IBTimes.ID – Ketika bencana, konflik, dan krisis pengungsian melanda berbagai belahan dunia, respons kemanusiaan tidak lagi hanya menjadi urusan negara. Di tengah kebutuhan tersebut, Humanitarian Muhammadiyah berkembang menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan organisasi masyarakat sipil Indonesia dalam menjawab persoalan kemanusiaan lintas negara.
Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah membangun kekuatan melalui pendidikan, kesehatan, filantropi, dan pemberdayaan masyarakat. Modal sosial tersebut kemudian berkembang menjadi kapasitas untuk merespons krisis global melalui berbagai lembaga, seperti Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), rumah sakit, serta perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa Humanitarian Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas mengirim bantuan ke daerah bencana. Di dalamnya terdapat proses membangun jejaring, membuka akses, menggalang sumber daya, memberikan layanan profesional, hingga memastikan bantuan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Gerakan Sosial ke Diplomasi Kemanusiaan
Merujuk tulisan Hilman Latief dan Haedar Nashir berjudul “Local Dynamics and Global Engagements of the Muhammadiyah: A Case Study of the Muhammadiyah’s International Activities” (2020) bahwa keterlibatan internasional Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya menerjemahkan pandangan keagamaan agar relevan dengan kebutuhan masyarakat global. Perubahan tersebut bahkan disebut telah melahirkan “a shift in the character of the movement”.
Dalam praktiknya, Humanitarian Muhammadiyah menjalankan fungsi yang menyerupai diplomasi kemanusiaan. Penelitian Rahmawati Husein, Bachtiar Dwi Kurniawan, dan Nawang Kurniawati pada 2024 menggunakan empat dimensi untuk melihat praktik tersebut, yakni membangun kehadiran, menegosiasikan akses, melakukan advokasi, serta memantau bantuan.
Jaringan tersebut telah membawa Muhammadiyah terlibat dalam sejumlah krisis, antara lain Palestina, Thailand Selatan, Nepal, Myanmar, Bangladesh, Turki, dan Sudan. Responsnya tidak hanya berupa bantuan logistik, tetapi juga layanan kesehatan, pembangunan fasilitas, beasiswa, pemberdayaan ekonomi, hingga dukungan perdamaian.
Dalam konteks pengungsi Rohingya di Bangladesh pada 2017, misalnya, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Aid dan Indonesia Humanitarian Alliance mengirim tenaga medis ke Cox’s Bazar. Kapasitas rumah sakit dan perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi sumber daya penting dalam respons tersebut.
Menghubungkan Akar Lokal dengan Krisis Global
Kekuatan Humanitarian Muhammadiyah terletak pada ekosistem yang telah dibangun di Indonesia. Kampus menyediakan tenaga profesional, rumah sakit menghadirkan layanan kesehatan, filantropi menghimpun dana, sementara lembaga kebencanaan mengorganisasi relawan dan respons darurat.
Namun, kerja kemanusiaan global juga menghadirkan tantangan, mulai dari akses wilayah konflik, perizinan, pendanaan, pencarian mitra lokal, hingga akuntabilitas program.
Karena itu, Humanitarian Muhammadiyah dapat dipandang sebagai perluasan dari gerakan sosial Muhammadiyah, bukan sekadar ekspansi organisasi. Solidaritas yang dibangun dari sekolah, kampus, rumah sakit, dan masyarakat kemudian dibawa melewati batas geografis untuk menjawab penderitaan manusia.
Pada titik inilah Islam Berkemajuan menemukan bentuk praksisnya menghadirkan kemaslahatan bukan hanya bagi komunitas sendiri, tetapi bagi kemanusiaan secara universal. (NS)


