Etika Berdebat Ilmu Agama Menurut Mbah Maimun Zubair - IBTimes.ID
Akhlak

Etika Berdebat Ilmu Agama Menurut Mbah Maimun Zubair

3 Mins read

Kitab Nushush al-Akhyar fi al-Shaumi wa al-Akhyar setidaknya mampu menjadi pelepas kerinduan kita terhadap kearifan guru kita yang mulia, Mbah Maimun Zubair. Pada dasarnya kitab ini mengandung informasi-informasi seputar tafsir al-Qur’an, khususnya tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa serta hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.

Namun demikian, terdapat hal menarik pada bagian muqaddimah buku ini yang perlu kita bahas dalam tulisan ini, khususnya tentang pandangan Mbah Maimun Zubair terhadap perbedaan pendapat yang terjadi di zaman dahulu dengan perbedaan pendapat yang terjadi di zaman sekarang.

***

Mbah Maimun mengatakan:
أما بعد: فقد وقع في هذه العصور الأخيرة كثرة الإختلاف واشتباك الآراء التي تؤدي إلى التباغض والتدابر واختلاف الأمة و أئمتهم فيما يتعلق بأمور الدين …
“Belakangan ini marak sekali terjadi pertentangan dan perbedaan pandangan yang mengarah kepada tindakan saling membenci. Perdebatan juga terjadi di kalangan umat (rakyat) dan juga pemimpin-pemimpin mereka, khususnya yang berkaitan dengan persoalan agama…”

Penggalan kalimat ini dapat kita interpretasikan sebagai sebuah isyarat keprihatinan dari Mbah Maimun Zubair terhadap fenomena yang sejatinya tidak lazim terjadi selama ini di kalangan umat Islam, yaitu pertentangan antar sesamat umat dan pertentangan antara pemimpin atau orang-orang yang berpengaruh di tengah umat mengenai persoalan agama.

Hal ini dapat terindikasi dari kata “al-‘ushur al-akhirah” yang secara spesifik bermakna bahwa peristiwa tersebut baru terjadi di waktu belakangan ini, dan jarang terjadi di waktu-waktu sebelumnya.

***

Mbah Maimun melanjutkan:
مما لم يكن معهودا في أوائلها المتقدمين عصر أن كان الإختلاف بينهم رحمة كما هو مقتضى مدلول حديث الرسول ص.م.: (اختلاف أمتي رحمة
“… di mana hal tersebut tidak pernah terjadi di satu masa pun di generasi pendahulu kita. Perbedaan yang terjadi di antara mereka justru memunculkan suatu rahmat, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya: (Perbedaan yang terjadi di antara umat ku adalah rahmat)”.

Baca Juga  Keutamaan Ilmu dan Dalil dalam Al-Qur'an

Benar saja, kalimat lanjutan di atas secara jelas menyatakan bahwa persoalan agama justru menjadi sebuah rahmat bagi orang-orang di zaman terdahulu ketika dijadikan sebagai objek perdebatan.

Selanjutnya Mbah Maimun menerangkan bahwa semenjak dahulu perdebatan sejatinya selalu bergulir dari waktu ke waktu antara seorang mujtahid dengan mujtahid lainnya, bahkan jauh lebih sengit.

Akan tetapi perdebatan yang mereka lakukan bukan menjerumuskan mereka pada pertikaian, melainkan memunculkan pengetahuan yang baru. Ribuan kitab terlahir dari hasil perdebatan itu. Sebut saja perdebatan yang terjadi antara Imam al-Ghazali dengan Ibnu Rusyd di bidang filsafat yang justru melahirkan banyak sekali ilmu pengetahuan baru melalui kitab-kitab yang mereka tulis.

Menurut Mbah Maimun, perbedaan pendapat yang dialami oleh umat zaman dahulu didasari atas kesadaran mereka terhadap sebuah kaidah yang mengatakan bahwa seorang mujtahid tidak boleh ber-taqlid kepada mujtahid yang lain (المجتهد لا يقلد مجتهدا أخر).

Dari kesadaran ini akhirnya mereka berusaha untuk menerima perbedaan yang terjadi, namun tetap berpegang teguh dengan apa yang mereka yakini, atau terhadap apa yang mereka ikuti dari pendapat guru-guru mereka.

***

Ini agaknya jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di abad modern. Eksistensi kemujtahidan seorang ulama tidak dipandang sebagai sebuah kewajaran, melainkan dianggap sebagai pelencengan yang harus disingkirkan.

Masing-masing golongan berupaya sekuat tenaga untuk membela pendapat masing-masing, namun juga berusaha untuk mempersoalkan bahkan menghujat pendapat dari golongan yang lain.

Pada akhirnya terjadilah sikap saling membenci dan muncul perselisihan antar sesama umat. Bahkan tidak jarang kita jumpai ada sebagian golongan yang enggan untuk shalat di suatu masjid yang diimami atau diisi oleh jamaah yang berpegang pada pendapat dari golongan yang lain.

Baca Juga  Nu’aiman: Sahabat yang Sering Membuat Rasulullah Tertawa

Padahal Buya Hamka telah memberikan contoh yang begitu indah tatkala ia diminta mengimami suatu masjid yang mayoritas jamaahnya biasa membaca doa qunut ketika shalat subuh. Meskipun dalam kesehariannya beliau tidak melakukannya, namun beliau justru menegadahkan tangannya sembari dengan lantang membaca doa qunut di saat mengimami jamaah di masjid tersebut.

Ketika jamaah bertanya perihal alasan beliau melakukan hal itu, beliau dengan bijak menjawab. “Dulu saya memang tidak tahu bahwa qunut itu boleh dibaca saat shalat, namun belakangan saya baru tahu bahwa ternyata itu juga dibolehkan”.

***

Dalam keterangan selanjutnya Mbah Maimun Zubair mengatakan:
كان أسلافنا الصالحون إذا حصل بينهم اختلاف في مسألة من المسائل يكون اختلافهم سببا لمصالح الأمة
“Ketika generasi pandahulu kita mendapati suatu perbedaan terhadap suatu masalah tertentu, maka perbedaan tersebut akan menjadi sebab dari lahirnya kemaslahatan di tengah umat.”

Kalimat ini seolah menjadi sindiran halus terhadap umat Islam zaman sekarang yang seringkali menjadikan perbedaan pendapat sebagai sumbu untuk menyalakan api perpecahan.

Hal tersebut semakin diperparah dengan kehadiran sosial media yang membuat cakupan dalam berkomunikasi kian meluas. Hujatan dan makian datang silih berganti demi mengukuhkan pendapat golongannya, dan menghujat pendapat dari golongan yang lain.

Pada akhirnya yang terjadi hanya lah debat kusir yang sama sekali tidak melahirkan pengetahuan yang baru, dan malah justru membuat pengetahuan itu sendiri menjadi pudar tak bercahaya.

Oleh sebab itu mari kita renungkan kembali pesan singkat dari Mbah Maimun Zubair melalui kitab Nushush al-Akhyar fi al-Shaumi wa al-Akhyar ini agar momentum Ramadhan di tahun ini dapat menjadi pemersatu umat untuk saling bahu-membahu dalam mewujudkan persatuan dan perdamaian.

Baca Juga  Fastabiqul Khairat untuk Menyikapi Sertifikasi Penceramah

Referensi:
Maimun Zubair Dahlan al-Hajj, Nushush al-Akhyar fi al-Shaumi wa al-Akhyar, Al-Ma’had al-Diniyy al-Anwar, Rembang, Tt., hlm. 1-2.

Avatar
1 posts

About author
Awardee of LPDP Santri 2019, The Assistant Secretary of Kalijaga Scholars
Articles
Related posts
Akhlak

Psikologi Islami: Karakter Sabar dalam Ibadah Puasa

6 Mins read
Keutamaan Puasa Secara Lahir dan Batin Dari macam-macam ibadah, apabila ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya, maka puasa merupakan ibadah yang berbentuk…
Akhlak

Lakukan ini Saat Menyambut Bulan Ramadhan!

2 Mins read
Menyambut Ramadhan Jika kita sebagai hamba selalu memohon untuk terus dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan di setiap tahunnya, maka kita juga harus…
Akhlak

Muslim Sejati itu Saleh Sosial, bukan Saleh Ritual!

5 Mins read
Menjadi Seorang Muslim Apa sebenarnya yang diinginkan Allah dari kita? Kita yang sejak lahir adalah Muslim, tentu sudah sepatutnya tidak merasa keislaman…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa