Review

Jalan Panjang Penyandang Bipolar

3 Mins read

Gangguan bipolar masih menjadi persoalan serius, tapi acap pula dipandang remeh oleh masyarakat. Stigma yang mengekori pengidap bipolar masih berkutat di kubangan negatif.

Angka 60 juta orang yang terkena bipolar dari data WHO (2016), seolah tak berarti apa-apa bagi kebanyakan masyarakat yang sering menganggap bipolar sebagai gangguan mental biasa dan tak mengkhawatirkan. Padahal, masih menurut WHO, penyakit ini berada di urutan keenam dalam penyakit utama yang menyebabkan disabilitas di seluruh dunia.

Kiranya stigma kurang baik yang dilayangkan terhadap pengidap bipolar dapat ditelusuri dari beragam faktor.

Yang utama, dari hal referensi yang kurang dan terbatas mengingat di negeri ini tak banyak buku-buku yang membahas bipolar secara khusus. Sekalipun ada, tak banyak jumlahnya. Oleh karena itu, di sinilah, Elizabeth Novarina atau yang kerap disapa Elnov, bak berjalan sendirian di gersangnya bacaan bertema bipolar ini.

Memoar Seorang Bipolar

Mengambil tajuk Anomali (Memoar Seorang Bipolar), Elnov menuliskan sendiri kisahnya sebagai pengidap bipolar yang menahun mengalami perang batin tak berkesudahan.

“Pertarunganku adalah menemukan alasan untuk hidup setiap hari”, tulis Elnov di halaman pertama kisahnya. Perempuan berkepala tiga ini telah lama mengidap gangguan di batinnya.

Sebelum tahun 2013, penyakit ini hanya menyerangnya secara batin: gelisah, ketakutan, kekhawatiran, dan pupusnya harapan. Namun, seolah mencapai puncaknya, depresinya itu pun menyerang secara fisik: kaki dingin, dada sesak, dan perut mual. Praktis, ia menutup diri dari dunia luar. Selama fase itu, Elnov hanya berdiam diri di dalam kamarnya.

Bagai perempuan berkarier cukup moncer—manajer di sebuah club sepak bola profesional—seperti Elnov, mengatakan secara jujur mengenai kondisinya tentu hal yang berat.

Baca Juga  Film Malena: Sebuah Kritik Atas Nilai Cinta Manusia yang Salah Kaprah

Depresi, sebagaimana kita tahu, masih mengundang stigma negatif dari orang lain tatkala pengidapnya mencoba speak up. Terkhusus bagai Elnov, yang tak begitu berlelah-lelahan dalam pekerjaannya dan hampir selalu tampak baik-baik saja, mengatakan depresi sebagai penyebab sakitnya jelas mengundang banyak pertanyaan.

Orang-orang di sekitarnya justru sangat mungkin menyangsikan perkataannya: Memang kamu lagi ada masalah apa? Kamu stres? Kamu kelihatan baik-baik saja gitu lho. Ya, bagi mereka, seolah depresi hanya disebabkan oleh suatu masalah. Padahal secara medis, depresi adalah sebuah gangguan mental (hlm. 3).

Atas sakitnya itu, pun desakan seorang sahabatnya, Elnov mengambil keputusan yang bakal selalu diingat dalam hidupnya, yakni ia menemui seorang psikolog. Ini tentu sebuah langkah yang cukup berat, mengingat ia mengakui sendiri bahwa butuh waktu yang tak sebentar untuk memutuskan menemui seorang psikolog.

Ketakutannya bukan saja bersumber dari dalam diri, melainkan pula anggapan yang mengatakan kalau pergi ke psikolog adalah aib dan sekali mengonsumsi obat yang mereka berikan, maka kecanduanlah sudah.

Bertemu Psikolog Menjadi Prestasi Tersendiri

Namun, ia menepis bayangan buruk itu. “Bagiku, bertemu psikolog menjadi prestasi tersendiri”, lanjut Elnov setelah menemui psikolog itu untuk kali kedua. Itu benar adanya, sebab selain menjadi pijakan awal dalam perjuangannya, Elnov merasa keputusan itu tepat dan membawa banyak dampak baik dalam dirinya. Pikirannya dapat teralihkan lagi ke perkuliahan dan pekerjaan yang sempat tertunda. Praktis, di tahun itu ia berhasil meraih gelar master dengan predikat camlaude.

Akan tetapi, itu pun tak bertahan lama. Depresi kembali menyerangnya. Dan, kali ini, penyebabnya adalah lingkungan sekitar. Pertanyaan seperti “kapan nikah?”, “kapan nyusul?”, dan ucapan “semoga segera mendapatkan jodoh” muncul kelewat sering. Ditambah, Elnov mendapatkan masalah pula di kantornya.

Baca Juga  Relevansi Naskah Merapi-Merbabu di Era Teknologi

Sampai puncaknya, ia sangat merasa perlu untuk mengundurkan diri. Di fase inilah, setelah mengundurkan diri, Elnov mencoba menganalisis dirinya sendiri. Ia mencari akar luka dan trauma yang mengganggu mentalnya itu.

Lantas, di memoarnya itu, Elnov setidaknya mendapati beberapa hal yang disinyalir memiliki andil dari sakitnya itu, di antaranya luka dari keluarga, merindu perhatian dari teman, berperang dengan diri sendiri, dan beban pikiran di tengah pekerjaan. Akumulasi dari semuanya selama bertahun-tahun ini mengganggu kejiwaannya, hingga selepas ia menceritakan soal penyakitnya kepada sang ibu, di tengah sesi terapinya, Elnov baru diberitahu bahwa dia mengidap bipolar.

Terus Berjuang

Memoar ini setidaknya berarti satu hal utama, yakni perjuangan yang panjang. Begitu tahu dirinya mengidap bipolar, Elnov terus mengupayakan kesembuhannya. Sesi terapis terus dijalaninya, baik dengan psikolog di Jakarta maupun di kampung halamannya, Pekalongan. Tak berhenti sampai di situ, ia pun kemudian mencoba ranah meditasi untuk mengolah pikiran dan mencari ketenangan diri.

Kendati meditasi tersebut belum seratus persen dapat menyembuhkannya, tetapi dengan menjalani meditasi, ia jadi memiliki keberanian menghadapi kehidupan, yang meski tidak sesempurna nirwana, ia memutuskan untuk menghadapi semuanya (hlm. 156).

Teranglah kemudian, bahwa buku ini penting bagi siapa saja. Lewat memoarnya, Elnov memberitahu kita secara langsung, ia sebagai sumber aslinya, mengenai pengidap bipolar dengan segala peperangannya.

Ia menunjukkan, bagaimana jalur yang tepat dalam menangani kondisi sakitnya. Sebab ada saja, orang yang mengakui kondisi bipolar yang dialami, tapi larinya tidak tepat. Yang terparah, orang-orang ini justru mendiagnosis diri dengan pengetahuan yang berbasis internet—atau yang kerap disebut Dokter Google.

Dan tak kalah pentingnya, sosok Elnov menjadi contoh sebagai penyandang bipolar yang beruntung, sebab ia memiliki kemampuan untuk menuliskan kisahnya. Sebagaimana perkataan salah satu psikiaternya, begitu banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh seorang bipolar dengan kemampuan menulis. Dengan menulis, penyandang bipolar bisa melihat dirinya secara jernih. Naik turunnya. Mood swing-nya. Depresi sekaligus kebahagiaannya (hlm. 156).

Baca Juga  Swaajar, Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh Era Covid-19

Elnov memang belum sepenuhnya sembuh. Ia masih berkutat dalam perjuangan yang belum kelihatan ujungnya. Namun, ia tak hendak berhenti. Buku inilah saksinya.

Judul : Anomali (Memoar Seseorang Bipolar)
Penulis : Elnov
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2020
Tebal : 186 Halaman
ISBN : 978-602-06-4227-7

Editor: Lely N

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia
Articles
Related posts
Review

Kisah-Kisah Lucu Orang Madura di Tanah Suci

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Berbincang mengenai jamaah haji yang sedang menunaikan rukun Islam kelima, saya tiba-tiba teringat dengan sebuah buku yang…
Review

Menyingkap Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Kisah-kisah yang tertuang di dalam buku ini, Kisah-Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani, sama persis dengan judul…
Review

Suleymanli & Gulen, Wajah Komunitas Muslim yang Akomodatif dengan Nilai Barat

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pada abad ke-20, minoritas Muslim muncul di Eropa untuk mencari pekerjaan, perlindungan dari konflik dan perang, serta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *