Jejak sejarah umat Islam telah mencatat kemunculan gerakan-gerakan radikal, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah. Hal ini terjadi pada masa kepemimpinan Khulafaurrasyidin dan kekuasaan dinasti Abbasiyyah. Pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, kelompok yang tidak sepakat dengan tahkim (arbitrase) dalam perang Siffin menyatakan keluar dari jamaah dan membentuk gerakan politik tersendiri. Selanjutnya ada juga Hasyasyin: benih terorisme dalam sekte Syiah Ismailiyyah.

Mereka yang tidak sepakat dengan tahkim disebut dengan kaum Khawarij yang dikenal radikal. Bahkan sampai menghalalkan pembunuhan sesama Muslim, demi tujuan politik. Pada masa kepemimpinan dinasti Abbasiyyah, kaum Syi’ah Ismailiyyah berhasil mendirikan negara Qaramithah (899 M) di pesisir barat Padang Persia dengan ibukota pusat pemerintahan di al-Ahsa. Rezim Abbasiyyah memang berhasil menghancurkan negara Syi’ah ini. Tetapi sisa-sisa ajaran Ismailiyyah terus berkembang menjadi gerakan radikal baru (Neo-Ismailiyyah) di bawah kepemimpinan al-Hasan ibnu al-Shabbah (w. 1124 M).

Kelompok inilah yang dikenal dengan Hasyasyin: Benih Terorisme dalam Sekte Syiah Ismailiyyah. Sebuah gerakan politik bermotif pemuasan ambisi pribadi dan dendam. Kaum Hasyasyin mengorganisasi gerakan bawah tanah, melancarkan teror, pembunuhan, dan aksi martir.

Riwayat Qaramithah

Negara Qaramithah berawal dari sebuah gerakan Syi’ah Ismailiyyah yang dikembangkan oleh Hamdan Qarmath di kawasan pertanian Sawad sebelum tahun 874 M. Dalam Ensiklopedi Tematik Dunia Islam (jilid 2: 144), Syafiq Mughni menjelaskan bahwa gerakan Qaramithah pertama kali lahir bukan sebagai gerakan radikal. Akan tetapi, setelah bersinggungan dengan kekuasaan Abbasiyyah, gerakan ini menjadi radikal, terlebih lagi setelah terjadi perpecahan internal di kalangan Syi’ah Ismailiyyah.

Hamdan Qarmath adalah murid Abdullah, tokoh sentral gerakan Syi’ah Ismailiyyah. Ia telah mengklaim bahwa dirinya keturunan Muhammad bin Ismail. Tokoh yang diyakini sebagai Imam (al-Mahdi) pengganti Ja’far as-Sadiq.

Abdullah putra Maimun al-Qaddah (dukun), seorang tokoh Syi’ah yang mempraktekkan ilmu kebatinan. Dia telah mewarisi ilmu kebatinan dari ayahnya. Di bawah kepemimpinan Abdullah, gerakan Syi’ah Ismailiyyah yang bermarkas di Salamia (sebelah utara Suriah), mengirimkan da’i-da’i rahasia yang bertugas melakukan propaganda menumbuhkan skeptisme di tengah masyarakat.

Abdullah telah mempersiapkan skenario besar penggulingan kekuasaan Abbasiyyah. Akan tetapi, sebelum kudeta kekuasaan terwujud, penguasa Abbasiyyah berhasil mencium gerakan rahasia di bawah pimpinan Abdullah ini. Pada tahun 874, Abdullah tewas setelah gerakannya berhasil diredam oleh pasukan Abbasiyyah (Philip K. Hitti, 2006: 562).

Sebelum tewas, Abdullah telah berhasil mendidik seorang murid yang cerdas dan cerdik bernama Hamdan Qarmath. Mewarisi ilmu kebatinan dari sang guru, Qarmath mendirikan sekte kebatinan. Pada tahun 890 M, Qarmath mendirikan dar al-hijrah, sebuah markas gerakan baru dalam sekte Syi’ah Islamiliyyah yang terletak di dekat Kuffah. Pengikut-pengikut gerakan baru ini terdiri dari orang-orang Nabatea dan bangsa Arab.

Qaramithah Menjarah Hajar Aswad

Para penulis Barat memiliki penilaian tersendiri terhadap gerakan baru di bawah pimpinan Hamdan Qarmath ini. Dalam pengamatan para penulis Barat, gerakan Qaramithah merupakan komunitas rahasia yang didasarkan pada sistem komunisme. Inti ajaran adalah toleransi dan persamaan.

Setiap anggota baru harus melewati proses inisiasi dengan cara mengikuti ritual tertentu untuk mendapatkan pengakuan dari anggota lain. Didukung dengan dana yang ditarik dari para anggota, gerakan ini semakin solid. Berhasil mengorganisasi kelompok-kelompok pekerja di kawasan Sawad.

Sejarawan Philip K. Hitti (2006: 563) menegaskan, gerakan Qaramithah selangkah lebih maju dengan menetapkan peraturan tentang komunitas para istri dan hak milik. Di kalangan para penulis Barat, gerakan Qaramithah dikenal sebagai kelompok Bolsyewik-nya Islam. Gerakan ini telah menginspirasi gerakan-gerakan sosialis bawah tanah di Eropa (salah satu di antaranya adalah gerakan Freemasonry).

Gerakan Neo-Ismailiyyah yang cenderung komunis revolusioner pada akhirnya menjelma menjadi gerakan politik paling jahat dalam catatan sejarah umat Islam. Pada tahun 868 M dan 883 M, gerakan ini berhasil menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan dinasti Abbasiyah.

Pada tahun 899 M, di bawah kepemimpinan Abu Said al-Hasan al-Jannabi, gerakan Qaramithah berhasil mendirikan sebuah negara merdeka di pesisir barat padang Persia dengan al-Ahsa sebagai ibukota pemerintahan. Negara Qaramithah melancarkan teror dengan menaklukkan Yamamah dan Oman (903 M). Mereka menebar ketakutan kepada para jamaah haji di Irak. Pada tahun 930 M, kaum Qaramithah berhasil menyerang Makkah dan menjarah Hajar Aswad (Philip K. Hitti, 2006: 564).

Menyadari ancaman teror dari kaum Qaramithah, khalifah al-Aziz penguasa Abbasiyyah, berhasil meredam gerakan revolusioner ini. Pada tahun 978 M, setelah menyerang Mesir dan Suriah, kaum Qaramithah berhasil ditaklukkan oleh pasukan Abbasiyah. Kaum Qaramithah yang kalah kemudian memutuskan untuk mundur ke al-Ahsa setelah mendapat kompensasi berupa bantuan dari penguasa Abbasiyyah.

Hasyasyin: Benih Terorisme dalam Sekte Syi’ah Ismailiyyah

Negara teroris Qaramithah memang telah runtuh. Petualangan teror kaum Qaramithah juga telah berakhir. Akan tetapi, benih-benih ajaran Syi’ah Ismailiyyah tidak pernah mati. Al-Hasan ibnu al-Shabbah berhasil mengembangkan aliran Syi’ah Ismailiyyah gaya baru. Berpusat di Alamut (sebelah barat laut Qazwin) dan Suriah, al-Hasan mendirikan kelompok yang dikenal dengan sebutan Hasyasyin.

Secara bahasa, kata hasyasyin (jamak) berasal dari kata hasyasy (tunggal) yang berarti “kesenangan”, “kenikmatan” atau “kegembiraan” (Mahmud Yunus, 1990: 483). Motif gerakan ini memang untuk memuaskan ambisi pribadi dan sekaligus balas dendam. Al-Hasan berasal dari Rayy yang mendapat pelajaran ilmu kebatinan dalam sekte Syi’ah Ismailiyyah.

Setelah satu setengah tahun belajar di Mesir, al-Hasan kembali ke negerinya sebagai seorang da’i Fathimiyyah. Pada tahun  1090 M, dia berhasil menguasai benteng kuat Alamut di sebelah barat laut Qazwin. Letak benteng ini di pegunungan pada jalur Alburz, sekitar 10.200 kaki di atas permukaan laut melewati jalur yang sangat sulit. Benteng ini kemudian dikenal sebagai “Sarang Elang.”

Al-Hasan mentahbiskan diri sebagai mahaguru (da’i al-du’at) yang bermukim di Alamut. Dari benteng Sarang Elang, al-Hasan bersama murid-muridnya melakukan aksi teror ke berbagai arah. Murid-murid al-Hasan menggunakan senjata pisau belati yang indah untuk membunuh lawan-lawan politik mereka. Teknik pembunuhan sadis berawal dari keterampilan membunuh dengan pisau belati yang dijadikan sebagai seni (Philip K. Hitti, 2006: 565).

Kelicikan Hasyasyin yang Tidak Asing

Hal yang cukup menarik dalam gerakan Hasyasyin adalah struktur kepemimpinan yang menggunakan sistem sel dan terjaga kerahasiaannya. Hitti (2006: 565-567) menjelaskan, struktur kepemimpinan puncak adalah da’i al-du’at (mahaguru) yang tidak lain adalah al-Hasan ibnu al-Shabbah sendiri.

Di bawah da’i al-du’at terdapat da’i al-kabir (guru senior) yang bertanggung jawab di setiap daerah. Di bawah da’i al-kabir terdapat da’i-da’i biasa yang bertugas merekrut anggota baru. Tingkatan terendah adalah fida’i yang sangat patuh dan setia terhadap sang guru.

Sejarawan Marco Polo (1875: 201-206) yang pernah melintasi di Alamut pada tahun 1271 M menjelaskan, bahwa gerakan ini memiliki metode tersendiri dalam merekrut anggota. Teknik yang tidak lazim digunakan pada waktu itu adalah hipnotis.

Penguasa Alamut menyiapkan beberapa pemuda berumur dua belas hingga dua puluh tahun yang memiliki semangat tarung tinggi di istananya. Mereka akan dibawa masuk ke dalam sebuah taman. Sebelumnya, mereka disuguhi minuman keras sampai mabuk berat. Setelah tertidur pulas, badan mereka diangkat dan dipindahkan ke dalam taman.

Saat terjaga, pemuda-pemuda tersebut mendapati diri mereka berada di dalam sebuah taman yang indah sekali. Mereka menyangka sedang berada di dalam surga. Pemuda-pemuda tersebut dihibur dan dilayani oleh gadis-gadis cantik sampai mabuk.

Pada saat itulah, sang penguasa Alamut memberi perintah untuk membunuh lawan politik atau musuh. “Pergi dan bunuh si anu dan si anu. Jika berhasil, maka saat kau kembali, bidadari-bidadariku akan membawamu ke surga. Dan jika kau mati dalam tugas, bidadariku akan membawamu kembali ke dalam surga”, demikian seru sang penguasa Alamut.

Para pemuda yang sudah tercuci otak lewat metode hasyisy menjadi petarung-petarung tangguh yang berani mati demi menjalankan perintah sang mahaguru. Ajaran Hasyasyin mengembangkan agnotisisme, yaitu menanamkan keragu-raguan terhadap ajaran agama Islam. Lalu memberikan motivasi agar mereka tidak takut menghadapi bahaya apapun.

Dengan iming-iming bidadari-bidadari cantik di taman Alamut (yang dikonotasikan sebagai surga), para pemuda tersebut tampil sebagai fida’i. Siap mati demi menjalankan perintah sang mahaguru. Mereka menjelma menjadi kelompok teroris yang menakutkan. Dengan keterampilan menggunakan pisau belati indah, para fida’i tampil sebagai pembunuh-pembunuh sadis demi memenuhi ambisi sang mahaguru. Salah satu tokoh Islam yang menjadi korban fida’i adalah perdana menteri Nidzam al-Mulk (w. 1092 M).

***

Ulasan tentang Hasyasyin: Benih Terorisme dalam Sekte Syiah Ismailiyyah tidak asing dalam alam pikiran kita. Tawaran dar al-hijrah, teknik hipnotis, iming-iming kenikmatan surga, aksi menebar ancaman, dan teror pembunuhan sampai menjadi martir, adalah indikasi dari jenis gerakan radikal yang akhir-akhir ini mencuat kembali. Apakah mereka termasuk kelompok Neo-Hasyasyin? Kita memang tidak pernah tahu.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda