengan doa yang kita gunakan. 

Musibah Merupakan Ketentuan Allah

Hal ini terdapat dalam surah Al-Hadid/57: 22. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa musibah yang menimpa bumi dan diri sendiri sudah tertulis di dalam kitab sebelum kami menjalankannya. Begitu juga dalam Surah At-Thagabun/64: 11. “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”.

Oleh kelompok pasrah total (jabariyah), ayat ini diapahami sebagai sikap menerima atas kehendak yang telah digariskan oleh Allah (dalam kitab). Pandangan ini menggiring manusia agar tidak perlu berusaha dalam menyikapi musibah yang terjadi. Karena musibah adalah ketentuan dari Allah, maka manusia tinggal menjalankannya saja.

Jika dipahami seperti itu, berarti ayat ini bertentangan dengan ayat-ayat sebelumnya. Bagi penulis mustahil Tuhan membuat pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Oleh karena itu pemahaman terhadap ayat tersebut harus diluruskan. Harus ada kejernihan berpikir untuk menghasilkan makna yang tepat (objektif). 

Para mufassir klasik hingga kontemporer menyepakati bahwa ayat ini konteksnya adalah kejadian alam seperti; gempa bumi, letusan gunung merapi, dan mungkin pandemi Covid-19. Kejadian-kejadian alam tersebut jika tidak disikapi akan berdampak pada diri manusia. Dalam tafsir Ruuhul Ma’aaniy karya Alusi dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kitab disini adalah hanya Allah yang mengetahuinya. Artinya kejadian-kejadian alam tersebut, terjadinya hanya Allah yang mengetahuinya.

Ar-Razi dalam Mafaatih al-Ghaib menjelaskan maksud dari kitab dalam ayat tersebut adalah lauhul mahfudz. Menurutnya ayat ini menjelaskan kekuasaan Allah atas alam semesta. Hanya Allah lah yang Tahu tentang kejadian-kejadian yang berada di bumi ini. Manusia tidak mengetahuinya sama sekali. Manusia ditugaskan hanya berikhtiar dan mengambil hikmah dari semua kejadian yang menimpanya.

Terkait ayat ini Hamka menjelaskan bahwa musibah-musibah yang terjadi sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum Tuhan menjalankannya. Cuma manusia tidak diberi tahu. Abdullah Yusuf Ali menyatakan peristiwa-peristiwa terkait musibah (bencana alam) sebenarnya sudah terekam dalam kitab sebelum Tuhan menampakkannya.

Dari penjelasan-penjelasan para mufassir di atas tidak ada yang memaknai musibah sebagai bentuk fatalistik buta. Ayat selanjutnya (Al-Hadid/57: 23) semakin memperkuat pendapat tersebut. “Kamu jangan sedih jika terkena musibah, dan kamu jangan bergembira jika musibah itu tidak menimpamu. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” 

Pelajaran yang dapat diambil adalah jangan sombong dengan ilmu kita, pengetahuan kita, dan doa kita, ketika kita tidak terkena musibah. Ayat ini juga menjadi teguran bagi kelompok fatalistik total yang pasrah jika terkena musibah. Jangan bersedih, karena Tuhan sudah memerintahkan untuk ikhtiar, sementara kamu tidak mau menghindar.

Pada ayat 24, ketika musibah itu terjadi, kita diperintahkan agar jangan kikir. Bantulah siapapun, tanpa melihat latar belakangnya. Pada saat musibah terjadi, ada saja orang yang egois, serakah, tidak peduli dengan saudara-saudaranya, bahkan mungkin sibuk meraup untung. Orang seperti ini adalah orang yang memilih kesesatan daripada hidayah. 

Lantas apakah yang dimaksud dari surah At-Thagabun/64: 11. “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”. Ayat ini tidak memerintahkan kita untuk pasrah terhadap keadaan. Melainkan sebagai sebuah peringatan bahwa ada kekuasaan di atas segalanya, yakni Tuhan. Jangan sampai. gara-gara musibah kita malah berbuat syirik. Seperti masak sayur lodeh untuk tolak bala. 

Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia itu kecil, tidak berdaya. Rasionalitas dan keilmuan manusia harus ditundukkan di hadapan Tuhan. Inilah maksud ayat tersebut agar manusia tidak sombong, sekaligus tidak tidak mudah menyerah. Tugas manusia hanya berusaha semaksimal mungkin (ahsanu ‘amala), hasilnya adalah hak Allah. 

Nilai-nilai Esensial dalam Menghadapi Musibah

Nilai-nilai esensial dalam menghadapi musibah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah/2: 153-157. Nilai-nilai tersebut antara lain; sabar, shalat, dan meyakini adanya hari akhir.

Pertama, sabar, maksudnya adalah positive thinking terhadap musibah yang menimpa. Sabar yang dibarengi dengan positive thinking akan memberikan kekuatan mental pada manusia. Dia akan menganggap musibah yang dialaminya bukan sebagai azab (siksa) dari Tuhan, melainkan rahmat dan nikmat. Usaha-usaha positif (ikhtiar) akan muncul bersamaan dengan sikap ini. Dampaknya dia tidak akan pernah putus asa. Tidak ada kata kegagalan dalam dirinya, melainkan yang ada hanya usaha untuk kembali bangkit.

Kedua, shalat, dalam hal ini bukan hanya ibadah mahdlah (shalat rawatib), tetapi juga berdoa. Berdoa adalah bentuk optimisme dalam menghadapi hari esok. Berdoa merupakan bentuk harapan pada Tuhan bahwa di balik setiap musibah pasti ada jalan keluar (emergency exit). Dengan adanya harapan seseorang tidak mudah menyerah. Berdoa juga merupakan bentuk tawakal, yang membuat seseorang yakin bahwa Tuhan selalu ada di setiap saat. Oleh karena itu tawakal selalu diletakan di awal setiap perbuatan. Mengucapkan basmallah adalah buktinya.  

Ketiga, meyakini adanya kehidupan akhirat. Sikap ini disimbolkan dengan ucapan istirja’. Tanpa keyakinan yang satu ini, seseorang yang mendapatkan musibah pasti akan lemah mentalnya. Dengan adanya keyakinan ini, seseorang akan menjalani musibah dengan bahagia. Ibadahnya akan lebih baik, doanya akan lebih khusu’, dan pertaubatannya akan menjadi kesungguh-sungguhan. Sebab dia yakin akan menuju kehidupan yang baru. Dia menjadi lebih siap menghadapi hari esok dan kematian dengan tenang dan optimis.

Musibah adalah Rahmat Tuhan

Hal ini dijelaskan dalam surah Al-Baqarah/2: 157, kelanjutan dari ayat di atas. Tiga nilai esensial di atas, jika diterapkan akan membuat seseorang menyadari bahwa musibah itu adalah rahmat dari Allah. Musibah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya.

Ketika Tuhan menisbatkan dirinya sebagai Ar-Rahman, maka tidak mungkin dirinya memberikan kekejaman dan keburukan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu di awal dijelaskan bahwa musibah itu karena ulah tangan manusia sendiri. Manusia sendirilah yang menyebabkan musibah itu mendatangi dirinya. Jadi musibah itu pilihan yang dilakukan manusia, bukan bentuk kemarahan Tuhan kepada hamba-Nya. 

Seperti Film Kingkong, akibat cinta buta terhadap seorang wanita, akhirnya ia mati terbunuh. Bukan senjata yang membunuh Kingkong itu tetapi cinta buta itulah yang telah membunuhnya. Jadi mati dalam konteks ini adalah pilihan.

Jika ada pengusaha bangkrut dalam berbisnis, karena terbelit hutang, bukan berarti Tuhan memiskinkan dia. Melainkan dia sendiri yang memilih untuk miskin. Mungkin karena ketamakannya, keserakahannya, akhirnya lalai melihat kemungkinan-kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Faktor itulah yang menyebabkan dia terkena musibah.

Begitu juga dengan banjir. Banjir itu bukan pemberian Tuhan, melainkan siklus alam. Banjir dapat menjadi bencana karena ulah manusia yang tidak dapat bersahabat dengan alam. Begitu juga dengan Merapi, dia adalah makhluk Tuhan. Namun, jika manusia gagal memahami Merapi, maka musibah akan menimpanya.

Kasus corona yang melanda dunia saat ini juga seperti itu. Corona sebenarnya sudah ada sejak lama. Dia adalah makhluk Tuhan yang taat dengan ketentuan-ketentuan alam. Namun karena manusia tidak dapat menjaga diri, melampaui batas, makhluk ini akhirnya menjadi bencana.

Meskipun manusia lalai dan jahil dalam menyikapi musibah, tetapi Tuhan Maha Penyayang. Tuhan selalu memberikan nikmat dan rahmat di setiap musibah yang dilakukan manusia. Bagi yang terdampak musibah, ada ampunan di sana. Kasih sayang antar sesama yang mungkin sirna, mulai bermunculan. Kepedulian satu individu terhadap individu lainnya mulai bersemi kembali. Wallahu’alam bishawab.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Hatib Rahmawan

Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Ketua MPK PWM DIY, Sekretaris Pendidikan dan Kaderisasi PP Pemuda Muhammadiyah.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.