Humanisme Islam ala Gus Dur - IBTimes.ID
Perspektif

Humanisme Islam ala Gus Dur

3 Mins read

Gus Dur, dan Humanisme Islam

Humanisme ala Gus Dur berada pada ranah diskursif, yaitu dengan memberi sumbangan kepada agama bagi humanisme. Artinya, humanisme Gus Dur adalah humanisme perspektif Islam. Sebagai antitesis dari humanisme ateis yang menawarkan pandangan lain yang berada pada ranah tradisi humanisme modern pandangan ini lahir dari prinsip ketuhanan atas kemanusian.

Humasnisme Gus Dur merupakan humanisme Islam yang berkaitan dengan ajaran Islam tentang keharmonisan dan torelansi. Menurut Gus Dur, umat Islam seharusnya tidak takut terhadap kondisi plural yang ada pada masyarakat modern saat ini. Sebaliknya, umat Islam harus merespon positif terhadap kondisi plural tersebut (Greg Barton, 1999).

Humanisme yang ditekankan oleh Gus Dur adalah bentuk pluralisme dalam bentindak dan berpikir, sebab hal ini yang bisa melahirkan bentuk toleransi. Sikap toleran yang tidak tergantung pada apapun, tetapi pengakuan atas pluralitas merupakan persoalan hati, dan perilaku (Barton 2016).

Berbicara humanisme menurut penulis buku pemikiran Gus Dur merupakan sosok tokoh agama yang bisa digunanakan dalam ranah berdialog antar agama. Dengan gaya corak pemikiran yang humanis dan humoris, beliau lebih mengedepankan nilai-nilai kemanausiaan daripada nilai-nilai teologis dalam berdialog menjadikan Gus Dur lebih terkenal di dunia bahkan dapat gelar bapak pluralisme di Indonesia.

Konsep yang mengedepankan sifat nilai-nilai kemanusian dalam dialog antar agama menrupakan cara yang ampuh mengurus sifat eklusif dari masing-masing pemuluk agama.

Di sisi lain, dalam pemikiran Gus Dur adalah menjunjung tinggi kemanusian juga menawarkan nilai-nilai yang bisa diaplikasikan dalam ranah dialog antar agama. Seperti halnya kemanusia, ketauhidan, keadilan, kesejahteraan, pembebasan, dan persaudaraan (Al-Adyan, 59).

***

Humanisme dalam pandangan Gus Dur dipahami sebagai wacana atau pemikiran yang digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap semua hal yang baik dalam diri manusia, ditambah dengan perhatian pada kesejahteraan setiap individu.

Baca Juga  Islam Bukan Sebuah Masalah, Melainkan Solusi

Pandangan humanisme ini bertolak dari nilai universalisme Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta penghargaan setinggi-tingginya terhadap kehidupan sosial manusiawi.

Walaupun humanisme Gus Dur lebih mendalam religius dalam etika kepedulian, namun aktualisasinya yang besar terhadap unsur utama dari kemanusiaan, seperti keadilan, ham serta nilai-nilai kemanusian yang terangkum dalam kebinekaan.

Dengan seperti ini, Gus Dur meletakan dasar kepentingan dalam perjalan hidup berbangsa dan bernegara. Sejarah mencatat ketika beliau mencabut larangan pemerintah terkait meranyakan Imlek bagi kalangan Tionghoa.

Hal ini bertanda bahwa negara memberi ruang kebebasan bagi orang Tionghoa yang sudah lama terpingkirakan pada waktu itu. Dengan kebijakan Gus Dur ini, menjadi sebuah penegasan tentang arah perjalan bangsa Indonesia, yaitu sebagai bangsa yang berbeda-beda tetapi tetap satu, bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika, bangsa yang menghargai segala perbedaan serta saling menghormati satu sama lainya.

Jalinan Struktural Pemikiran Gus Dur

Pemikiran Gus Dur cenderung kontroversial dan sulit dipahami. Pemikiran ini sering menabrak mainstream pemahaman masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat muslim dan NU yang ia nahkodai.

Resikonya, belum lagi pemikiran itu  dipahami, Gus Dur sendiri dicaci, misalnya saat pembelaan PKI, pembelaan Ahmadiyah dan lainya. Namun kita tidak heran, bahwa sejak di dalam dirinya sendiri, pemikiran Gus Dur memang kontroversi.

Hal ini menggambarkan garis-garis pemahaman masyarakat awam yang memang rapuh dan perlu di gedor kembali. Dengan pemikiran ini, Gus Dur memiliki inisiatif demi pemahaman yang lebih mendalam atas persoalan yang sebelumnya hanya di pikirkan oleh masyarakat secara selayang pandang.

Akan tetapi secara subtantif, terjadinya kontroversial pemikiran Gus Dur sebenarnya disebabkan oleh ketidakpahaman atas pemikiran itu. Artinya, masyarakat kurang memahami landasan pemikiran dan tujuan normatif dari pemikiran Gus Dur (Al-Hikmah,100).

Baca Juga  Mudik dan Pulang Kampung Itu Sama Saja!

Secara mendasar prinsip dan pemikiran Gus Dur mengacu terhadap pembelaan harkat martabat kemanusiaan, yang pada suatu titik ia dasarkan pada tradisi keislaman yang mendalam. Jika kita rumuskan corak pemirakan Gus Dur, ia mempertemukan antara keislaman dan kemanusian.

Jika meminjam perkataan Boudieu, prinsip keislaman adalah habitus yang telah menstruktur dalam alam sadar Gus Dur, dan oleh karenanya menjadi pola strukturasi atas hubungan antara pemikiran Gus Dur dan persoalan yang di pikirkan.

Pertemuan antara keislaman dan kemanusian sudah tersirat dalam Al-Qur’an. (Surat AL-Maidah, 32). Yang artinya, barang siapa yang menolong kehidupan seorang, maka seakan ia telah menolong semua umat manusia.

Pertemuan ini juga tersirat dalam penjelasan Gus Dur bahwa agama dan kemanusiaan haruslah disatukan. Agama tanpa manusia akan melahirkan fundamentalis. Dalam ungkapan ini, Gus Dur bisa memahami bahwa prisnsip kemanusiaan di dalam tradisi Islam serta menghadirkan prinsip kemanusian dalam prinsip keislman, (Al-Hukmah,100).

Editor: Yahya FR

Umam
1 posts

About author
Mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat UINSA
Articles
Related posts
Perspektif

Sastra dan Simbolisme Agama: Narasi Dakwah Termutakhir

4 Mins read
Sastra, Simbolisme Agama, dan Narasi Dakwah Mutakhir Mircea Eliade, seorang sejarawan merangkap filsuf yang memberi kontribusi masyhur berupa Teori Eternal Return bagi…
Perspektif

Ketika Seorang Filsuf Bermain Sosial Media

4 Mins read
Dampak Adanya Sosial Media Kalau dipikir-pikir, perkembangan sosial media belakangan ini banyak mengarahkan penggunanya pada keburukan. Kita melihat sosial media telah digunakan…
Perspektif

Hukum Memakai Cadar Menurut Empat Mazhab

3 Mins read
Sekilas tentang Cadar Hukum Cadar – Apa sih cadar itu? Cadar adalah penutup kepala atau wajah berupa kain yang bertali untuk mempermudah…

Tinggalkan Balasan