Kang Jalal, Kyai Sufistik yang Cerdas Intelektual dan Moral - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kang Jalal, Kyai Sufistik yang Cerdas Intelektual dan Moral

3 Mins read

Dunia pemikiran Islam Indonesia kembali terguncang dengan kembalinya kehadirat Tuhan seorang pemikir Islam garda depan, cendekiawan yang sufistik Dr KH Jalaluddin Rakhmat. Sebelumnya cendekiawan muslim yang seangkatan dengan Kang Jalal panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat seperti Cak Nur, Gus Dur, Dawam Raharjo, telah lebih dahulu menghadapi kepada Sang Pencipta.

Kang Jalal adalah seorang cendekiawan yang multitalenta. Dia seorang sarjana komunikasi yang sangat fasih dalam menyampaian pesan-pesan keislaman. Sejak kecil, beliau sudah terbimbing dengan ilmu-ilmu keagamaan yang kental karena ayah beliau seorang kyai kampung yang kental dengan ilmu-ilmu dasar keislaman yang kuat.

Pertama sekali, penulis akrab dengan pemikiran Kang Jalal adalah saat penulis kuliah di Makasar ditahun 90-an. Awalnya, membaca pemikiran Kang Jalal lewat buku-bukunya yang sangat bestseller pada waktu itu yaitu Khotbah-Khotbah di Amerika, Islam Alternatif, dan Islam Aktual. ketiga buku Kang Jalal ini sangat familier di tahun 90-an.

Diterima di Kalangan Cendekiawan dan Orang Awam

Ketiga buku Kang Jalal ini adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang singkat dan tentu saja padat dengan makna pesan keislaman yang memberikan pemikiran alternatif dan sangat aktual. beliau adalah tipe cendekiawan muslim bak pesawat terbang. Dia bisa mendarat dengan baik tapi dan juga bisa berada di atas awan. Maksudnya bahwa, Kang Jalal mampu menyampaikan pesan-pesan keislaman yang ilmiah di hadapan para sesama cendekiawan, tetapi juga sangat piawai menyampaikan pesan-pesan keislaman di kalangan awam dengan baik.

Kalau kita mencermati buku-buku Kang Jalal satu persatu, akan tergambarkan dengan pengibaratan di atas. Kalau kita membaca buku-bukunya, kita dengan mudah mencerna pesan-pesan keislamannya. Salah satu ciri khas dari beliau adalah lebih banyak mengangkat kisah pada masa Nabi dan para sahabat, kemudian mencoba mengangkat dalam konteks kekinian.

Baca Juga  Pemikiran Jalaludin Rakhmat (1): Peran Agama di Era Modern

Bahasanya sangat sederhana dan komunikatif, sehingga siapapun yang membacanya, akan sangat mudah untuk memahaminya. Tidak banyak cendekiawan muslim yang mampu mengkomunikasikan pesan-pesan yang rumit kemudian diramu dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami tanpa meninggalkan pesan inti yang akan disampaikan seperti Kang Jalal.

Di sisi yang lain, beliau juga mampu menulis buku yang agak berat. Karena, banyak juga tulisan-tulisannya yang berbau filsafat dan pemikiran keislaman yang agak rumit menjadi konsumsi untuk para akademisi di perguruan tinggi. Di sinilah keistimewaannya. Dia bisa naik ke menara gading berbicara tentang keislaman yang level tinggi bersama sama para cendekiawan muslim sekelas Harun nasution, Nurcholis Madjid, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid. Di samping itu, dia bisa memberikan pencerahan ke masyarakat awam dengan bahasa-bahasa yang mudah dipahami.

Pemikirannya yang Diminati Para Mahasiswa

Di level perguruan tinggi, pemikiran-pemikirannya juga sangat diminati oleh para mahasiswa. Di awal kepulangannya menuntut ilmu di Amerika, menurut cerita Bang Imad panggilan akrab untuk Dr Imaduddin Abdurrahim, para aktivis masjid salman ITB terbagi menjadi dua. Ada pengikut Nurcholish Madjid dan pengikut Jalaluddin Rakhmat. Walaupun kedua orang ini tidak bermaksud membentuk pengikut-pengikut setia. Kiranya, mereka telah melahirkan pola pemikiran yang berbeda. Dan berbeda dalam pemikiran bukanlah sesuatu yang harus disesali (Bang Imad).

Kepiawaian Kang Jalal dalam mengkomunikasikan pemikiran-pemikiran keislaman, baik dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan, beliau sangat bijak dan tidak emosional dalam menanggapi kritikan-kritikan dalam berbagai diskusi keilmuan.

Beberapa kali penulis ikuti seminar atau diskusi di Makassar sejak tahun 90-an sampai tahun 2000-an. Beliau sangat tenang dan bijak dalam menanggapi kritikan dan cacian. Suatu karakter yang langka dan jarang orang orang memilikinya.

Baca Juga  Didi Kempot: Millenial dan Kesedihan yang Abadi

Salah satu pertemuan di Unhas di tahun 90-an bertemakan Mazhab Ukhuwwah, ada salah seorang penanya yang mencoba mengkritik beliau dengan menunjukkan kitab berbahasa Arab kepada beliau dan penanya ini membaca kitab itu dihadapan Kang Jalal. Kang Jalal saat itu sempat meluruskan bacaan penanya yang nampaknya salah baca.

Rupanya, kitab yang dibaca itu adalah terjemahan dari bahasa Persia yang kebetulan aslinya ada ditangan Kang Jalal. Kang Jalal pun mencoba memberikan pemahaman kepada penanya tentang isi kitab aslinya berbahasa Persia. Ketenangan dan kesabaran saat menerima kritik dan caci maki dijawab dengan pendekatan keilmuan yang argumentatif.

Cerdas Secara Intelektual dan Emosional

Menggabungkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional adalah sesuatu yang berat. Sangat jarang kita dapati seseorang yang cerdas secara intelektual di satu sisi diikuti dengan kecerdasan emosional atau kesabaran di sisi yang lain. Salah satu kelebihan Kang Jalal adalah mampu untuk menggabungkan kedua kecerdasan tersebut.

Kita kebanyakan lemah di bidang ini, tapi kita mudah kebakaran jenggot ketika kita menerima kritikan atau cacian dari orang lain. Banyak orang yang punya kecerdasan yang cukup, tapi ketika menerima kritikan atau cacian, mereka kehilangan rasionalitas keilmuan dan membalas kritikan dengan nada emosional yang tidak mencerminkan nilai-nilai etika keilmuan.

Marilah kita belajar untuk lebih bijak dalam mengaktualisasikan keilmuan dengan cara-cara seperti disinggung dalam Al-Qur’an, yaitu dengan hikmah, pesan kebaikan, dan argumen-argumen yang kuat. Itulah yang coba diaktualkan beliau dalam berbagai buku dan tulisannya yang sangat penuh hikmah dengan kisah-kisah yang menyentuh disertai dalil-dalil argumentatif.

Setidaknya, ada dua model pemikiran dakwah Kang Jalal kalau kita merujuk ke buku-bukunya yang telah di terbitkan. Yang pertama adalah, Islam yang dikedepankan Kang Jalal lewat bukunya Islam Alternatif dan Islam Aktual sangat kental dengan Islam yang berdimensi muamalah dengan keperpihakan kepada kaum mustadh’afin atau golongan-golongan yang terpinggirkan. Yakni fakir miskin. Dan yang kedua adalah Islam Sufistik.

Setelah buku Islam Alternatif dan Islam Aktual, karya-karya beliau lebih banyak bernuansa sufistik. Salah satu karyanya yang sangat diminati di tahun 90-an adalah Renungan-Renungan Sufistik. Selamat jalan Kang Jalal, pemikiran pemikiranmu akan selalu dikenang.

Baca Juga  Jasser Auda, Pembaru Maqasid Syariah Kontemporer

Editor: Yahya FR

Avatar
24 posts

About author
Kepala Madrasah Aliyah Nuhiyah Pambusuang, Sulawesi Barat.
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Islam Mazhab Ukhuwah: Mengenang Jalaluddin Rakhmat

4 Mins read
Salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib, Imam Al-Askari, pernah menyebutkan bahwa di antara tanda-tanda pengikut Ali adalah, “Orang yang berjuang di…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Selamat Jalan Dr. Najamuddin Ramli, Kader Militan Muhammadiyah

5 Mins read
“Muhammadiyah kehilangan kader yang militan serta memiliki pemikiran dan pergaulan yang luas”. Demikian ungkapan duka yang mendalam dari Ketua Umum PP Muhammadiyah…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan

6 Mins read
Pembahasan pada bagian sebelumnya telah menyinggung beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat. Selain itu, diulas pula pendapat Jalaludin Rakhmat tentang peran agama di era…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa