Izzat Darwazah: Alquran yang Reflektif terhadap Kehidupan Nabi

0
126
Izzat Darwazah: Alquran yang Reflektif terhadap Kehidupan Nabi
Ilustrasi. SUmber: ukhuwwahilamiyyah.com

Oleh: Khoirum Majid*

Sebelumnya banyak mufassir menitik beratkan pengkajiannya pada aspek gramatikal dan orientasi fiqhiyah. Pemikir pembaharuan Islam seperti Muhammad Abduh dan Amin al-Khulli menjadi salah satu aktor masuknya era baru khazanah tafsir Alquran.

Dialektika dengan dunia modern menghasilkan produk pemikiran. Produk pemikiran tersebut berusaha menjawab berbagai tantangan. Agar Alquran tak kehilangan fungsinya sebagai kitab petunjuk.

Muhammad Abduh menawarkan pendekatan adabi ijtima’i yang menekankan pada aspek sastrawi dengan konteks sosial dalam pengkajian Alquran . Usahanya kemudian dilanjutkan oleh Amin al-Khulli yang pernah menggemparkan dunia Islam berkat pernyataannya; Al-Qur’an adalah kitab sastra terbesar.

Alquran: Dari Tafsir Sastrawi ke Tafsir Historis

Pendulum studi Alquran corak sastrawi kemudian sedikit bergeser kearah penafsiran historis yang umunya dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, kajian historis yang fokus pada penggalian maqasyid asy-syari’ah seperti dilakukan oleh Fazlur Rahman dan Nasr Hamid.

Kedua, kajian historis yang fokus pada relasi Alquran dengan kondisi faktual Nabi
Muhammad, ini dilakukan oleh Izzat Darwazah. Ketiga, kajian yang fokus pada relasi antara wahyu Alquran dengan nash-nash disekitarnya seperti dilakukan oleh Angelika Neuwirth.

Sebuah terobosan yang cukup unik dalam studi Alquran dilakukan oleh Izzat Darwazah dengan cara memposisikan sejarah sebagai partner setia kajian Alquran. Begitupula saat mengkaji sejarah, ia menjadikan Alquran sebagai sumber primer dan menempatkan buku-buku sejarah sebagai sumber pendukung.

Alquran yang faktual dan reflektif, berbeda dengan mufassir pada umumnya yang menulis tafsir berdasarkan urutan mushafi, yaitu mulai dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nas, Darwazah melakukan sebuah inovasi baru.

Ia menggunakan tartib nuzuli, berdasarkan turunnya surat, dalam menafsirkan Alquran yang nantinya diberi nama al-Tafsir al-Hadits. Pendekatan tartib nuzuli memang terbilang baru dan belum masyhur digunakan, sehingga sempat terbesit dalam diri Darwazah rasa ragu apakah langkah yang akan ia tempu dapat dibenarkan atau tidak.

Baca Juga  Siapakah Orang Yang Paling Merugi di Akhirat Kelak

***

Akhirnya ia meminta fatwa kepada kepada Syaikh Abi al-Yasr ‘Abidin dan Syaikh Abdul Fatah Aba Ghadah. Dari situ kemudian Darwazah memperoleh sebuah kesimpulan bahwa tidak ada penghalang bagi pengkajian Alquran yang berbeda dengan urutan mushaf pada umumnya.

Adapun rujukan tartib nuzul yang ia gunakan adalah Mushaf Khattath Qudur Ugly dengan beberapa perubahan. Alasan mendasar yang menggugah Darwazah untuk menafsirkan Alquran secara tartib nuzul adalah jauhnya generasi muda dari Alquran yang diakibatkan oleh gaya tafsir tradisional.

Ia melihat banyak produk tafsir yang menampilkan kajian penafsiran ayat demi ayat dan gramatikal namun melepaskan konteks historisnya. Padahal untuk mendapatkan pesan-pesan tersembunyi, Alquran memerlukan kajian dialektis antara teks dan konteks.

Salah satu keyakinan yang ia pegangi adalah faktualitas Alquran dengan milieu pra Islam dan kehidupan Nabi Muhammad. Alquran sangat reflektif dan serasi dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad.

Ia berkesimpulan bahwa pendekatan tartib nuzuli akan dapat menyingkap tahapan dakwah Nabi SAW selama periode Makkah dan Madinah serta memahami secara tepat tahap pewahyuan Alquran .

Selain itu seorang mufassir atau pembaca juga akan merasakan kearifan Alquran berkaitan dengan naskh-mansukh dan ragam intonasi dari ayat-ayat Al-Qur’an. Alhasil, pembaca akan sangat terbantu dalam memahami tema-tema fundamental Alquran, statemen, materi dan hikmahnya.

Alquran yang Reflektif

Darwazah memberikan sebuah contoh betapa faktual dan reflektifnya Alquran terhadap perjalanan dakwah Nabi. Adanya perubahan respon Alquran terhadap komunitas Yahudi yang tercermin pada ayat-ayat makiyyah dan madaniyah.

Ayat-ayat makiyyah tidak banyak berisi konotasi keras kepada Yahudi yang populasinya di Makkah tidak besar. Respon keras dengan memberikan serangan-serangan terhadap dekadensi moral dan intrik-intrik buruk orang Yahudi banyak ditemukan dalam ayat-ayat madaniyah seperti tersebar di surat Ali Imran, an-Nisa dan al-Maidah.

Baca Juga  Di Surga Disebutkan Ada Wedang Jahe, Es Kelapa Muda Kenapa Tidak Ada?

Di Madinah memang Nabi seringkali bersinggungan dengan komunitas Yahudi yang menjadi penduduk Mayoritas. Izzat Darwazah: Biografi dan Jejak Intelektual Izzah Darwazah memiliki nama lengkap Muhammad Izzat bin ‘Abdul Hadi bin Darwis bin Ibrahim bin Hasan Darwazah, lahir pada Sabtu, 11 Syawal 1305 H/22 Juni 1887 M di Nablus, Palestina.

Akibat permasalahan ekonomi, Darwazah dalam pendidikan formal hanya sampai pada tingkat i’dadi yang diselsaikan pada tahun 1909 dan tidak melanjutkan pada jenjang perguruan tinggi. Meski begitu, ia tetap belajar secara otodidak mendalami kitab-kitab klasik karya pemikir muslim seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Mustafa Shadiq Rafi’i, Syakib Arsalan.

Hidup ditengah suasana konflik membawa Darwazah pada dunia aktivisme demi
membela kemerdekaan tanah airnya dari penjajahan yang memang sedan melanda kawasan timur tengah.

***

Ia juga tercatat sebagai anggota berbagai organisasi seperti Hizb al-I’tilaf di Nablus (1909), Sekretaris Jami’iyat al-‘Ilmiyyah al-‘Arabiyyah (1911), anggota Jam’iyyat al-Fatat al-Suriyah (1916), sekretaris Majlis al-Risalah al-Mudiriyah
al-Barqi wa al-Bari di Beirut (1916), Sekretaris Jam’iyyat al-Islamiyyah al-Mishriyyah (1918).

Saat kondisi politik Palestina mengalami gemuruh, militer Inggris berusaha menumpas perjuangan rakyat yang menuntut kemerdekaan. Keikut sertaan Darwazah pada perjuangan rakyat palestina mengakibatkannya ditahan di penjara Sorafanda, Damaskus.

Setelah masa pemenjaraanya usai, Darwazah tidak bisa kembali Palestina dan kembali ditangkap akibat dituduh keberadaanya dapat memprovokasi dan mengobarkan perjuangan rakyat melawan Inggris.

Di saat pemenjaraan kedua ini, Darwazah mulai tertarik dengan studi Al-Qur’an sehingga menghasilkan tiga karya, yaitu ‘Asr al-Nabi wa Biatuhu Qabl al-Bi’sah: Suwar Muqtasabah min al-Qur’an al-Karim wa Dirasat wa Tahlilat Qur’aniyah, Sirat al-Rasul: Suwar Muqtabasah min Al-Qur’an al-Karim wa Tahlilat wa Dirasat Qur’aniyyah, dan Al-Dustur al-Qur’ani wa al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Syu’un al-Hayah.

***

Pada tahun 1941-1945 Darwazah dikirim ke Turki oleh pemerintah Inggris dan tinggal disana. Kekayaan literatur di Turki membantunya merealisasikan ghiroh untuk menulis kitab tafsir secara utuh. Akhirnya Darwazah berhasil menyelesaikan kitab berjudul al-Tafsir al-Hadis di kota Bursa.

Baca Juga  Bagaimana Cara Kembali ke al-Qur'an dan al-Sunnah?

Karyanya yang lain dalam studi sejarah dapat ditemukan seperti Durus Tarikh al-Arabi (ditulis 1933), Al-Mukhthasar Tarikh al-Arab wa al-Islam (ditulis tahun 1925), Tarikh al-Jinsi al-Arabi fi Mukhtalifi al-Athwar wa Adwar wa al-Aqthar min Aqdam al-Azminah dan Turkiyah Haditsah.

*Kabid RPK PC IMM Sleman


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here