Gagasan Modernisasi dan Salah Kaprah Sekulerisasi

 Gagasan Modernisasi dan Salah Kaprah Sekulerisasi

Oleh: Saadoe’ddin Djambek

Kita sebagai bangsa hingga sekarang masih terlalu suka menggunakan kata-kata besar buat usaha-usaha yang sederhana dan normal saja. Dahulu, kita menggunakan kata-kata ”mercu suar,” ”pembangunan semesta,” dan lain-lain. Sekarang banyak di antara kita yang keranjingan modernisasi.

Modernisasi dan Sekulerisasi

Orang Amerika dan orang Rusia mengurus penerbangan ruang angkasa mereka agar kapal ruang angkasa yang dapat meninggalkan atmosfir bumi tanpa mengalami kecelakaan hebat. Tetapi kita mengurus banyak soal-soal masyarakat dan negara kita. Memang, yang satu adalah ilmiah, yang satu lagi bukan ilmiah. Yang satu modern, yang satu lagi sama sekali tidak modern.

Kalau keinginan hanya sekedar memberantas jimat, kuburan keramat, dukun palsu, keris pusaka, dan lain-lain, maka tidak tepatlah digunakan kata ”modernisasi.” Karena usaha-usaha demikian sudah mulai dijalankan di zaman kolonial dahulu oleh ulama-ulama Isalm masa itu, kakek-kakek dari ”modernisator” yang hidup zaman sekarang. Dalam pada itu, ada pula orang yang menganjurkan pemakaian suatu alat khas ”made ini Europe,” yaitu sekularisme. Yang dipujikan sebagai cara yang pasti membawa kepada modernisasi seluruh masyarakat.

Memang, sekularisme telah berjasa dalam menyelamatkan masyarakat Eropa dari kehancuran total yang pasti, disebabkan ketegangan-ketegangan hebat yang tak kunjung padam. Tanpa sekularisme, Eropa akan lebih lama tetap terpendam dalam kegelapan abad-abad pertengahan. Tetapi itu merupakan sejarah tersendiri dengan kondisi dan situasi khas Eropa  abad-abad sebelum Renaissance.

Gagasan Salah Kaprah

Situasi dan kondisi di Indonesia berbeda sama sekali. Bila kita meraih sekularisme dengan harapan ia dapat digunakan sebagai alat ampuh yang akan membawa masyarakat kita ke arah kemajuan dan kesejahteraan, maka keadaannya tidak jauh berbeda dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Yaitu, tatkala pemerintah kita membeli sebuah kapal laut, yang belakangan ternyata rupanya khas dibuat bagi penggunaan di daerah kutub. Tentu saja kapal itu tidak dipakai di daerah kita yang beriklim panas sepanjang tahun.

Baca Juga  Geografi Masa Eksperimen Awal

Atau mungkinkah juga keadaan masyarakat kita telah sedemikian parahnya? Sehingga setiap apa saja yang kita sangka dapat memberikan sedikit pertolongan, lalu kita pegangi dengan semangat seseorang yang jatuh ke dalam sungai yang sedang banjir. Ia mencoba menyelamatkan dirinya dengan ”merangkul” tanpa perhitung apa saja yang kebetulan ada di dekatnya.

Boleh juga kita gunakan gambaran lain, yaitu di tengah-tengah keramaian pasar malam kedengaran teriakan: ”copet! Copet!” Ada seorang yang menunjuk kepada seorang laki-laki yang berjalan agak cepat, lalu orang banyak segera mengejar dan mengepungnya. Tetapi ternyata lelaki yang dikepung itu tidak bersalah sama sekali. Rupanya, yang menunjuk pertama kali itulah yang copet sebenarnya. Ia tentu sudah cepat menghilang dan di antara orang banyak itu tidak ada seorang yang dapat mengenalnya kembali.

Sekulerisasi di Indonesia

Dalam tahun-tahun terakhir ini golongan dan masyarakat Islam banyak kali benar telah dijadikan sasaran penunjukan, pada waktu-waktu belakangan ini dengan mengemukakan soal sekularisme dan modernisasi. Tak dapat disangkal, bahwa keadaan itu akan membawa umat Islam kepada lebih menyadari kedudukan dan potensinya yang sebenarnya.

Yang jelas ialah, bahwa masyarakat beragama di Indonesia susunan dan kondisinya berbeda sama sekai dengan masyarakat Eropa di abad-abad pertengahan, yang di dalamnya mengandung bibit-bibit yang mengharuskan pemisahan yang pasti antara agama dan ilmu pengetahuan.

Sumber: Makalah dengan judul “Ilmu Pengetahuan, Modernisasi, dan Sekularisme” karya Saadoe’ddin Djambek tahun 1960-an. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat proses penyuntingan.

Editor: Arif 


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *