back to top
Minggu, November 1, 2026

Insecure antara Fenomenologi Sartre dan Diri Ideal Carl Rogers

Lihat Lainnya

Kartika Ramadani
Kartika Ramadani
Mahasiswa Psikologi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Pernahkah kalian saat sedang santai di kafe, lalu sadar ada orang yang melirik ke arah kalian? Mendadak badan menjadi kaku. Lalu kalian mulai mikir, “Rambutku berantakan nggak ya? Cara dudukku aneh nggak sih? Dia lagi menilai aku ya?”

Padahal beberapa detik sebelumnya kalian baik-baik saja. Satu-satunya yang berubah adalah ada mata lain yang melihat ke arah kalian.

Perasaan itulah yang sering kita sebut insecure. Jauh sebelum kata ini ramai di media sosial, dua tokoh besar sudah membedahnya dari sudut pandang berbeda: Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis, dan Carl Rogers, psikolog humanistik asal Amerika. Keduanya tidak memakai kata “insecure”, tapi teori mereka menjelaskan dengan tepat apa yang kita rasakan hari ini.

Apa Itu Insecure?

Insecure adalah perasaan tidak aman terhadap diri sendiri. Wujudnya sangat beragam : merasa kurang pintar, kurang menarik, kurang sukses, atau kurang “cukup” dibanding orang lain. Tandanya antara lain suka membandingkan diri, takut dinilai, sulit menerima pujian, dan sibuk menjaga citra.

Pertanyaannya, dari mana perasaan ini muncul? Sartre dan Rogers memberi dua jawaban yang saling melengkapi.

Sartre: Ketika Tatapan Mengubah Kita Jadi Objek

Dalam lakon No Exit, Sartre menulis kalimat terkenal: “neraka adalah orang lain”. Ini sering disalahpahami seolah Sartre membenci manusia. Maksudnya, kehadiran orang lain bisa mengubah cara kita memandang diri sendiri secara drastis.

Dalam Being and Nothingness (1943), Sartre menjelaskan fenomena yang disebut le regard atau the look. Bayangkan kalian mengintip lewat lubang kunci, larut dalam apa yang kalian lihat. Tiba-tiba terdengar langkah kaki di belakang kalian. Seketika kalian bukan lagi subjek yang bebas melihat, melainkan objek yang dilihat dan dinilai. Rasa malu muncul bukan karena orang itu bicara apa-apa, tapi karena kalian sadar diri kalian sedang dipandang oleh orang tersebut.

Baca Juga:  Muhammad Ali: Mengapa Manusia Beragama?

Sartre membedakan dua cara keberadaan manusia. Yang pertama adalah être-pour-soi, yaitu kita sebagai subjek yang sadar, bebas, dan terus membentuk diri. Yang kedua adalah être-pour-autrui, yaitu kita sebagai objek yang dilabeli orang lain. Insecure muncul ketika kita terlalu lama hidup di mode kedua dan memperlakukan diri seperti barang pajangan yang harus lolos penilaian.

Di era digital, tatapan itu bahkan kita bawa ke mana-mana. Setiap unggahan punya penonton, setiap foto diukur lewat likes, dan pencapaian orang lain terus muncul di feed. Kita seperti dikelilingi tatapan 24 jam sehari.

Sartre juga memperkenalkan bad faith (mauvaise foi), yaitu menipu diri sendiri dengan menyangkal kebebasan kita. Kalimat seperti “Aku harus begini karena ekspektasi orang lain sangat lah penting” pada kalimat tersebut sering menjadi contoh, padahal sebenarnya kita punya pilihan sendiri. Orang yang terus memakai topeng demi diterima sedang menukar kebebasannya dengan rasa aman yang semu.

Rogers: Jurang antara Diri Nyata dan Diri Ideal

Kalau Sartre melihat insecure dari tatapan luar, Rogers melihatnya dari dunia dalam diri. Ia percaya manusia punya dorongan alami untuk tumbuh, yang disebut actualizing tendency. Namun dorongan ini bisa terhambat oleh cara kita memandang diri sendiri.

Rogers membedakan dua gambaran diri:

  • Real self (diri nyata): siapa kita sebenarnya saat ini, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan.
  • Ideal self (diri ideal): siapa versi diri yang kalian bayangkan dan harus kalian capai supaya merasa cukup.
Baca Juga:  Pelarangan Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah: Catatan Hitam Toleransi Kita

Kalau jarak keduanya kecil, kita merasa selaras, kondisi yang disebut kongruen. Kalau jaraknya lebar, muncul inkongruensi yang melahirkan kecemasan dan rasa rendah diri. Inilah akar insecure. Misalnya, kalian membayangkan diri ideal sebagai orang yang selalu percaya diri, pintar, dan populer, lalu saat berkaca kalian melihat versi yang belum sampai ke sana. Jarak itulah yang terasa menyakitkan.

Menariknya, diri ideal adalah bukan murni keinginan kita. Menurut Rogers, ia terbentuk dari conditions of worth, yaitu syarat-syarat agar kita merasa berharga. Contohnya: “Kamu disayang kalau nilaimu bagus,” atau “Kamu hebat kalau sukses seperti anak tetangga.” Pelan-pelan kita belajar bahwa penerimaan itu bersyarat, lalu membangun diri ideal dari standar orang lain dan merasa gagal kalau tidak memenuhinya.

Obat yang ditawarkan Rogers adalah unconditional positive regard, yaitu penerimaan tanpa syarat. Ketika seseorang diterima apa adanya, ia tak perlu lagi bersembunyi di balik topeng. Rogers menyampaikan gagasan bahwa justru saat kita menerima diri apa adanya, perubahan yang sehat menjadi mungkin.

Dua Teori, Satu Benang Merah

Sekilas Sartre dan Rogers tampak berseberangan: yang satu bicara tatapan dan konflik, yang lain bicara penerimaan dan pertumbuhan. Tapi kalau dibaca berdampingan, keduanya saling melengkapi. Sartre menunjukkan bagaimana tatapan orang lain menjerat kita. Rogers menunjukkan bagaimana tatapan itu mengendap menjadi standar di kepala kita.

Dengan kata lain, tatapan dari luar (Sartre) lama-lama berubah menjadi suara di dalam kepala (Rogers). Kita bahkan tidak butuh orang lain hadir untuk merasa dihakimi, karena kita sudah menghakimi diri sendiri. Keduanya sepakat bahwa insecure lahir ketika kita mendefinisikan diri lewat pandangan orang lain.

Baca Juga:  Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Kebodohan

Cara Keluar dari Jebakan Tatapan

Gabungan dua pemikiran ini bisa diterjemahkan menjadi langkah yang sederhana:

  1. Sadari tatapannya. Saat insecure muncul, tanyakan pada diri kalian: “Ini penilaianku sendiri, atau aku sedang membayangkan penilaian orang lain?”
  2. Periksa standarmu. Tanyakan: “Standar ini sebenarnya milik siapa?” Kalau ternyata warisan ekspektasi orang lain, kamu boleh merevisinya.
  3. Stop membandingkan highlight orang lain dengan behind the scene dirimu. Media sosial hanya menampilkan potongan yang sangat terbaik.
  4. Perlakukan dirimu seperti sahabat. Bersikaplah sabar, bukan menghakimi, terutama saat kamu sedang jatuh.
  5. Ambil keputusan secara sadar. Pilih sesuatu karena itu nilai yang kamu yakini, bukan karena takut dicap. Inilah hidup otentik ala Sartre.
  6. Cari ruang yang menerima. Lingkungan suportif membantu kita merasakan penerimaan tanpa syarat. Kalau insecure sudah mengganggu keseharian, jangan ragu untuk bercerita ke sahabat kalian atau psikolog.

Insecure bukan tanda kalian lemah. Itu tanda bahwa kalian manusia yang hidup di tengah manusia lain, dan itu sangat wajar. Sartre mengingatkan bahwa tatapan orang lain bisa menjebak kita menjadi objek. Rogers mengingatkan bahwa standar yang kita kejar sering bukan milik kita sendiri.

Kabar baiknya, kita tetap punya ruang untuk memilih. Kita boleh melihat balik, merevisi standar, dan menerima diri sambil terus bertumbuh. Karena pada akhirnya, kalian bukan sekadar apa yang dilihat orang lain. Tapi kalian adalah subjek yang menulis ceritanya sendiri.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru