Karakteristik Tafsir At-Tanwir (3): Membangkitkan Etos

 Karakteristik Tafsir At-Tanwir (3): Membangkitkan Etos
Foto: Suara Muhammadiyah            

Karakteristik Tafsir At-Tanwir yang ketiga adalah tafsir yang membangkitkan etos. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan bahwa, etos sangat perlu dalam mendorong kehidupan masyarakat dalam membangun diri dan melampaui ketertinggalan.

Membangkitkan Etos

Dalam Tafsir At-Tanwir ada empat etos yang dibangun, yaitu: etos ibadah, etos ekonomi dan etos kerja, etos sosial, dan etos keilmuan.

Pertama, dalam etos ibadah. Misalnya, dalam surat Al-Fatihah ayat ke 5 dalam Tafsir At-Tanwir telah dijelaskan bahwa ibadah merupakan perwujudan dari tauhid uluhiyyah yaitu keyakinan yang kuat dalam hati setiap muslim bahwa Allah swt adalah satu-satunya Tuhan yang patut dijadikan Illah (Tuhan) yang haq, yang harus dipatuhi, ditaati, diangungkan, dimuliakan, menjadi sumber pengabdian dan menjadi tujuan dalam menjelani kehidupan. Lebih lanjut diuraikan sebagai berikut:

“Manusia menjalani kehidupan dengan mengabdi kepada Allah (ibadah). Pengabdian manusia kepada Allah akan berimplikasi pada perilaku ihsan terhadap sesama manusia maupun sesama makhluk hidup, baik flora, fauna, dan lingkungan alam lainnya. Semua aktifitas manusia pada dasarnya sebagai pengabdian kepada Allah. Misi Allah menciptkan manusia hanya untuk beribadah. Perintah Allah kepada manusia pun pada dasarnya hanya untuk beribadah.” (Tafsir At-Tanwir Juz 1, hlm. 63).

Agar etos ibadah seseorang terbangun, maka setiap ibadah yang dilakukan harus memberikan dampak positif bagi diri dan lingkungan sekitarnya. Dalam pemahaman ini, etos ibadah tidak sekedar mekanis-ritualis yang berujung pada kesalihan individual semata, melainkan mampu melahirkan tindakan praksis dalam bingkai kesalihan sosial.

Etos Ekonomi dan Etos Kerja

Lebih lanjut, Syamsul Anwar menjelaskan bahwa ibadah, selain sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah swt juga harus dapat memberi pengaruh positif yang ril dalam masyarakat. Etos ibadah inilah yang sudah dicontohkan oleh pendiri Muhammadiyah yaitu KHA Dahlan dengan konsep teologi amal dengan spirit Al-Ma’un.

Kedua. Tafsir At-Tanwir juga diharapkan mampu membangkitkan etos ekonomi dan etos kerja. Adapun yang termasuk dalam etos ekonomi dan etos kerja adalah konsep-konsep semagat kerja, disiplin, tepat waktu, orientasi hasil, hemat walau tidak kikir, kerjasama, selalu meningkatkan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan dan tanggung jawab.

Elemen-elemen etos ekonomi dan etos kerja tersebut menjadi titik tekan dalam Tafsir At-Tanwir. Menurut Syamsul Anwar, banyak istilah dalam Islam yang berasal dari turunan istilah ekonomi.

Misalnya dalam QS. Ath-Tholaq: 6 kata ujura (أُجُورَ) yang berarti upah. Dalam ayat 6 surat Ath-Tholaq tersebut dikatakan bahwa pemberian upah itu harus segera dilakukan setelah selesainya pekerjaan. Saat dijadikan konsep teologi, ujura atau ajrun berarti pahala. Terminasi ekonomi juga bisa ditemukan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat ke 16 yaitu isytaraudh dhalalata bi al-huda fama rabihat tijaratuhum (اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ).

Pernyataan ini menggunakan istilah perdagangan yang sedang berkembang di Madinah ketika itu supaya lebih komunikatif. Uraian di atas mengindikasikan bahwa hubungan ekonomi dan agama itu demikian erat. Oleh sebab itu, sudah semestinya agama mampu memberikan dorongan terhadap pertumbuhan dan perkemabangan ekonomi.

Syamsul Anwar mengatakan, Indonesia tidak bisa maju jika ekonomi umat tidak maju. Di sini penafsiran-penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsir at-Tanwir diharapkan mampu dalam mendorong kemajuan perekonomian umat.

Integrasi Etos Ekonomi dan Etos Kerja

Karakteristik membangkitkan etos ekonomi dan etos kerja juga tampak dalam Tafsir at-Tanwir. Ketika misalnya menafsirkan surat Al-Baqarah ayat ke 6 dan 7 tentang kekufuran. Berikut ini penulis kutipkan uraiannya:

“Jika orang yang bertaqwa mampu menghadirkan petunjuk Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sebaliknya dengan orang yang kafir, mereka justru tidak mampu atau bahkan mengngkari petunjuk Al-Qur’an terebut. Orang yang berbuat baik dan memberi manfaat kepada orang lain, ia melakukannya karena berharap imbalan jasa atau pujian, dapat dikatakan sebagai orang yang tidak mempu menghadirkan petunjuk Al-Qur’an dalam dirinya.

Adapun orang yang berbuat buruk dan merugikan orang lain, ia melakukannya karena merasa mampu menghindarkan diri dari ancaman hukuman duni, adalah contoh nyata orang yang bersikap kafir.” (Tafsir At-Tanwir Juz 1, h. 117).

Uraian kekufuran tersebut di atas kemudian di integrasikan dengan etos kerja. Misalnya seperti tergambar pada uraian dibawah ini:   

“…seseorang yang tidak mampu mengatur waktunya, berperilaku ceroboh, tidak disiplin, tidak taat pada pemimpin, enggan memaksimalkan diri untuk menyelesaikan dan mengakhiri aktivitasnya dengan sesuatu yang bermanfaat, adalah bentuk dari ketidakmampuan seseorang menghadirkan sikap taqwa dalam keidupannya.

Bahkan jika seseorang berinfak dengan cara sembarangan atau dengan kata lain tidak mempertimbangkan kemanfaatan yang lebih besar untuk masyarakat luas, bisa dikatakan seseorang itu sedang melakukan perbuatan yang mubazir. Sebagai contoh, memberi uang receh pada pengemis atau anak jalanan dijalan-jalan, karena hanya akan membuat mereka semakin betah tinggal dijalanan, bahkan bisa jadi uang yang mereka terima justru diguankan untuk hal-hal yang tidak manfaat, seperti berjudi atau membeli minuman keras.” (Tafsir At-Tanwir Juz 1, hlm. 117-118).

Ketiga, etos sosial yaitu berupa solidaritas, persaudaraan, toleransi, demokrasi, orientasi kepentingan bersama, kesadaran lingkungan, penghargaan kepada orang lain, pengendalian diri, kepedulian sosial, semangat berkorban di jalan Allah dan lain-lainnya.

Etos Sosial

Beberapa elemen membangkitkan etos sosial yang telah disebutkan hanyalah sebagian contoh saja. Masih banyak ranah lain yang termasuk etos sosial dalam Tafsir at-Tanwir. Salah satu diantaranya adalah etos pengeloaan organisasi berupa kemampuan menarikpartisipasi masyarakat, amanah, transparansi, keadilan, akuntabilitas, vsioner dan lain-lainnya. Etos sosial tersebut menjadi perhatian dan fokus menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya dalam Tafsir at-Tanwir Jilid prtama Juz 1 ini. 

Contoh etos sosial yang mencakup nilai-nilai toleransi, misalnya ketika menafsirkan surat Al-Baqarah ayat ke 62. Ayat ini menjelaskan tentang empat golongan yang akan mendapatkan pahala dari Tuhan yaitu orang mukmin, orang Yahudi, orang Nasrani dan orang Sabean. Penafsiran ayat ini kemudian dimunasabahkan dengan surat Ali Imran ayat 64:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Ayat 64 dari surat Ali Imran ini mengindikasikan adanya dialog yang bisa dibangun antara Islam dengan non Muslim untuk menuju titik temu yang sama dalam beragama. Dialog ini bisa dikedepankan dari pada dengan kekerasan. Peluang untuk menuju titik temu yang sama ada, karena menurut Tafsir at-Tanwir ajaran wahyu baik Islam, Yahudi maupun Nasrani berasal ari Zat yang sama. Lebih lanjut di bawah ini penulis kutibkan uraian Tafsir at-Tanwir sebagai berikut:

“Para ahli tafsir pada umumnya cenderung mengatakan bahwa ajakan menuju “suatu kalimat” yang dipahami sebagai “titik temu” ini tiada lain melaksanakan sistem akidah Islam. Karena di dalam surah ini ada prinsip menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun serta tidak melakukan kultus terhadap sesama makhluk. Sulit dibayangkan kiranya memenuhi ajakan Al-Qur’an ini bersamaan dengan tetap memeluk agama lama mereka.

Hal ini karena sistem akidah dalam agama lama memiliki identitas tertentu yang mengarah kemusyrikan, yang membedakannya dari sistem akidah tauhid yang diajarkan Muhammad Rasulullah. Namun demikian, apa bila mereka tidak mau memenuhi ajakan menuju “satu kalimat” (kalimatin sawa’/كَلِمَةٍ سَوَاءٍ), maka umat Islam tidak boleh memaksa keyakinan mereka. Di sini berlaku toleransi antar umat beragama.” (Tafsir At-Tanwir Juz 1, hlm. 289-293).

Etos Keilmuan

Dari uraian di atas tampak bahwa nilai-nilai toleransi harus dikedepankan. Di sinilah karakteristik etos sosial dalam Tafsir At-Tanwir tampak. Karakteristik etos sosial juga tampak dalam Tafsir At-Tanwir ketika menafsirkan ayat 111-113 dari surat Al-Baqarah masih tentang sikap Muslim terhadap ahlulkitab.

Dalam Tafsir At-Tanwir telah diuraikan bahwa Allah memberikan tuntunan tentang sikap yang harus dimiliki umat Islam untuk menghadapi ahlul kitab, yaitu harus ada kemampuan mengendalikan diri dengan memberi maaf dan berlapang dada. Karakteristik etos soial dengan mengedepankan nilai-nilai toleransi antar umat beragama semacam ini penting untuk dikedepankan. Mengingat bahwa perdamain dunia juga tidak dapat dipungkiri bisa rusak jika tidak ada nilai-nilai toleransi.

Penafsiran semacam ini penulis kira penting untuk dikembangkan guna mewujudkan keharmonisan dalam berbangsa dan beragama. Di Indonesia sendiri masih belum banyak karya-karya tafsir yang mengedepankan etos sosial semacam ini. Jangan sampai karya-karya tafsir yang muncul justru malah memcah hubungan natar umat beragama.

Keempat, etos keilmuan. Tafsir yang membangkitkan etos keilmuan yaitu penafsiran Al-Qur’an yang diarahkan kepada upaya memberi dorongan kepada pembaca untuk menyadari arti penting ilmu dan pengetahuan serta dorongan untuk menguasai science dan teknologi bagi kepentingan pengembangan dan pembersayaan masyarakat.

Dalam Tafsir at-Tanwir juga ditegaskan bahwa kebangkitan umat Islam tidak mungkin terjadi tanpa perjuangan keras untuk menguasai ilmu dan teknologi. Penafsiran yang membangkitkan etos keilmuan inilah yang juga banyak ditampakkan dalam Tafsir at-Tanwir. Misalnya ketika menafsirkan ayat ke 26 dari surat Al-Baqarah:

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”

Karakteristik Tafsir At-Tanwir

Ketika menguraikan perumpaan seekor nyamuk dalam ayat tersebut, dalam Tafsir at-Tanwir begitu tampak menenkankan etos keilmuan. Di bawah ini penulis kutibkan uraikan perumpaan seekor nyamuk yang menunjukkan etos keilmuan:

“Nyamuk adalah serangga yang terdiri dari 41 genus dan 3530 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing dan enam kaki panjang. Ukuran nyamuk berbeda-beda, tetapi jarang sekali melebihi 1 mm. Dalam kebanyakan nyamuk betina, bagian mulut membentuk proboscis panjang untuk menembus kulit mamalia untuk menghisab darah.

Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur. Nyamuk betina tidak menemukan protein dalam makanannya, oleh sebab itu mereka mencarinya dengan menghisab darah manusia. Hanya nyamuk betina saja yang menghisab darah, sedangkan nyamuk jantan tidak karena tidak membutuhkan protein seperti nyamuk betina. Bahkan mulut nyamuk jantan tidak dapat menghisab darah. Oleh sebab itu di dalam ayat yang dibahas disebutkan ba’udhah (بَعُوضَةً) artinya nyamuk betina.” (Tafsir At-Tanwir Juz 1, hlm. 179).

Penafsiran ayat ke 26 dari surat Al-Baqarah yang menunjukkan etos keilmuan seperti ini masih jarang sekali ditemukan dalam tafsir-tafsir yang lain. Urainnya benar-benar menunjukkan etos ilmu pengetahuan. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an sangat diperlukan penguasan ilmu pengetahuan yang lebih luas, bukan hanya seputar ulum Al-Qur’an, namun juga ilmu-ilmu umum diluar ulum Al-Qur’an. 

Karakteristik Tafsir At-Tanwir yang membangkitkan etos keilmuan juga tampak ketika menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 30 tentang penciptaan manusia di muka bumi sebagai khalifah.

Metode dan Pendekatan Baru

Dalam uraiannya terkait sejarah manusia, Tafsir At-Tanwir membantah Teori Evolusi. Berikut kami kutibkan uraiannya:

“Semua ayat mengenai penciptaan dan prosesnya ini menegaskan pandangan bahwa manusia sebgai satu spesies diciptakan oleh Allah, sebagaimana spesies-spesies makhluk hidup yang lain, dalam tatanan yang rumit. Dengan demikian, mereka tidak terbentuk oleh kebetulan-kebetulan acak dan di luar kesengajaan seperti yang dinyatakan dalam Teori Evolusi…

Dalam Pandangan kreasionis (penganut kepercayaan bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan), kebenaran terjadinya penciptaan itu secara empiris dibuktikan dari lapisan kambrium. Lapisan kambrium adalah lapisan bumi tertua tempat ditemukannya fosil-fosil makhluk hidup yang diperkirakan berusia 500-550 juta tahun. Fosil-fosil yang ditemukan dalam lapisan itu adalah fosil siput, trilobita, bunga karang, cacing tanah, ubur-ubur, landak laut dan invertebrate kompleks lainnya.” (Tafsir At-Tanwir Juz 1, hlm. 203).      

Penafsiran yang mengusung etos keilmuan seperti ini masih jarang sekali ditemukan dalam tafsir-tafsir yang ada. Banyak produk tafsir yang ada hanya berpaku pada satu pendekatan saja, yaitu bayani. Sehingga praduk-produk tafsir yang ada terkesan terlalu melangit. Susah dijangkau oleh manusia awam.

Padahal sisi burhani dalam penafsiran Al-Qur’an menjadi hal yang juga penting untuk diungkapkan. Begitu pula dengan sisi irfaninya. Dengan demikian penafsiran dalam Tafsir at-Tanwir tidak monoton atau tidak hanya sekedar mengulang penafsiran-penafsiran yang sudah ada.

Sebab itu, metode dan pendekatan baru dalam penafsiran Al-Qur’an penting untuk dikedepankan. Metode dan pendekatan yang baru akan menghasilkan praduk penafsiran yang juga baru. Karena bagaimanapun, perkembagnan zaman yang diiringi majunya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dipungkiri memunculkan berbagai persolan baru dalam kehidupan umat manusia.

Perkembangan zaman inilah yang kemudian direspons baik oleh Tafsir at-Tanwir yang menggunakan metode tahlili cum tematik dengan pendekatan bayani, burhani dan irfani. Ketiga pendekatan tersebut kemudian melahirkan tiga karakteristik penafsiran dalam Tafsir at-Tanwir sebagaimana telah diurakan di atas. (Habis)

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

M Nurdin Zuhdi

M Nurdin Zuhdi

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.