Inspiring

Haedar Nashir, Tokoh Pendidikan Nasional

2 Mins read

Bila mendengar nama Haedar Nashir, yang terburai dalam ingatan kita adalah organisasi Muhammadiyah. Ia adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat organisasi tersebut. Tapi tulisan ini tidak bermaksud menggurat posisi beliau sebagai pimpinan organisasi.

Penulis terketuk meninjau sosok dan pemikiran Haedar dari sisi yang lain, utamanya setelah berkali-kali berinteraksi langsung dengan beliau, baik pertemuan langsung atau melalui pesan Whatsapp.

Menurut penulis, Haedar adalah tokoh fenomenal, tapi ia tidak kontroversial. Ia tidak seperti segelintir ‘tokoh’ nasional yang meraup puja-puji dari deretan kontroversi yang sengaja diciptakan sendiri. Haedar adalah tokoh fenomenal yang autentik dan sejati.

Sebagai pemikir, ia banyak mencetuskan ide dan wacana sebagai respon atas kondisi sosial. Salah satu bidang ilmu yang ia dalami adalah pendidikan. Ini terbukti dari karya pemikiran serta gerakan yang ia cetuskan demi memperbaiki masalah pendidikan, khususnya pendidikan nasional.

Haedar Nashir Tokoh Pendidikan Nasional

Ada beberapa alasan mengapa Haedar Nashir bisa disebut sebagai tokoh pendidikan nasional. Pertama, Haedar adalah salah satu tokoh nasional yang tekun memikirkan nasib pendidikan nasional.

Ini utamanya terlihat dari produktivitasnya menulis, baik berupa artikel di media massa maupun buku utuh. Salah satu buku Haedar yang konsentrasi membahas pendidikan ialah buku Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Kebudayaan (2013).

Selebihnya, Haedar banyak menulis di media massa. Dalam banyak kesempatan ia juga kerap tampil berkomentar, merespon kebijakan pemerintah mengenai pendidikan.

Kedua, aktivitasnya di Muhammadiyah dan konsentrasinya membangun pendidikan Muhammadiyah. Dengan posisinya sebagai pucuk tertinggi, Haedar tampak terang memberikan perhatian penuh pada pengembangan pendidikan.

Ini terbukti dengan kian banyaknya lembaga pendidikan Muhammadiyah yang diresmikan di era kepemimpinan Haedar Nashir. Penambahan kuantitas lembaga pendidikan itu secara langsung tentu berdampak pada peningkatan kualitas masyarakat.

Baca Juga  Gus Yahya dan Pak Haedar, Dua Kepak Sayap Moderasi Islam di Dunia Global

Ketiga, integritas dan ketauladanan beliau sebagai individu terdidik. Haedar dikenal bukan saja karena kecerdasan intelektualnya yang mumpuni, namun juga sebab kemampuannya mengelola emosi dan mentalnya.

Ia juga mampu mempertahankan keanggunan moralnya ditengah situasi dimana orang ‘terdidik’ (memiliki gelar pendidikan) justru kerapkali melakukan tindakan penyimpangan sosial di masyarakat. Haedar mampu memanifestasikan kedalamam ilmu pengetahuannya dalam laku hidup sehari-hari.

Kharisma Haedar sebagai salah satu tokoh nasional tidak jarang mengundang reaksi publik. Banyak tokoh nasional lainnya yang mengapresiasi pemikiran, sikap dan laku hidupnya.

Ketauladanannya tersebut kian membuatnya populer dan dikenal luas oleh masyarakat luas. Meski begitu, ia tetap tumbuh dan hadir sebagai manusia yang low profile, tidak gila pujian.

Buah Pemikiran Pendidikan Haedar Nashir

Dalam banyak pemikirannya, khususnya pada buku Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Kebudayaan (2013), Haedar tampak terang berupaya membangun konsep pendidikan integral yang mampu menyeimbangkan antara aspek budaya, moral dan agama. Konsep ini sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional.

Konsep pendidikan Haedar Nashir tersebut tidak terlepas dari amatannya pada kondisi lembaga pendidikan yang tengah mengalami tantangan berat. Utamanya tantangan internal berupa orientasi dan impelementasi pendidikan nasional yang kerap bertumpu pada usaha memenuhi kebutuhan pragmatis belaka semisal pemenuhan lapangan kerja.

Pada saat yang sama, lembaga pendidikan nasional juga menghadapi tantangan ekstrenal berupa arus globalisasi yang berpotensi menggerus nilai-nilai budaya yang di anut oleh masyarakat Indonesia.

Tantangan dan persoalan tersebut mengharuskan revitalisasi pendidikan agar di satu pihak lembaga pendidikan dapat mempertahankan keberadaannya sebagai lembaga kebudayaan, pada saat yang sama juga mampu beradaptasi terhadap laju perubahan dan kemajuan zaman tanpa kehilangan jati diri kebangsaan. Lembaga pendidikan nasional membutuhkan paradigma pendidikan karakter yang berbasis pada agama dan kebudayaan. Upaya revitalisasi tersebut didukung dengan peran guru menggunakan mata pelajaran untuk menginternalisasikan nilai-nilai kebudayaan, keagamaan dan kebangsaan.

Baca Juga  Pesawat R80, Apakah Mimpi BJ Habibie Akan Kandas Lagi?

Dalam hubungannya dengan kebijakan pendidikan nasional. Haedar Nashir selalu mendengungkan perlunya merumuskan kebijakan yang dibangun di atas landasan konstitusi yang berlaku, utamanya pasal 31 UUD 1945. Dalam perumusan tersebut, menurut Haedar perlu melibatkan partisipasi organisasi masyarakat dan civil society. Pemerintah dalam hal ini bertindak sebagai eksekutor.

Gugus pemikiran Haedar Nashir mengenai pendidikan nasional memperlihatkan kepeduliannya pada pendidikan, seraya itu juga menggambarkan kedalaman ilmunya mengenai arti penting pendidikan di Indonesia. Perhatian dan upaya yang terus konsisten dilakukan oleh Haedar Nashir menjadikannya layak menjadi tokoh pendidikan nasional.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
8 posts

About author
Ketum DPD IMM Daerah Istimewa Yogyakarta
Articles
Related posts
Inspiring

Merawat Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Awal tahun 1970-an ditandai dengan babak pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. Kemunculan intelektual publik seperti almarhum…
Inspiring

Candra Sihotang, Guru Madrasah Berprestasi yang Pernah Jadi Buruh

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Jika Presiden Indonesia, Joko Widodo punya tagline “Kerja, Kerja, Kerja”, tampaknya slogan “Berjuang, Berusaha, Berprestasi” cocok disematkan kepada Candra…
Inspiring

Maftuhah Mustiqowati, Guru Madrasah Pelopor Peduli Lingkungan

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Seringkali orang akan acuh ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan, penghijauan bumi, serta upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *