Irfan Amalee Bersama Peacegen, Menyebarkan Damai dengan Cara Kreatif
Inspiring

Irfan Amalee Bersama Peacegen, Menyebarkan Damai dengan Cara Kreatif

4 Mins read

Irfan Amalee lahir di Bandung pada 28 Februari 1977. Di sana, Irfan kecil bertetangga dengan orang berlatar belakang Tionghoa, Flores, Batak, dan Jawa. Sejak awal, ia sudah menikmati keragaman, punya kawan sepermainan beragama Kristen sekaligus Tionghoa.

Tapi keragaman itu justru kemudian mengganggu Irfan Amalee yang mulai remaja. Ia sendiri pernah mengenang, “Semakin saya belajar agama, kok saya jadi berjarak dengan orang dari agama lain.” Kesan harus berjarak dengan orang beda agama kian berkembang karena sebagaimana diakuinya sendiri, ia tumbuh dalam model pendidikan agama yang konsevatif.

Pada 1990, ia dikirim ke Pondok Pesantren Darul Arqam Garut hingga 1996. Di pondok, minat literasi Irfan justru makin terasah. Ia tidak sekedar belajar ilmu-ilmu keagamaan, tapi juga jurnalistik dan aktif organisasi pelajar bernama IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah, sekarang menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah).

Aktivitas mengelola majalah di pondok dan jadi aktivis IRM tingkat Ranting (untuk tingkat komunitas sekolah/masjid) dan Daerah (tingkat Kabupaten/Kota), menjadi jalan penting meniti visi besarnya kelak. Selepas mondok di Darul Arqam, Irfan Amalee lanjut kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (1996-2000).

Menjelang akhir masa kuliah, Irfan jadi Ketua Bidang Advokasi Pimpinan Pusat IRM (1998-2000). Selama aktif di PP IRM, ia mempelopori pendirian gerakan Studi Refleksi Aktif Antikekerasan dan menulis suplemen untuk majalah HAI bernama RETAS (Resistensi Tanpa Kekerasan). Banyak aktivis IRM waktu itu mengagumi visi antikekerasan yang diperkenalkan Irfan.

Pada tahun 2007, Irfan bersama Eric Lincoln, guru Bahasa Inggrisnya, mulai bekerja menyusun buku 12 Nilai Dasar Perdamaian Muslim. Irfan pada waktu itu sudah bekerja sebagai editor di penerbit Mizan. Secara khusus, ia membidangi divisi anak dan remaja (DAR). Irfan bahkan dipercaya menjadi CEO Pelangi Mizan.

Baca Juga  Memaafkan Sesama adalah Bentuk Moderasi Beragama

Organisasi ini awalnya tidak dimaksudkan menjadi gerakan. Irfan dan Eric fokus pada penulisan bahan-bahan pendidikan perdamaian. Mereka menulis modul dan buku sebagai media edukasi. Pada waktu itu, media edukasi untuk tujuan pendidikan perdamaian dan antikekerasan berbahasa Indonesia masih sangat jarang. Kalau pun ada, sebagian besar merupakan adaptasi atau terjemahan versi bahasa Inggris. Bahan ajar yang mengakomodir pengalaman hidup lokal belum tersedia.

Sebagai aktivis yang telah pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk belajar pendidikan perdamaian, Irfan paham betul ada ruang kosong yang tidak diperhatikan banyak pegiat pendidikan. Lebih-lebih terkait inisiasi untuk merumuskan model pendidikan perdamaian untuk kelompok anak dan remaja. Sementara belum tersedianya bahan pendidikan yang memadai, problem polarisasi keagamaan justru semakin menguat.

Pasca kerusuhan Mei 1998, Indonesia secara mendebarkan menyaksikan rententan konflik dan kerusuhan di Ambon, Poso dan Sampit. Belum selesai ketegangan antar agama, rentetan kasus ledakan Bom pada 2002 dan 2005 memberi trauma pada sebagian besar warga sipil di Indonesia. Kepastian perlindungan hukum, keamanan dan hak asasi manusia bergema di berbagai forum. Dalam konteks ini, karya Irfan dan Eric jadi relevan.

Peace Generation atau yang dikenal dengan Peacegen adalah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan perdamaian. Gerakannya fokus pada pengembangan pelatihan perdamaian, media pembelajaran perdamaian, dan kegiatan kampanye serta aktivasi konten perdamaian. Peacegen berkomitmen untuk menyebarkan perdamaian dengan cara-cara yang ceria melalui media kreatif.

Dilansir dari laman resmi Peacegen, organisasi tersebut telah mengajak 40 ribu orang untuk belajar 12 nilai dasar perdamaian. Nilai dasar perdamaian adalah nilai-nilai yang digagas oleh Peacegen untuk mewujudkan perdamaian berbasis nilai-nilai personal. Ada 31 ribu siswa belajar 12 nilai dasar perdamaian secara daring, 5 ribu guru dan pemimpin komunitas mendapatkan training untuk menjadi pendidik perdamaian. Gerakan Peacegen telah menjangkau 108 kota/kabupaten, 11 negara, dan menyabet 14 penghargaan nasional maupun internasional.

Baca Juga  Gus Menteri Tak Kenal Lelah Mengajari Kita Toleransi

Cara Peacegen mengajarkan perdamaian tidak dengan cara yang digunakan orang seperti biasa. Peacegen tidak pernah tampil seadanya atau tampil biasa saja. Ia selalu mengemas dengan cara yang unik, kreatif, dekat, sekaligus bermakna.

Unik, berarti tidak menggunakan narasi-narasi yang biasa saja. Salah satu contohnya begini. Dalam 12 nilai dasar perdamaian, setiap nilai dimainkan dengan metode TANDUR. Apa itu TANDUR? TANDUR adalah singkatan dari Tanamkan minat, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.

Dalam mengajarkan setiap nilai, training Peacegen harus diawali dengan Tanamkan minat. Bagaimana caranya? Bisa dengan menyapa, meneriakkan yel-yel, tebak-tebakan, dan lain-lain. Begitu juga dengan Alami. Setelah peserta training fokus dan memiliki minat tinggit terhadap nilai tersebut, maka peserta diajak untuk mengalami nilai yang diajarkan. Caranya? Bisa dengan game, ice breaking, dan lain-lain.

Setelah itu masuk ke tahap Namai. Di tahap Namai, peserta disadarkan bahwa mereka telah belajar nilai tersebut. Namai berarti menamai nilai yang telah diajarkan sebelumnya. Misalnya nilai “aku bangga menjadi diri sendiri”, nilai “no curiga no prasangka”, dan seterusnya. Di tahap ini peserta juga akan membaca inti pelajaran yang tengah mereka pelajari.

Di tahap Demonstrasi, peserta diajak untuk melihat contoh konkret dari nilai yang telah mereka pelajari. Mereka akan praktek atau diberikan kisah teladan. Tahap Ulangi berarti meminta feedback untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta. Kemudian terakhir adalah Rayakan. Rayakan berarti merayakan atau mensyukuri karena peserta telah belajar satu nilai perdamaian. Di tahap ini peserta bisa menyanyikan lagu sebagai wujud rasa syukur, berdoa, atau membuat yel-yel.

Tahapan TANDUR ini diulang dari nilai pertama hingga nilai terakhir dengan model yang berbeda-beda. Sehingga, dalam satu kali training 12 nilai dasar perdamaian, peserta akan belajar belasan game yang memiliki nilai edukasi, bukan sekedar game untuk kesenangan. Padahal, itu baru satu training. Sementara Peacegen memiliki belasan training yang terus berjalan sepanjang tahun, dan setiap training memiliki metode yang berbeda-beda.

Baca Juga  Penjaga Moral Bangsa: Meneladani Buya Syafii Maarif

Maka, dengan kreativitas yang seolah tak terbatas itu, tak heran Peacegen bersama Irfan Amalee dan Eric Lincoln berhasil menyabet belasan penghargaan. Antara lain International Young Creative Entrepreneur Award 2008, UAJY Multiculturalism Award 2008, Hahn & Karpf Peace Award 2011, Brandeis University, USA, 500 Most Influential Muslim (Irfan Amalee), RISSC Jordan 2011-2012, Wirausaha Muda Kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012, Pena Award 2014, Ashoka Fellowship 2017, Top 6 ASEAN Social Impact Award 2017, Most Innovative C’PVE Program, Convey UNDP-PPIM 2018, Indika Energy Award 2018, Best Islamic Story Books IKAPI 2019, Australia Global Alumni Award for Innovation and Entrepreneurship 2019, Audit Laporan Keuangan dengan opini “Wajar Tanpa Pengecualian” dari KAP Roebiandini & Rekan, dan Kick Andy Heroes dalam Bidang Perdamaian.

Editor: Yusuf

Konten ini hasil kerja sama IBTimes dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Print Friendly, PDF & Email
Redaksi
395 posts

About author
IBTimes.ID - Cerdas Berislam. Media Islam Wasathiyah yang mencerahkan
Articles
Related posts
Inspiring

Siti Munjiyah, Perempuan Aisyiyah yang Menjadi Aktor CPPA dan Kongres Perempuan Pertama

3 Mins read
Pada awal abad ke-20, kasus prostitusi dan perdagangan anak pernah mencuat ke publik. Sejumlah tokoh pergerakan nasional yang prihatin menggalang kekuatan dari…
Inspiring

Jejak Haji Agus Salim di Muhammadiyah

5 Mins read
Nama kecilnya Mashudul Haq (pembela kebenaran). Ia dilahirkan dan tumbuh dari serpihan surga yang turun ke bumi, tepatnya Bukit Tinggi. Di Bukit…
Inspiring

Mbah Liem, Pendiri Pesantren Pancasila Sakti dan Pencetus Slogan NKRI Harga Mati

3 Mins read
“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo,…

Tinggalkan Balasan