back to top
Jumat, Juli 31, 2026

Bukan Kehilangan Cinta, Hanya Kehabisan Energi

Lihat Lainnya

Tulisan ini bukan tulisan provokasi. Tulisan ini juga bukan untuk menyalahkan siapa pun, bukan untuk merendahkan profesi guru dan dosen, apalagi untuk mengajak mengeluh. Saya percaya setiap kebijakan lahir dengan tujuan yang baik. Namun, di balik semua itu, ada sisi yang mungkin jarang dibicarakan. Tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan hati. Barangkali bukan hanya hati saya, tetapi juga hati banyak guru dan dosen yang memilih diam karena merasa tidak punya ruang untuk mengatakan bahwa mereka sedang lelah.

“Mengajar hari ini sudah tidak semenyenangkan dulu”

Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Bahkan mungkin ada yang langsung berkata, “Kalau tidak sanggup ya berhenti saja,” atau, “Namanya juga pengabdian.” Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.

Dulu, masuk ke ruang kelas selalu menghadirkan rasa antusias. Menyiapkan materi terasa menyenangkan karena yang dibayangkan adalah bagaimana peserta didik nanti akan memahami pelajaran dengan cara yang lebih mudah. Rasanya menyenangkan ketika menemukan metode baru, media baru, atau cerita baru yang membuat mereka tertarik belajar. Bahkan melihat seorang peserta didik yang awalnya tidak paham kemudian tersenyum karena akhirnya mengerti, sudah cukup membuat hari terasa sangat berharga.

Saat itu, kebahagiaan seorang pendidik memang sesederhana itu. Sekarang semuanya terasa berbeda.

Bukan karena guru dan dosen sudah tidak mencintai profesinya. Saya yakin sebagian besar masih mencintai pekerjaan ini dengan sepenuh hati. Mereka masih ingin menjadi pendidik yang baik. Masih ingin melihat peserta didiknya berkembang. Masih ingin pulang dengan perasaan puas setelah mengajar. Tetapi perlahan-lahan, terlalu banyak hal ditambahkan di luar tugas utama itu.

Baca Juga:  Saat Ustaz Hanan Attaki Mulai Ditinggal Jamaahnya

Ada laporan yang harus diselesaikan. Ada administrasi yang harus dilengkapi. Ada jurnal yang harus dipublikasikan. Ada akreditasi yang harus dipersiapkan. Ada visitasi yang harus dihadapi. Ada SISTER yang harus diperbarui. Ada berbagai sistem pelaporan yang terus berkembang. Ada formulir yang harus diisi. Ada berkas yang harus diunggah. Ada dokumen yang harus diperbaiki. Ada target yang harus dipenuhi. Semuanya mungkin penting. Semuanya mungkin memang dibutuhkan. Tetapi ketika semuanya datang bersamaan, tanpa disadari bagian yang dulu paling dicintai justru mulai tenggelam di bawah tumpukan pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan proses mengajar.

Yang membuat keadaan semakin berat adalah karena perasaan itu sering kali harus disimpan sendiri.

Guru dan dosen tidak selalu punya ruang untuk berkata jujur. Sebab ketika mereka mulai mengatakan bahwa pekerjaan ini terasa berat, sering kali yang datang bukan empati, melainkan penilaian. Ada yang mengatakan kurang bersyukur. Ada yang mengatakan kurang profesional. Ada pula yang berkata bahwa semua itu memang risiko profesi sejak awal.

Akhirnya banyak yang memilih diam.

Mereka tetap datang ke kelas seperti biasa. Tetap tersenyum. Tetap menyapa peserta didik dengan hangat. Tetap menjelaskan materi dengan penuh semangat. Tetap mendengarkan cerita peserta didik. Tetap berusaha menjadi guru dan dosen terbaik yang mereka bisa.

Padahal, tidak banyak yang tahu bahwa sebelum masuk kelas mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan administrasi hingga larut malam. Tidak banyak yang tahu bahwa di dalam kepala mereka masih ada daftar panjang pekerjaan yang belum selesai. Tidak banyak yang tahu bahwa energi mereka sebenarnya sudah terkuras sebelum pembelajaran dimulai.

Baca Juga:  Identitas Lokal: Kunci Pemenangan Pilkada dan Harmoni Warga Yogyakarta

Yang hilang sebenarnya bukan rasa cintanya.

Yang hilang adalah energinya.

Energi yang perlahan habis karena terlalu banyak hal yang harus dipikul. Energi yang terkuras oleh pekerjaan-pekerjaan yang memang harus diselesaikan, tetapi sedikit demi sedikit menggeser waktu, perhatian, dan semangat untuk melakukan hal yang sejak awal membuat mereka memilih profesi ini, yaitu mendidik.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa administrasi tidak penting. Saya juga tidak mengatakan bahwa akuntabilitas harus dihapuskan. Pendidikan memang membutuhkan tata kelola yang baik. Mutu juga harus dijaga. Namun, bukankah lebih baik jika sistem hadir untuk membantu guru dan dosen mengajar dengan lebih baik, bukan justru menghabiskan sebagian besar energi mereka sebelum berdiri di depan kelas?

Guru dan dosen mungkin tidak selalu membutuhkan seminar motivasi. Tidak selalu membutuhkan pelatihan produktivitas. Tidak selalu membutuhkan nasihat tentang manajemen waktu. Kadang mereka hanya membutuhkan satu hal yang sederhana, yaitu sistem yang lebih manusiawi. Sistem yang memahami bahwa pendidik juga manusia. Mereka bisa lelah, bisa jenuh, bisa kehabisan tenaga, tetapi tetap ingin memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya.

Karena itulah, mengakui bahwa kita sedang lelah seharusnya tidak dianggap sebagai bentuk kelemahan. Mengakui kelelahan juga bukan berarti kehilangan dedikasi. Justru keberanian untuk jujur kepada diri sendiri adalah tanda bahwa kita masih peduli pada profesi ini. Kita masih ingin mengajar dengan sepenuh hati. Kita hanya berharap suatu hari nanti energi itu tidak lagi habis untuk hal-hal yang membuat kita semakin jauh dari ruang kelas.

Baca Juga:  Saatnya Guru Muhammadiyah Sejahtera!

Sebab pada akhirnya, yang hilang dari banyak guru dan dosen hari ini bukanlah cinta terhadap profesinya.

Yang hilang hanyalah energi untuk terus bertahan di tengah sistem yang terus meminta lebih banyak dari mereka.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru