PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Dengan kematian Khalifah Ali (661), maka hal itu telah mengakhiri sistem kekhalifahan Rasyidin selama 40 tahun yang dimulai sejak pembaiatan Abu Bakar. Muawiyah pendiri wangsa Umayyah, mengangkat putranya Yazid I sebagai putra mahkota, suatu mekanisme kepemimpinan yang baru dan tidak dikenal dalam komunitas Islam sebelumnya. Dinasti Umayyah merupakan dinasti (mulk) pertama dalam sejarah Islam. Dinasti Umayyah bertahan melalui 661-750 dengan beribukota di Damaskus.  

Shiffin, Saksi Sebuah Siasat Licik

Muawiyah dengan penuh pertimbangan, akhirnya menyatakan pemberontakan dalam Perang Shiffin atas nama baju Utsman yang berlumuran darah dan potongan jari istrinya, Nailah.

Akan tetapi ketika perang terjadi, pasukannya berkali-kali dipukul mundur oleh pasukan Khalifah Ali di dataran Siffin. Pada hari terakhir perang, ketika pasukannya dihancurkan oleh komandan terkenal khalifah, Malik al-Asytar, Muawiyah dengan Amr mengatur siasat untuk menyelamatkan anak buahnya dari kehancuran total.

Dia membuat beberapa tentaranya mengikat mushaf Alquran ke tombak mereka, dan maju ke arah Muslim seraya berteriak,

“Hentikan menumpahkan darah! Jika pasukan Syam dihancurkan, siapa yang akan membela perbatasan melawan orang-orang Romawi? Jika tentara Irak dihancurkan, siapa yang akan membela perbatasan melawan Turki dan Persia? Biarkan Kitab Allah memutuskan di antara kita.”

Sebenarnya terdapat beberapa pertanyaan terkait kejadian ini. Apakah pengangkatan Alquran tersebut dimaksudkan sebagai pengingat umum bahwa kedua belah pihak adalah Muslim dan tidak boleh berperang satu sama lain?

Atau apakah itu dimaksudkan sebagai sinyal yang lebih spesifik, bahwa perselisihan harus diselesaikan dengan mengacu pada Firman Tuhan?

Tetapi ada kecenderungan untuk melihatnya sebagai tidak lebih dari tipu daya oleh pasukan Syam untuk keluar dari situasi yang sulit. Gagasan itu bukan keluar dari Muawiyah sendiri, melainkan dari tangan kanannya, ‘Amr bin Ash.

Baca Juga  Khalifah Ali (9): Menata Ulang Pemerintahan

‘Amr, yang sebelumnya memimpin penaklukan Arab atas Mesir dan pernah menjabat sebagai gubernur di sana sebelum dipindahkan oleh Utsman, bukanlah seorang Bani Umayyah (Hawting, 2000:28).

Khalifah Ali dan Kemenangan yang Sirna

Khalifah Ali, yang tahu betul karakter pemberontak dan rekan konspiratornya, Amr bin Ash, mencoba menyadarkan pasukannya terhadap pengkhianatan dan tipu daya. Tetapi, sejumlah besar pasukannya menolak untuk berperang lebih lanjut, dan menuntut agar perselisihan itu harus diselesaikan dengan arbitrase.

Sebagai jawaban atas jaminan khalifah bahwa Muawiyah hanya menggunakan Alquran sebagai alat untuk membebaskan dirinya dari rahang kematian, Malik al-Asytar pun dipanggil kembali.

Akhirnya pertempuran dihentikan, dan buah-buah dari kemenangan yang sudah ada di depan mata Khalifah Ali pun sirna. Digantikan dengan suatu arbitrase yang telah diatur dan penuh muslihat.

Kelompok yang menolak berperang tadi, bahkan mengancam Khalifah Ali bakal dibunuh jika menolak berhukum dengan Al-Quran“nya” Muawiyah. Maka, diutuslah Abu Musa al-Asyari dengan 400 lelaki sebagai perwakilan Ali.

Muslihat Amr bin Ash

Sebagai seorang sepuh, rendah hati dan sederhana, ia melawan Amr bin Ash mewakili Muawiyah bersama 400 penduduk Syams, yang terkenal cerdik dan politikus ulung dalam meja perundingan. Dan Abu Musa segera jatuh ke dalam perangkap yang disediakan oleh Amr. Perisitiwa ini terjadi di Dumat al-Jandal (Tabari, Hawting, Vol 17:104).

Amr mengatakan kepada Abu Musa, bahwa yang terbaik adalah melepaskan jabatan dari kedua tokoh yang sedang berseteru tersebut dan mencalonkan lagi orang lain agar umat Islam menjadi damai. Triknya berhasil. Abu Musa naik ke mimbar, dan dengan sungguh-sungguh mengumumkan pengunduran diri Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Setelah membuat pengumuman ini, ia turun dengan perasaan telah melakukan perbuatan baik. Dan kemudian Amr dengan tersenyum naik ke mimbar yang dikosongkan oleh Abu Musa, dan mengatakan bahwa dia menerima pengunduran Ali, dan menunjuk Muawiyah sebagai gantinya.

Baca Juga  Ibnu al-Jauzi: Ulama dengan Banyak Gelar

Abu Musa yang malang bak disambar petir, tetapi pengkhianatan itu terlalu nyata, dan Dinasti Fathimiyah menolak untuk menerima keputusan itu sebagai hal yang sah.

Pengkhianatan Dinasti Umayyah membuat jengkel para pendukung Ali, dan kedua belah pihak berpisah untuk saling membenci. Ali tidak lama kemudian dibunuh, ketika sedang berdoa di sebuah masjid di Kufah.

Pembunuhannya memungkinkan Muawiyah bin Abu Sufian untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya di Suriah dan Hijaz. Pada saat kematian Ali, Hasan, putra sulungnya, diangkat ke kekhalifahan (Ameer, 1891:300).

Kematian Khalifah Ali, Khalifah Hasan dan Malik al-Asytar

Awal 24 Januari 661, ketika Ali sedang dalam perjalanan ke masjid di al-Kufah, dia disabet di dahi dengan pedang beracun.

Senjata itu, yang menembus ke otak, ditusukkan oleh seorang Khawarij, Abd Rahman ibn Muljam, yang digerakkan oleh keinginan untuk membalaskan dendam atas kematian teman temannya di Nahrawan.

Riwayat bahkan menyebutkan ibn Muljam bersumpah di depan Ka’bah untuk membunuh Ali—saudara, menantu sekaligus bagian dari diri Nabi Muhammad.

Hasan bin Ali, putra tertua Ali, diangkat menjadi Khalifah. Khalifah Hasan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada mengurus pemerintah.

Hingga singkatnya, beliau lebih memilih untuk menyerahkan jabatan kepada rival ayahnya, Muawiyah, dengan jaminan keselamatan dan pensiun, ditambah 5 juta dirham dari perbendaharaan Kufah dan pajak Persia selama sisa hidupnya. Dan yang paling terpenting adalah demi menghindarkan pertumpahan darah lebih lanjut. Tahun ini dikenal sebagai Tahun Persatuan.

Tapi permusuhan Bani Umayyah belum berhenti di sana, dan Khalifah Hasan meninggal diracun hingga mati. Malik al-Asytar, jenderal kesayangan Khalifah Ali, pun meninggal dengan cara yang sama. Sekarang, Muawiyah bin Abi Sufyan sukses membersihkan jalannya untuk singgasana kekhalifahan.

Baca Juga  Nabi Ibrahim AS (1): Keistimewaan dan Keterpilihan

***

Khalifah Hasan meninggal pada 669 dalam usia 45 tahun karena kemungkinan diracun oleh intrik salah satu istrinya. Yang mana, beliau juga dikenal sebagai seorang yang mempunyai banyak istri.

Komunitas Islam Syiah, dan beberapa literatur serta riwayat Sunni juga meyakini bahwa Muawiyah terlibat dalam pembunuhan Hasan, dengan menjanjikan istrinya tadi akan dinikahkan dengan Putra Mahkota Yazid. Tapi kemudian disebutkan janji tersebut tidak ditepati meskipun Hasan telah syahid (Hitti, 1970:199).

Muawiyah diangkat menjadi khalifah pada 40 Hijriah (660 M) di Iliya (Yerussalem). Kemudian, ia memindahkan ibukota ke basis kekuatannya di Damaskus.

Editor: Zahra

Share Artikel

contributor

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ushuluddin yang mencintai Hadits, Sejarah dan Filsafat. Dapat disapa melalui akun Instagram @lhu_pin

Tinggalkan Balasan