Oleh: Agung Wiranto*

Beberapa waktu yang lalu jagat raya media sosial dihebohkan dengan cerita KKN di Desa Penari. Tak heran, kisah-kisah yang berbau mistis atau spiritual akan menjadi hal yang menarik bagi para netizen Indonesia.

Sehingga tak ayal kemudian menjadi perdebatan di antara mereka. Perdebatan cerita pun semakin bervariasi, mulai dari memperdebatkan benar atau tidaknya cerita ini, tempat lokasi cerita, hingga versi cerita asli. Kreatifitas netizen pun muncul dengan bertebarannya meme atau plesetan dari cerita aslinya.

Namun sebenarnya, yang harus menjadi perhatian di sini adalah bagaimana pesan moral cerita dari kasus tersebut. Hingga menjadi perhatian khusus bagi kita. Sebab, kasus asusila yang terjadi selama kegiatan KKN ini bukan hanya terjadi sekali dua kali.

Contohnya, seperti kasus yang menimpa salah satu kampus ternama di Indonesia yang pernah menggegerkan publik beberapa waktu silam hingga memakan korban. KKN yang seharusnya menjadi program pengabdian masyarakat,  malah menjadi citra buruk ketika dinodai oleh hal-hal seperti ini.

Dahlan, Pengajian dan Kauman

Ahmad Darwis atau yang dikenal dengan K.H Ahmad Dahlan pernah melakukan KKN semasa ia muda dulu, tepatnya ia melakukan salah satu program kerja KKN yang tak asing lagi bagi penggiat KKN: mengajar mengaji anak-anak.

Di Desa Kauman Yogyakarta, di mana merupakan kampung halamannya, Ahmad Dahlan mencoba memperbaiki beberapa praktik-praktik yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam. Seperti penyembahan terhadap hal-hal yang menyekutukan Allah, pemberian sesajen kepada pohon-pohon dan sebagainya.

Semangat purifikasi yang terdapat di dalam diri Kiyai Dahlan kemudian menggerakkannya untuk mengajarkan mengaji kepada generasi-generasi muda desa tersebut. Sehingga mereka diharapkan akan meneruskan untuk membawa perubahan di masyarakat Desa Kauman.

Tak hanya masalah pemurnian akidah, Kiyai Dahlan juga menyuntikkan semangat ibadah sosial kepada murid-muridnya dengan konsep Teologi Al-Ma’unnya sehingga semangat untuk berpihak kepada kaum yang lemah, marjinal, dan tertindas menjadi semangat baru untuk memiliki sifat saling menolong sesama.

Dimana doktrin teologi Al-Ma’un ini selalu diulang-ulang kepada anak muridnya hingga mereka pun bosan dan bertanya kepada sang kiyai, “ Wahai kiyai, kenapa selama pengajian kita tidak pernah berpindah materi? Kenapa kita hanya selalu membahas surah Al-Ma’un?”

Hingga kemudian sang kiyai pun menjawab, “ Apakah saudara-saudara sekalian sudah melakukan apa yang diperintahkan pada surah ini?” Kalimat dari kiyai Dahlan itulah yang kemudian menjadi semangat utama yang ditanamkan di dalam organisasi Muhammadiyah.

Sehingga kemudian kalimat penutup pengajian dari Kiyai Ahmad Dahlan yang menjadi panutan bagi umat Muslim terutama anggota Muhammadiyah: “Sekarang, silahkan saudara-saudara mencari orang-orang kurang mampu yang ada di jalan, bawa pulang mereka kerumah saudara, mandikanlah Ia, berikan Ia sabun terbaik, Setelah itu, berilah Ia pakaian terbaik lalu berikanlah Ia makan. Maka demikianlah penutup pengajian kita pada hari ini”.

Dari sikap Kiyai Dahlan tersebut, kemudian lahirlah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) serta Sekolah Umum Muhammadiyah. Di mana, PKO merupakan perwujudan aplikatif dari teologi Al-Ma’un.

Saat Belanda sedang melakukan penjajahan, Rumah Sakit hanya diperuntukkan bagi kaum elit dan orang-orang Belanda. Namun, Muhammadiyah hadir untuk membawa keberpihakan kepada masyarakat kelas bawah dengan memberikan hak kesehatan yang sama bagi mereka.

Tidak hanya Rumah Sakit, Muhammadiyah kemudian pada saat itu juga mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi rakyat kelas bawah dengan mendirikan Sekolah Umum Muhammadiyah. Sekolah itu juga sebagai agenda Kiyai Dahlan dalam mencoba mengeluarkan masyarakat dari keterpurukan akan kebodohan.

Saat itu, notabene mayoritas masyarakat pribumi hanya mengenyam pendidikan pesantren tradisional yang mengajarkan ilmu agama saja.  Dengan adanya Sekolah umum Muhammadiyah,  mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan umum.

Persyarikatan Muhammadiyah Kini

Mungkin Kiyai Dahlan dulunya tidak pernah bermimpi bahwa persyarikatan Muhammadiyah yang didirikannya bisa sebesar sekarang. Memiliki jutaan anggota, ribuan sekolah, ratusan rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia dan bahkan di luar negeri.

Mungkin dulu mimpinya tak muluk-muluk, hanya ingin merubah tatanan kampung halamannya. Tetapi, dilandasi niat ikhlas dan tulus, sekarang Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Dengan begitu, banyaknya kegiatan KKN yang diadakan oleh masing-masing Universitas tiap tahunnya, mungkin sudah ratusan ribu desa yang sudah pernah disinggahi oleh para mahasiswa untuk dijadikan tempat program KKN.

Kita hitung saja, masing-masing orang mungkin memiliki lebih dari 2 program KKN, dibandingkan Kiyai Dahlan yang mungkin hanya melakukan 1 program KKN. Sudah seharusnya akan lahir Muhammadiyah-Muhammadiyah baru tiap tahun yang akan memberikan perubahan di masyarakat.

Apabila semua kegiatan itu dilakukan dengan niat ikhlas, dan tulus serta berkesinambungan, maka mimpi tersebut tidaklah menjadi hal yang mustahil. Sudah cukup cerita “KKN di Desa Penari” menjadi kisah kelam di dunia per-KKNan, mari kita belajar dari kisah “KKN di Desa Dahlan”!

 

*Ketua Umum PC IMM Aceh Besar   

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda