Jejak Haedar Nashir, Mengawal Moderasi Indonesia

 Jejak Haedar Nashir, Mengawal Moderasi Indonesia

Ilustrasi. Sumber: IBTimes/Galih Qoobid Mulqi

Haedar Nashir, lahir pada tanggal 25 Februari 1958 di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan dari pasangan Haji Bahrudin dan ibu Hajah Endah binti Tahim. Haedar lahir dari keluara santri, ayahnya seorang Kyai (Ajengan), serta sejak kecil mengenyam pendidikan agama sampai mengantarkannya ke Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya.

Selepas dari pesantren, Haedar melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 3 Bandung dan SMAN 10 Bandung. Setamat dari SMA, Haedar merantau ke kota pelajar Yogyakarta, melanjutkan studi di STPMD APMD Yogyakarta.

Haedar masuk APMD karena ingin pulang ke Ciparay menjadi Camat memajukan daerahnya yang sering terisolasi secara politik dampak buruk dari DI/TII di wilayahnya Jawa Barat selatan. Tahun 1984 lulus sarjana muda, kemudian kerja tahun 1987, lalu menyelesaikan S1 di APMD tahun 1991 sebagai lulusan terbaik.  

Haedar tidak jadi pulang kampung dan menjadi Camat karena menikah dengan Siti Noordjannah Djohantini, aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) aseli kelahiran Yogyakarta, yang membuat dirinya betah menetap di kota ini sampai sekarang. Dari pernikahan dengan Siti Noordjannah lahir Hilma Nadhifa Mujahidah dan Nuha Aulia Rahman, keduanya dokter lulusan UMY dan UGM.  

Minatnya pada ilmu pengetahuan bidang Sosial mendorong untuk melanjutkan studi hingga meraih gelar Master tahun 1998 dan gelar Doktor tahun 2006 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang juga dengan predikat cumlaude

Disertasi Haedar di UGM diterbitkan menjadi buku yang telah dua kali terbit, yakni Islam Syariat. buku ini sulit disanggah. Referensinya sangat kaya dan metodologinya pun sangat kuat, kata Prof.Dr Mahfud MD.  Prof. Mahfud sampai menulis kolom khusus di majalah ternama tentang disertasi Haedar itu. 

Kiprah Organisasi

Sejak usia belia Haedar adalah sosok pemuda yang gemar berorganisasi. Ikatan Pelajar Muhamamdiyah yang merupakan sayap organisasi otonom Muhammadiyah adalah organisasi pelajar yang ditekuninya semenjak dari ranting sampai pimpinan pusat.

Selain aktif di organisasi, Haedar adalah sosok yang rajin membaca dan menulis. Ketekunannya dalam dunia literasi telah mengantarkannya menjadi seorang penulisprolific. Tebaran goresan penanya, banyak menghiasai rubrik-rubrik koran baik lokal maupun nasional. 

Baca Juga  Bung Karno: Tuhan itu Ada!

Kepiawaian Haedar dalam menulis, sebagai buah dari kegemarannya membaca, semakin teraktualisasi ketika Haedar aktif di Majalah Suara Muhammadiyah, sebuah majalah terbitan Muhammadiyah yang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan sejak tahun 1915, yang keberadaannya masih eksis melampaui kurun 1 abad. Karir di Suara Muhammadiyah mulai dari menjadi juru ketik, wartawan, editor dan puncaknya menjadi pemimpin redaksi sampai sekarang.

Karir akademik Haedar dimulai ketika menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1992 pada program studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tahun 1992.

Disamping menjadi dosen, Haedar juga seorang intellectual cum activist penggerak Muhammadiyah. Jiwa kekaderan dan kepemimpinan Haedar semakin terpupuk ketika pada tahun 1985 mulai aktif di Badan Pembina kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertugas merancang, mendesain, dan menyiapkan pengaderan pemimpin Muhammadiyah. 

Pada Muktamar ke-45 tahun 2000 di Jakarta, Haedar terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat dan diberi amanah menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendampingi Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif. Ketika menjadi sekretaris umum, Haedar yang sudah sangat terlatih, piawai mengelola laju gerak Muhammadiyah sekaligus menjadi ideolog Muhammadiyah dengan karakter inklusifisme Islam. Duet Syafii Maarif dan Haedar Nashir saling melengkapi dalam menjaga kapal besar Muhammadiyah di tengah situasi bangsa yang berubah dan penuh gejolak saat Reformasi 1998. 

Ketika Buya Prof. Dr.Syafii Ma’arif mengakhiri masa tugasnya, Haedar Nashir masih terus melanjutkan kiprahnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada masa kepemimpinan Prof.Dr. Din Syamsudin menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015, Haedar diamanahi menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai sekarang

Kesibukan Haedar Nashir dalam mengurus Muhammadiyah, tidak menjadikan Haedar lupa dan melupakan tanggungjawab akademiknya sebagai dosen. Haedar tetap melaksanakan tugas catur dharma perguruan tinggi, mengajar, memberi kuliah kepada mahasiswa, membimbing, menguji, melakukan riset, menulis jurnal internasional bereputasi dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini terasa cukup istimewa di tengah kesibukan dalam menahkodai organisasi Islam modern terbesar di dunia saat ini.

Baca Juga  K.H. Asnawi Hadisiswaya (1905-1961): Guru Pembelajar Penggerak Perubahan

Tugas melayani masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk kunjungan ke pelosok-pelosok tanah air menyapa penggerak perubahan di grassroot, bahkan sampai ke panggung internasional ditunaikan penuh dedikasi bersamaan dengan tugas dan perannya sebagai seorang cendekiawan kampus tanpa kehilangan karakter intelektual organik.

Karya Intelektual

Sebagai akademisi, Haedar Nashir terbilang sebagai penulis yang produktif, banyak karya tulisan yang diterbitkan baik berupa artikel lepas, buku utuh dan paper hasil penelitian. Hingga pada puncaknya, pada hari ini Doktor Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi.

Dari deretan panjang karya dan sepak terjang Haedar, tergambar dengan jelas betapa kuat perhatian, komitmennya pada Islam dan keindonesiaan, yang semuanya bermuara pada moderasi Indonesia yang autentik. Faham keislaman yang moderat, tengahan, damai dan toleran yang ditopang dengan kondisi sosial bangsa yang majemuk menjadikan Haedar mempunyai pemikiran, sikap dan tindakan yang meletakkan moderasi sebagai sebuah jalan menuju kedamaian dan kemajuan berbangsa. Moderasi politik Haedar adalah menjaga bangsa dan merawat keberagaman bersama.

Dalam konteks Moderasi, Haedar adalah sosok yang anti kekerasan, dirinya sangat sensitif jika menyaksikan kekerasan dalam bentuk apapun. 

  • Sebagai sosok yang tekun baik dalam organisasi, Haedar juga dikenal sangat tekun dalam tradisi intelektual. Karya-karya intelektualnya sejak usia muda, sangat konsisten dengan ideologi menyuarakan “Moderasi Indonesia”. Hal ini dapat dilihat dari buku-buku yang diterbitkan, antara lain:  
  • Budaya Politik dan Kekuasaan, 1997;
  • Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, 1997, 1999; 
  • Pragmatisme Politik Kaum Elit, 1999; 
  • Perilaku Politik Elit Muhammadiyah, 2000; 
  • Dinamika Politik Muhammadiyah, 2001; 
  • Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah, 2001; 
  • Ideologi Gerakan Muhammadiyah, 2002; 
  • Islam dan Perilaku Umat di Tengah Perubahan, 2002; 
  • Kristalisasi Ideologi dan Komitmen Bermuhammadiyah, 2007; 
  • Manifestasi Gerakan Tarbiyah, 2007, 2009; 
  • Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan, 2010; 
  • Muhammadiyah Abad Kedua, 2011; 
  • Islam Syariat, 2007, 2013; 
  • Ibrah Kehidupan, 2013; 
  • Pendidikan Karakter dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan, 2013; 
  • Memahami Ideologi Muhammadiyah, 2014; 
  • Gerakan Islam Pencerahan, 2015, 2017, 2019; 
  • Muhammadiyah a Reform Movement, 2015; 
  • The Understanding of the Ideology of Muhammadiyah, 2015; 
  • Muhammadiyah A Reform Movement, 2015; 
  • Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua, 2015; 
  • Tragedi Neo-Holocaust, 2017; 
  • The Tragedy of Holocaust, 2017; 
  • Indonesia Hitam-Putih, 2017; 
  • Black and White Indonesia, 2017; 
  • Kuliah Kemuhammadiyahan 1, 2018; 
  • Kuliah Kemuhammadiyahan 2, 2018; 
  • Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo Islam, Pancasila dan Negara, 2018; 
  • Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologis, 2019.
Baca Juga  Ibnu Khaldun: dari Seorang Politikus menjadi Ilmuwan Besar

Selain buku, beliau juga melahirkan karya akademik-ilmiah yang berbobot, antara lain: 
Electoneering is a Religious Practice? Electoral Politics of Muhammadiyah Cadres At The Regent Elections In Yogyakarta Province, Indonesia, Jurnal Internasional, Dimuat di International Journal of Sciences and Research, Volume 73 Nomor 11 November 2017; 
Bottom Up-Sharia Formalization in Indonesia’s Nation State, Dimuat di Jurnal :Ilmu Studi Pemerintahan, Volume 8 Nomor 1 Agustus 2017; 
Re-Islamisation: the Conversion of Subculture Abangan Into Santri in Surakarta, Jurnal Internasional, Dimuat di Jurnal Internasional Islam and Muslim Societies, Vol. 8 No. 1 Tahun 2018; 
Social Capital and Disaster: How Does Social Capital Shape Post-Disaster Conditions in the Philippnes?, Jurnal Internasional, Nama Journal: Journal Of Human Behavior in The Social Environment, Volume 29 No. 1 Januari 2019; dan 
Muhammadiyah’s Moderation Stance in the 2019 General Eelection, Jurnal Internasional, Nama Jurnal: Al Jami’ah, Volume 57 No. 1 Tahun 2019, Penerbit: UIN Sunankalijaga Yogyakarta.

Dari karya-karya tersebut tercermin kemenyatuan pandangan keislaman dan keindonesian Haedar Nashir, yang merefleksikan pemikiran, sikap dan posisi sebagai seorang tokoh dan simbol dari Moderatisme Indonesia dengan bingkai Islam Berkemajuan. 

Penulis: Bachtiar Dwi Kurniawan

Editor: Azaki Khoirudin


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *