Haedar Nashir, Pelopor Moderasi Keindonesiaan

 Haedar Nashir, Pelopor Moderasi Keindonesiaan

Sumber: Kumparan.com

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat atas anugerah guru besar yang diraih Dr. Haedar Nashir di bidang sosiologi. Dr. Haedar, sapaan akrab ke beliau, memang bukanlah orang yang pertama, yang secara brilian memformulasikan konsep Islam dan keindonesiaan. Nama-nama tenar seperti Nurcholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif dan Abdurrahman Wahid, adalah tiga guru bangsa yang sebelumnya mengupayakan formulasi intelektual ini.

Tetapi dalam bidang sosiologi masyarakat Islam, tentu saya mengklaim, Dr. Haedar adalah peletak dasarnya. Ia berhasil memberikan kontribusi yang signifikan, bukan sekedar mengenai diagnosa sosial pada kondisi-kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini. Namun, juga mampu menyusun preskripsi-preskripsi (baca: obat penawar) yang masuk akal dan barangkali, manjur.

Proyek Moderasi Islam

Banyak orang mengira bahwa, moderasi Islam atau promosi gagasan Islam moderat adalah sekedar wacana belaka. Atau, sekurang-kurangnya sekedar konsep. Tetapi berbeda dengan apa yang diusahakan Dr. Haedar. Ia sebagai intelektual cum aktivis, menjadikan moderasi Islam sebagai proyek. Proyek yang dimaksud adalah rekayasa sosial politik.

Melalui proyek itu, aktivis Muhammadiyah garda depan ini, ingin mendorong masyarakat Muslim Indonesia agar supaya mempertimbangkan, mengkontestasikan dan pada akhirnya mengafirmasi gagasan dan kesadaran washathiyyah Islam. Hal ini jelas berbeda dengan upaya indoktrinasi dan bahkan yang lebih kasar adalah pemaksaan dan persekusi.

Bahkan secara tegas, Dr. Haedar menyebutkan bahwa, deradikalisasi terhadap pelbagai ideologi keagamaan yang radikal, hendaknya tidak dilakukan dengan cara yang radikal pula. Kekerasan, misalnya, mustahil ditangani dengan cara yang keras pula.

Apa yang diajukan Dr. Haedar, mirip dengan konsep auto-imunisasi yang digagas oleh filsuf Perancis, Jacques Derrida. Derrida menyebut, penggunaan kekerasan yang sama untuk mengatasi kekerasan, adalah upaya untuk mengimunisasi imunnya sendiri. Padahal, masyarakat tentu memiliki kekebalan (imun) yang mampu menyelesaikan masalah, tanpa masalah (kekerasan).

Baca Juga  Melihat Muhammadiyah 2045

Karena itulah, melalui proyek penting ini, Dr. Haedar ingin menyebarluaskan secara massif kesadaran Islam yang moderat di tengah-tengah kaum Muslim Indonesia. Jadi, yang menjadi target proyeknya adalah masyarakat, sebagai entitas sosial yang bersifat material dan konkret.

Mengapa Moderasi?

Ideologi Islam tengahan, menurutnya adalah yang paling ideal dalam mewujudkan peradaban Islam yang berkemajuan. Ketika kaum Muslim tidak secara ekstrem condong ke arah pemuliaan simbol, identitas dan hukum Islam secara membabi-buta (konservatisme), sekaligus tidak terlampau sekular, liberal dan bahkan anti agama, maka kondisi equilibrium dapat terwujud.

Ekstrem kanan maupun kiri, jelas membawa kepada kerentanan. Kerentanan itulah yang mempertajam adanya ketegangan dan pada akhirnya, konflik. Ketegangan dan konflik, merupakan perwujudan instabilitas. Sementara itu instabilitas, menguras energi kita untuk bertengkar, bercekcok dan membuat masalah-masalah baru (bukan menyelesaikan masalah).

Nah, sekali lagi, moderasi Islam bertujuan mencapai equilibrium. Equilibrium atau kesetimbangan sosial ini dianggap lebih stabil, tidak membuka ruang protes, pemberontakan dan revolusi yang melelahkan. Equilibrium memberikan kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat untuk menempa kesadaran dan kedewasaannya dalam membangun peradaban.

Equilibrium yang berkesadaran ini lebih mudah menghasilkan pelbagai konsensus sosial-politik atau musyawarah. Sehingga, agenda pembangunan seluruh masyarakat, terutama kaum Muslim sebagai mayoritas, berlangsung secara massif dan signfikan.

Modal Haedar

Dr. Haedar memiliki modal yang besar dan kuat dalam mengupayakan moderasi. Pertama, ia memiliki tradisi sosial dan intelektual yang mapan dengan ideologi dan gerakan Muhammadiyah: rumah besar di mana ia lahir, tumbuh dan menjadi matang. Kedua, ia memiliki massa yang bisa bergerak dan berpotensi menciptakan perubahan sosial yang signifikan.

Muhammadiyah sebagai tradisi, memiliki dua hal yang esensial. Pertama, Teologi al-Ma’un dan yang kedua, Teologi al-‘Ashr.

Baca Juga  Bermuhammadiyah Itu Berislam

Jika yang pertama menjadikan doktrin keagamaan sebagai inspirasi untuk mengupayakan hal yang berguna (atau yang bersifat transformatif) bagi masyarakat, yang kedua, spirit keagamaan menjadi dorongan yang luar biasa untuk bekerja secara giat, disiplin dan persisten dalam rangka menyelesaikan misi liberasi sosial keagamaan tertentu. Moderasi, berdiri di atas dua fondasi filosofis Muhammadiyah tersebut.

Di samping modal spirit keagamaan yang mencerahkan dan mendorong produktivitas, modal penting lainnya adalah konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kehidupan dan relasi sosial yang berlangsung di atas kemajemukan tersebut, mengandung nilai-nilai penting, yakni musyawarah, kebersamaan, persaudaraan dan pada akhirnya keindonesiaan (Bhinneka Tunggal Ika).

Al-Ma’un, Al-‘Ashr dan Keindonesiaan merupakan fondasi filosofis yang memastikan keberhasilan implementasi “moderasi” di tengah-tengah umat. Sementara aktivisme Muhammadiyah, merupakan motor penggerak yang mendorong massifitas proyek moderasi tersebut.

Kontekstualisasi Islam Moderat

Sebagai nahkoda gerbong transformasi sosial bersama Muhammadiyah, Dr. Haedar menyadari betul bahwa, masyarakat memerlukan gagasan yang dapat dipahami, dimengerti dan bahkan sesuai dengan keyakinan religius mereka.

Dengan kata lain, dalam proses aksi komunikatif (termasuk di dalamnya adalah transfer pengetahuan), perlu adanya “moderasi” yang ramah dengan konteks kesadaran masyarakat Indonesia.

Moderasi yang dimaksud, secara konseptual bersandar kepada gagasan besar Islam Berkemajuan. Tentu saja hal ini bukanlah Islam yang baru dan bermuatan bid’ah. Tetapi, Islam yang “dipahami” secara kontekstual, sehingga secara praktis, menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, Islam itu sendiri sudah sangat genap dengan kemanusiaan. Akan tetapi, pemikiran Islam atau penafsiran akan ajaran agama Islam, tidak semuanya memiliki cakrawala yang menjunjung nilai-nilai tersebut. Terlebih bahwa, kurang membumi (alias kurang mengakar pada realitas masyarakat yang konkret dan material).

Baca Juga  Dinamika Kader Muhammadiyah dalam Politik Elektoral

Dengan demikian, pemikiran Islam yang kurang sensitif dengan nilai-nilai inti Islam itu sendiri (kemanusiaan yang konkret), perlu dipersoalkan, dipikirkan-ulang dan diselesaikan dengan pelbagai cara yang paling baik dan bijaksana.

Pemikiran yang legal-sentris misalnya, hanya menekankan aspek tata aturan moral yang ketat (halal-haram; benar-salah; hitam-putih), sehingga mengabaikan aspek-aspek substantif yang lebih mendasar.

Sementara itu, pemikiran yang sufistik cenderung menekankan aspek etis-estetis dan bahkan mistik, sehingga, sekali lagi, dimensi kemanusiaan yang lebih konkret tidak mendapatkan perhatian khusus.

Hal-hal yang demikian, harus digeser sedikit, sehingga memiliki empati yang cukup, yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan (baca: orang-orang miskin, kelompok rentan, kaum marginal dan korban ketidakadilan, khususnya di Indonesia).

Dus, kontekstualisasi proyek moderasi harus dilakukan dalam bingkai keindonesiaan dan didirikan di atas landasan Islam Berkemajuan.

Editor: Nabhan Mudrik Alyaum

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Hasnan Bachtiar

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, pendiri the Reading Group for Social Transformation (RGST).

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *