back to top
Sabtu, Juli 11, 2026

Di Tengah Laut, ‘Aisyiyah Hadirkan Sikola Dilao’ untuk Putus Rantai Putus Sekolah

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Sikola Dilao’ menjadi jawaban atas sulitnya akses pendidikan bagi masyarakat pesisir Pulau Balu, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Melalui lembaga pendidikan nonformal yang digagas ‘Aisyiyah, harapan baru mulai tumbuh bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang selama ini terhambat melanjutkan pendidikan karena jarak, biaya, dan kondisi geografis. Kehadiran Sikola Dilao’ menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang hidup di wilayah kepulauan.

Selama bertahun-tahun, warga Desa Santiri harus menghadapi perjalanan panjang untuk mengenyam pendidikan menengah. Mereka mesti menyeberangi laut menuju Pelabuhan Tondasi, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju sekolah yang berjarak beberapa kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan banyak anak memilih berhenti sekolah untuk membantu orang tua mencari nafkah, sementara sebagian lainnya menikah di usia dini.

Melihat persoalan tersebut, ‘Aisyiyah menghadirkan Sikola Dilao’, yang dalam bahasa lokal berarti “Sekolah di Laut”. Berdiri sejak 2025 sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga ini dirancang agar pendidikan dapat diakses lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Pendidikan Fleksibel yang Menghidupkan Kembali Mimpi

Guru PKBM Sikola Dilao’, Julaika atau yang akrab disapa Ika, menjelaskan bahwa konsep pendidikan yang diterapkan berbeda dari sekolah formal.

“Jadi ini berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. PKBM Sikola Dilao’ hadir dengan pendekatan yang fleksibel untuk memfasilitasi sebagian besar peserta didik yang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab keluarga,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (22/6).

Baca Juga:  Muhammadiyah Resmikan Sapen Universal School, Sekolah Internasional Berbasis Islam Berkemajuan

Karena sebagian besar peserta didik bekerja pada siang hari, proses belajar dilaksanakan sore hingga malam. Model pembelajaran ini memberi kesempatan kepada warga yang sebelumnya putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan.

Meski berstatus pendidikan nonformal, Sikola Dilao’ tetap menggunakan Kurikulum Merdeka jalur kesetaraan sesuai Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Saat ini tersedia Program Paket A bagi peserta usia 10–16 tahun, Paket B untuk usia 18–58 tahun, serta Paket C yang diikuti peserta berusia 19–46 tahun.

Ika menyebutkan sebanyak 46 warga belajar kini aktif mengikuti pembelajaran.

“Saat ini, sebanyak 46 peserta didik tercatat aktif mengikuti pembelajaran. Mereka terdiri atas 10 peserta Paket A, 9 peserta Paket B, dan 27 peserta Paket C,” sebut Ika.

Meski jumlahnya tidak besar, setiap peserta membawa kisah perjuangan untuk kembali memperoleh hak atas pendidikan yang sempat terputus.

Namun perjuangan Sikola Dilao’ masih menghadapi sejumlah tantangan. Hingga kini kegiatan belajar masih menumpang di gedung sekolah negeri melalui sistem pinjam pakai. Selain itu, proses pengurusan izin operasional dan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) masih terus dilakukan.

“Kami berharap ke depan PKBM Sikola Dilao’ bisa memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta diberikan kemudahan dalam pengurusan izin operasional,” kata Ika.

Ia juga berharap jaringan pendidikan Muhammadiyah di Muna Barat semakin berkembang. Saat ini wilayah tersebut baru memiliki PAUD/TK ‘Aisyiyah serta Institut Teknologi, Bisnis, dan Kesehatan Muhammadiyah (ITBKM), sementara sekolah dasar hingga menengah Muhammadiyah belum tersedia.

Baca Juga:  AICIS+ 2025 Hadirkan 12 Pemikir Dunia, Kupas Ekoteologi dan Teknologi Masa Depan

Melalui Sikola Dilao’, ‘Aisyiyah menunjukkan bahwa dakwah pendidikan tidak selalu hadir dalam gedung-gedung megah. Dari ruang belajar sederhana di pulau kecil, lahir ikhtiar menghadirkan kesempatan belajar yang lebih inklusif, agar jarak dan laut tidak lagi menjadi alasan terputusnya masa depan generasi pesisir. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru