H.M. Rasjidi (2): Sang Pahlawan Nasional - IBTimes.ID
Inspiring

H.M. Rasjidi (2): Sang Pahlawan Nasional

5 Mins read

(H.M. Rasjidi (1): Tokoh Muhammadiyah, Menteri Agama Pertama) — Penolakan kalangan tokoh dan aktivis Islam terhadap RUU Perkawinan yang bercorak sekuler menimbulkan aksi demonstrasi yang membuat panas situasi politik nasional. Pemerintah akhirnya mengubah sikap sehingga melakukan perbaikan mendasar terhadap konsep RUU. DPR akhirnya mensahkan Undang-Undang Perkawinan yang substansinya dapat diterima oleh seluruh umat Islam (Undang-Undang No 1 Tahun 1974).

Dalam Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1399 H/1979 M di halaman Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta, Rasjidi menegaskan bahwa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak menjamin negara kita tidak akan menjurus menjadi sekularisasi.

Dua Tipe Ateisme Menurut Rasjidi

Di dalam suatu negara, baik struktur negara tersebut atau orangnya masing-masing mempunyai peranan. Mengenai ateisme, Rasjidi menggaris-bawahi: ada dua ateisme, yaitu:

Pertama, ateisme philosophis yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dan atas dasar itu ia bertindak dan berbuat seakan-akan Tuhan tidak ada. Akan tetapi di samping ateisme philosophis tersebut, ada lagi yang kedua, ateisme praktis, yakni orang mengatakan bahwa Tuhan itu ada, bahwa agama itu perlu.

Akan tetapi meskipun demikian, pekerjaan dan tindakannya sama dengan orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Rasjidi mengajak umat Islam menghadapi tantangan terhadap agama, terhadap eksistensi kita dengan jiwa besar, hati yang tabah, dan iman yang kuat.

Dalam buku Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam? (1968), Rasjidi memperingatkan kepada seluruh umat beragama, khususnya pemeluk agama Kristen, jika mau membantu umat Islam yang sedang menderita kelaparan, kebodohan dan sakit, silahkan untuk membantu, tetapi biarkanlah mereka itu dalam keyakinan Islamnya. Wartawan senior H. Rosihan Anwar menyebut Rasjidi “pengungkap gamblang hubungan antar-agama di Indonesia”.

Menanggapi isu masuknya bahaya paham Syi’ah ke Indonesia, Rasjidi menulis buku Apa Itu Syi’ah (1984). Tujuan ditulisnya buku itu adalah untuk memberi pengertian kepada masyarakat tentang Syi’ah dan perbedaannya dengan Ahlusunnah.

Sementara itu, dalam buku kecil Hendak Dibawa Ke Mana Umat Ini? (1988), Rasjidi berpesan, “Ukhuwah Islamiyah pada waktu ini sangat penting, karena umat Islam sedang dirongrong oleh kekuatan internasional yang sangat besar.”  

Buku-buku Karya Rasjidi

Semasa hidupnya, Rasjidi seorang yang aktif dalam kegiatan ilmiah dan dakwah. Ia menuangkan buah pikiran dan pandangan-pandangannya yang jernih melalui buku dan artikel. Buku-buku karya Rasjidi yang saya catat, di antaranya:

Filsafat Agama, Agama dan Etik, Islam dan Sosialisme, Islam Menentang Komunisme, Islam dan Kebatinan, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam?, Islam dan Indonesia Di Zaman Modern, Koreksi Terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Keutamaan Hukum Islam, Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi, Falsafah Agama, Islam dan Teori-teori Politik, Sikap Umat Islam Indonesia Terhadap Ekspansi Kristen, Kasus RUU Perkawinan dalam Hubungan Islam dan Kristen, Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia di Jakarta 1975 artinya Bagi Dunia Islam, Dari Rasjidi dan Maududi kepada Paus Paulus VI, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional (tanggapan terhadap tulisan AMW Pranarka), Hukum Islam dan Pelaksanaannya dalam Sejarah, Apa itu Syi’ah?, dan Hendak Dibawa Kemana Umat Ini

Selain itu, ia juga menerjemahkan beberapa karya pemikiran Barat ke dalam bahasa Indonesia, seperti: Bible, Quran dan Sains Modern (Maurice Bucaille), Humanisme dalam Islam (Marcel A. Boisard), Janji-Janji Islam (Roger Garaudy), dan Persoalan-Persoalan Filsafat (Harold A. Titus). 

Dalam buku Agama dan Etik (1972), Rasjidi mengemukakan bahwa etika menurut ajaran Islam adalah etika yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam masa pembangunan dan sesudahnya, dan dalam kehidupan nasional maupun internasional. “Jika nama “Islam” tidak dapat diterima, saya tidak berpegang pada nama, akan tetapi yang perlu bagi kita adalah ajaran-ajaran itu sendiri.” tandasnya.  

Mengkritisi Cara Pandang Harun Nasution

Ketika Prof. Dr. Harun Nasution, Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menulis buku teks untuk perguruan tinggi agama Islam berjudul Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Rasjidi merasa terpanggil untuk mengkritisinya.

Setelah menunggu dua tahun surat pribadinya yang mengusulkan agar Departemen Agama mengambil tindakan atas buku tersebut tidak dijawab oleh Menteri Agama, Rasjidi akhirnya menerbitkan buku dengan judul: Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” (1977).

Cara pandang buku Harun Nasution terhadap Islam “dibongkar” oleh Rasjidi lewat buku yang ditulisnya. Tulisan Harun Nasution lainnya tentang Akal dan Wahyu juga disanggah oleh Rasjidi secara tertulis.

Dengan demikian, Rasjidi sebagai guru bangsa telah mencontohkan tradisi ilmiah dalam mengkritik dan menyanggah buku hasil karya orang lain dilakukan dengan menulis buku. Kendati berseberangan pendapat dan berlawanan pemikiran, Rasjidi dan Harun Nasution adalah dua pribadi besar yang saling menghargai dan tidak memutus silaturahim.   

Prolog Rasjidi dalam Buku Bibel, Qur’an dan Sains Modern

Dalam buku terjemahan Bibel, Qur’an dan Sains Modern (1978), menarik disimak prolog yang ditulis Rasjidi tertanggal 1 September 1978 sebagai berikut: 

Pada bulan Maret 1977 saya mendapat kesempatan untuk menghadiri konferensi internasional Islam Kristen di kota Kordoba di Spanyol. Bepergian saya tersebut sangat berfaedah, karena memberi gambaran kepada saya tentang masa gemilang umat Islam di negeri Spanyol. Masjid Kurtubah yang sudah berusia 12 abad (didirikan tahun 786) itu masih berdiri dengan megahnya, walaupun sudah tidak dipakai untuk sembahyang dan di dalamnya telah didirikan sebuah katedral.

Setelah selesai konferensi, saya mengunjungi kota Paris untuk mengenang masa muda saya, ketika pada tahun 1956 saya mempertahankan tesis saya di Sarbonne. Pada suatu hari, saya mengunjungi Masjid Paris yang megah. Di tempat itu saya ketemukan buku yang berjudul La Bible, le Coran et la science. Segera saya membeli satu naskah. Buku itu saya baca sampai tamat.  Buku tersebut telah menarik hati saya.

Seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis, yaitu Dr. Maurice Bucaille telah mengadakan studi perbandingan mengenai Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan Quran serta sains modern. Akhirnya ia mendapatkan kesimpulan bahwa dalam Bibel terdapat kesalahan-kesalahan ilmiah dan sejarah, karena Bibel telah ditulis oleh manusia dan mengalami perubahan-perubahan yang dimuat oleh manusia.

Mengenai Al Quran ia berpendapat bahwa sangat mengherankan bahwa wahyu yang diturunkan 14 abad yang lampau, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui manusia pada abad ke-20 atau abad ke-19 dan ke-18. Atas dasar itu Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al Quran adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

Pandangan terhadap Perkembangan Islam Kontemporer di Indonesia

Rasjidi mengungkapkan, “Setelah membaca buku tersebut, saya merasa bahwa saya harus menyampaikan isi buku tersebut kepada bangsa Indonesia, yang selalu menunjukkan perhatiannya kepada agama. Maka saya terjemahkan buku tersebut, dengan harapan mudah-mudahan isinya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mencari kebenaran dan mencari pegangan hidup, khususnya para cendekiawan yang tidak sempat mempelajari Islam dari sumber-sumber yang memuaskan.”   

Pandangan terhadap perkembangan Islam kontemporer di Indonesia pernah diutarakan oleh Rasjidi, “Menggembirakan. Dulu di zaman Belanda hanya sedikit orang Islam yang berminat kepada Islam, kini jamaah masjid dan majelis taklim melimpah. Ternyata perkembangan Islam itu tidak bisa dihambat. Itu semua berkat kerja keras kita bersama. Anak-anak demikian bergairah. Tetapi bahwa ada di antara anak-anak muda itu yang berpikiran aneh-aneh dan menjual dirinya untuk kepentingan sesaat, tentu sangat disayangkan. Saya yakin tanpa berpikiran aneh dan menjual diri, Islam ini akan tetap berkembang.” tegas Rasjidi kepada Serial Media Da’wah.

Semasa hidupnya Rasjidi memperoleh tanda penghargaan Bintang Mahaputera Utama atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara yang diserahkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara pada 15 Agustus 1989. Ia dianugerahi Bintang Mahaputera berdasarkan usulan dari Departemen Luar Negeri.

“Saya sendiri heran. Bintang Mahaputera itu kan kecil saja, tapi telepon di rumah saya terus menerus berdering-dering menanyakan soal itu. Belum lagi kawat (telegram), dan permohonan wawancara dari berbagai media massa yang datang bertubi-tubi,” ungkap beliau kepada Mohammad Syah Agusdin dan Lukman Hakiem dari Serial Media Dakwah yang mewawancarainya satu hari menjelang peringatan hari ulang tahun ke-44 kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1989. 

Pelepasan Terakhir Sang Pahlawan Nasional

Perjumpaan saya dengan Pak Rasjidi di kediamannya pada dekade 1990-an merupakan satu kenangan yang tak terlupakan. Setelah Pak Rasjidi wafat, saya sempat beberapa kali silaturahim dan menjenguk Ibu Hj. Siti Sa’adah Rasjidi yang kini juga telah berpulang.

Saya ikut hadir melepas jenazah almarhum Pak Rasjidi dari Rumah Sakit Islam Jakarta di Cempaka Putih menjelang diberangkatkan dengan pesawat terbang ke Yogyakarta. Tokoh Islam yang hafal Al-Quran itu dimakamkan di pemakaman keluarga di Kotagede Yogyakarta.

Rasjidi amat layak dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Meski beliau dalam berjuang untuk bangsa, negara, dan agama semasa hidupnya, ia tidak pernah memikirkan penghargaan semacam itu. 

Semoga arwahnya bahagia di alam akhirat yang abadi. 

Editor: Zahra

M. Fuad Nasar
4 posts

About author
Merupakan Akitivis zakat. Penulis buku Fiqh Zakat Indonesia yang diterbitkan BAZNAS tahun 2015. Menjadi anggota tim editor buku Ensiklopedi Pemikiran Yusril Ihza Mahendra (2015/2016)
Articles
    Related posts
    Inspiring

    Lukman Harun (1): Aktivis HMI dan Muhammadiyah

    2 Mins read
    Suatu ketika di tahun pertama pasca bergulirnya gerakan Reformasi, saya bertemu Lukman Harun di DPR-RI. Waktu itu ia menjadi anggota Komisi II…
    Inspiring

    Merdeka Belajar ala Mas Guru

    3 Mins read
    Saya merasa menjadi manusia beruntung seberuntung-beruntungnya karena menjadi murid Mas Guru Iqbal Aji Daryono. Tahu kenapa? Pasalnya, Kelas Menulis Online Iqbal Aji…
    Inspiring

    KH Hasyim Asy'ari: Mewarnai Hidup dengan Kebaikan Akhlak

    3 Mins read
    Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari dilahirkan dari kedua orang tua bernama Kiai Asy’ari dan Halimah pada  14 Februari 1871 M bertepatan dengan…

    Tinggalkan Balasan