back to top
Jumat, Juli 31, 2026

Menyambung Sanad Kedalaman Makna: Deep Learning dalam Ta’lim al-Muta’allim

Lihat Lainnya

Piet Hizbullah Khaidir
Piet Hizbullah Khaidir
Ketua STIQSI Lamongan; Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi & Publikasi MTT PWM Jawa Timur

Pendidikan sejati bukanlah sekadar transfer informasi, melainkan sebuah transformasi kesadaran yang menembus hingga ke palung jiwa. Di tengah hiruk-pikuk disrupsi teknologi dan dangkalnya lautan kognisi akibat gempuran informasi instan, gagasan membumikan Deep Learning hadir sebagai oase filosofis dan praksis pendidikan yang menggugah.

Dalam ceramah bertajuk Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur (29/07/26), Mas Kiai Menteri Dikdasmen RI, menyatakan bahwa naskah akademik gagasan ini tidak hadir sebagai barang impor yang tercerabut dari akar kultural dan spiritual kita.

Menurutnya, garis sanad keilmuan dan epistemologi Deep Learning kontemporer yang beliau canangkan berkaitan kukuh dengan turats (warisan intelektual) klasik yang telah berabad-abad mengawal peradaban Islam, yaitu: kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq at-Ta’allum karya agung Syekh Burhanuddin az-Zarnuji.

Upaya menjejak turats ini merupakan sebuah upaya radikal—dalam arti kembali ke akar—untuk menjahit kembali kain hakekat pendidikan kita yang sempat robek oleh pragmatisme materialistik.

Apa Itu Deep Learning?

Secara konseptual, Deep Learning dalam diskursus pedagogi modern bukanlah sekedar kecepatan hafalan, melainkan sebuah filosofi pembelajaran yang berpusat pada kedalaman pemahaman. Konsep ini berdiri tegak di atas tiga pilar utama yang saling menguatkan: Joyful Learning, Mindful Learning, dan Meaningful (Deep) Learning.

Berikut uraian singkatnya:

1. Joyful Learning (Pembelajaran yang Menggembirakan):

Ini adalah antitesis dari pendidikan yang menindas. Joyful learning tidak sekadar berarti kelas yang penuh gelak tawa, melainkan hadirnya rasa aman, kebebasan berekspresi, dan tumbuhnya motivasi intrinsik. Kegembiraan di sini adalah rasa beetumbuh intelektual yang muncul ketika seorang pembelajar berhasil memecahkan teka-teki ilmu, sebuah kondisi di mana dopamin kognitif mengalir karena rasa ingin tahu yang terfasilitasi.

2. Mindful Learning (Pembelajaran yang Penuh Kesadaran):

Di era di mana atensi manusia terpecah belah (attention economy), mindfulness adalah sebuah kemewahan. Pembelajaran ini menuntut kehadiran utuh secara fisik, mental, dan emosional (here and now). Pembelajar diajak untuk sadar akan proses kognitifnya sendiri (metakognisi), mengenali bias, dan terhubung dengan apa yang sedang ia pelajari tanpa terdistraksi oleh riuh rendah di luar dirinya.

Baca Juga:  Kemendikdasmen Mulai Revitalisasi 809 Sekolah di NTT

3. Deep Learning (Pembelajaran yang Mendalam/Bermakna):

Puncak dari proses ini adalah kedalaman makna. Informasi tidak hanya ditumpuk di memori jangka pendek, melainkan direkonstruksi, dianalisis, disintesis, dan diintegrasikan dengan kerangka pengetahuan yang sudah ada. Pembelajar tidak hanya tahu “apa”, tetapi memahami “mengapa” dan “bagaimana”, sehingga ilmu tersebut mengendap menjadi kebijaksanaan (hikmah) yang mengubah cara pandang dan perilaku.

Deep Learning dalam Ta’lim al-Muta’allim

Ta’lim al-Muta’allim dan Deep Learning: Jejak Bertemunya Dua Samudra Tradisi Ilmu
Membaca naskah akademik Mas Kiai Menteri ibarat menyaksikan bertemunya dua samudra pemikiran: Barat yang empiris-kognitif dan Timur (Islam) yang spiritual transendental.

Kitab Ta’lim al-Muta’allim, meski ditulis pada abad ke-12, ternyata menyimpan cetak biru (blueprint) dari ketiga pilar Deep Learning tersebut, bahkan dengan fondasi ontologis yang jauh lebih sakral.

“Ketahuilah, seorang pencari ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatannya, kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu.” (Syeikh az-Zarnuji)

Beberapa bab dalam kitab tersebut sangat relevan dengan deep learning. Berikut pokok-pokok pikiran tersebut:

1. Akar Mindful Learning dalam Fasal Niat

Az-Zarnuji memulai kitabnya dengan penekanan absolut pada niat (Fasal fi al-Niyyah fi Hal al-Ta’allum). Niat dalam tafsir pendidikan Islam bukan sekadar formalitas pembuka, melainkan puncak dari mindfulness.

Melalui niat, seorang santri (pembelajar) mengkalibrasi kesadarannya bahwa belajar bukanlah untuk mencari prestise duniawi, melainkan untuk menghilangkan kebodohan, mensyukuri akal, dan mencari rida Ilahi.

Baca Juga:  Dari Keraguan Mencapai Kepastian: Metode Filsafat Rene Descartes

Kesadaran transendental ini membuat pikiran menjadi sangat fokus, menyingkirkan distraksi ego, dan menciptakan kondisi mindful yang melampaui sekadar konsentrasi psikologis.

2. Substansi Joyful Learning melalui Ta’dhim dan Pemilihan Guru

Bagaimana Ta’lim al-Muta’allim memandang joyful learning? Az-Zarnuji meletakkan kebahagiaan belajar pada harmoni hubungan antara murid, guru, dan ilmu itu sendiri (Ta’dhim al-Ilm wa Ahlih).

Kegembiraan sejati tidak lahir dari permainan di kelas, melainkan dari rasa hormat, keberkahan, dan kasih sayang (rahmah) yang mengalir dari guru kepada muridnya.

Selain itu, az-Zarnuji menyarankan murid untuk memilih pelajaran yang sesuai dengan tabiat dan minatnya, serta memilih guru yang wara’ (berhati-hati) dan penyabar. Lingkungan yang bebas dari paksaan arogan dan penuh penghormatan inilah yang menciptakan atmosfer joyful yang menenangkan jiwa.

3. Metodologi Deep Learning dalam Mudzakarah, Munadharah, dan Mutharahah

Untuk mencapai kedalaman belajar, az-Zarnuji tidak menyarankan hafalan buta. Ia justru merumuskan metode dialektis yang sangat maju pada zamannya, yaitu Mudzakarah (diskusi mendalam), Munadharah (debat akademis), dan Mutharahah (curah gagasan).

Beliau secara eksplisit menyatakan bahwa “Satu jam berdiskusi lebih baik daripada sebulan mengulang hafalan sendirian.” Ini adalah esensi dari Deep Learning. Ilmu harus dibenturkan, diuji, dan dikritisi melalui dialog.

Proses tafakkur (refleksi mendalam) yang disarankan az-Zarnuji mengharuskan pembelajar untuk mengunyah informasi hingga menjadi intisari pemahaman yang mendarah daging.

Urgensi Deep Learning bagi Pendidikan Holistik di Indonesia

Gagasan mengawinkan Deep Learning dengan turats pesantren termasuk kitab Ta’lim al-Muta’allim ini hadir di momentum yang sangat krusial bagi bangsa Indonesia. Saat ini, kita tengah menghadapi ancaman pendangkalan epistemologis.

Sistem pendidikan kita sering kali terjebak pada fetisisme angka, formalitas administratif, dan kurikulum yang memaksa anak berlari di atas treadmill hafalan tanpa pernah sampai pada tujuan pemaknaan. Akibatnya, kita melahirkan generasi yang secara teknis cerdas, namun rapuh secara mental dan tumpul secara moral.

Baca Juga:  Tanda-tanda Kemenangan Palestina

Penerapan Deep Learning berbasis Ta’lim al-Muta’allim adalah jawaban esensial untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar holistik—pendidikan yang menyentuh ranah kognitif (akal), afektif (qalbu), dan psikomotorik (jawarih) secara bersamaan.

Pertama, ia akan menyembuhkan alienasi siswa di kelas. Dengan Joyful dan Mindful learning yang diwarnai keikhlasan dan ta’dhim, sekolah dan madrasah akan kembali menjadi taman yang menyuburkan fitrah, bukan pabrik yang mencetak robot pekerja.

Kedua, integrasi ini relevan dengan amanat Pancasila, khususnya Sila Pertama. Pendidikan tidak boleh sekuler. Kecerdasan buatan (AI) mungkin bisa memproses data jutaan kali lebih cepat dari otak manusia, tetapi AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki niat, dan tidak memiliki keberkahan.

Kedalaman spiritual dari Ta’lim al-Muta’allim inilah yang menjadi benteng kemanusiaan kita di era disrupsi digital.

Akhirul kalam, pemikiran Mas Kiai Menteri yang merajut Deep Learning dengan helai-helai benang emas Ta’lim al-Muta’allim adalah sebuah ijtihad pedagogis yang patut dirayakan. Ini bukan sekadar pergantian nomenklatur kurikulum, melainkan sebuah restorasi epistemologis—sebuah panggilan untuk kembali menyelami samudra ilmu dengan kesadaran penuh (mindful), hati yang gembira dan tawadhu (joyful), serta nalar dialektis yang tajam (deep).

Pendidikan masa depan Indonesia tidak boleh hanya mengejar ketertinggalan teknologi dengan mengorbankan kedalaman jiwa. Sebab, pada akhirnya, ilmu tanpa sanad adalah laksana pohon tanpa akar, dan pengetahuan tanpa kedalaman makna hanyalah buih yang akan lenyap dihempas gelombang zaman.

Mari kita sudahi perayaan atas kedangkalan, dan mulailah mendidik dengan kedalaman, karena di dasar sanubari yang terdalamlah, cahaya hikmah itu bermukim.

(YY)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru