Etika Sosial Profetik Perayaan Idul Fitri

 Etika Sosial Profetik Perayaan Idul Fitri

Oleh: Nugroho Notosusanto

Puasa Ramadan 1441H (2020) telah berhasil kita lewati. Ahad, 24 Mei 2020, umat Islam di tanah air merayakan hari raya berbuka kembali (idul fitri). Hari berbuka ditandai dengan dibolehkannya umat islam makan dan minum seperti biasa, dan justru haram hukumnya berpuasa di 1 syawal.

Demikian Nabi Muhammad mengabarkan, “Hari mulai berpuasa (1 ramadan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” Hari berbuka kembali (idul fitri) umumnya dirayakan dengan penuh kegembiraan, karena umat Islam berhasil menahan lapar, dahaga, dan segala yang membatalkan puasa selama satu bulan penuh.

***

Merujuk pada satu kisah Nabi Muhammad, pernah dalam suatu perayaan idul fitri, nabi Muhammad mendapati seorang anak yang tampak murung, sedih, menyepi, dan bahkan tak berpakaian secara layak. Sementara di sisi lain, terdapat sekumpulan anak yang bergembira, bermain bersama penuh suka cita.

Anak itu didekati dan ditanya nabi, “mengapa engkau tampak begitu sedih nak?” Anak itu menjawab, “ayah saya telah wafat Karena syahid ikut berjihad bersama muhammad, dan ibu saya menikah lagi, saya ditelantarkan, peninggalan ayah diambil ibu dan suami barunya, tinggallah saya seorang diri, menjadi yatim tanpa kasih sayang orang tua, kelaparan tak punya apa-apa, dan terhina”.

Hati Muhammad begitu trenyuh, Ia dilingkupi kesedihan, lalu Ia berkata, “Maukah nak kamu menjadi anak angkatnya Muhammad, dimana Aisyah menjadi ibumu, Fatimah menjadi saudara perempuanmu, Hasan dan Husein menjadi saudara laki-lakimu, Ali bin Abi Tholib menjadi pamanmu”.

Anak itupun gembira sekali, dan tentu saja ia bersedia menerima tawaran Rasulullah. Anak itu dibawa ke rumah nabi, diberi makan dan minum yang sama dengan apa yang nabi Muhammad dan keluarganya makan, dan dikenakan pakaian yang bagus, dan juga wangi-wangian.

Di antara pembelajaran yang dicontohkan nabi Muhammad dari kisah itu adalah jangan sampai ada di sekitar kita terdapat umat yang sangat bersedih hati, akibat kenestapaan hidup, justru di hari yang mestinya dirayakan dengan penuh kegembiraan.

Dari kisah itu, kita menjadi mengerti bahwa keberhasilan perayaan hari berbuka tidak ditandai dengan pakaian baru yang dipakai banyak umat di tanah air, melainkan bagaimana umat bisa melakukan praktik sosial dengan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang sangat membutuhkan.

Nabi berkata, “Tidaklah id bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi id sesungguhnya bagi orang yang takwanya meningkat”.

***

Apa yang dilakukan nabi Muhammad terhadap seorang anak yang malang seperti dikisahkah di atas adalah contoh nyata dari etika sosial profetik. Sebuah konsep welas asih yang bersumber dari nilai islam dan diajarkan serta dipraktikkan oleh Muhammad SAW. Islam sebagai agama yang memiliki konsep keselamatan, tidak hanya menjawab kebutuhan kesalehan pribadi, namun lebih dari itu, ia memiliki banyak referensi soal bagaimana mestinya kesalehan sosial dibumikan. 

Mencintai, dan memelihara anak-anak yatim, baik yatim biologis terlebih keyatiman sosial, memiliki dimensi spritualitas yang dibalas dengan surga, dan pada saat yang sama secara sosial menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa dari kesengsaraan, dan kefakiran.

Nabi berkata bahwa mereka yang memelihara anak yatim akan berdekatan dengan nabi di dalam surga Allah Swt, “Aku dan orang yang mengurus (menanggung) anak yatim (kedudukannya) di dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan (kedua jarinya yaitu) telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya” (HR. Bukhari)

Dalam konteks kita merayakan hari berbuka (idul fitri), perlu kita refleksikan kembali bahwa tujuan taqwa dari ibadah puasa ramadan salah satunya akan terwujud jika kita secara sungguh-sungguh melakukan etika sosial profetik berupa hidup berbagi, memikirkan mereka yang tak beruntung baik di waktu rejeki kita lapang atau sempit.

Allah swt berfirman (Ali Imran;133-134), “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari TuhanMu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya),baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Etika Sosial Profetik yang ditandai dengan membela orang-orang lemah baik secara struktural (mustadh’afin) maupun kultural (dhuafa), diajarkan oleh madrasah ramadan dengan adanya praktik zakat fitri, zakat mâl, serta infak dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. Terlebih kita melewati puasa dengan konteks adanya ancaman virus covid-19. Banyak sekali kepedulian yang ditunjukkan umat Islam dengan berbagi kepada mereka yang terdampak secara ekonomi, sosial, dan psikologis.

Dalam konteks etika sosial profetik, konsep zakat sejatinya berfungsi sebagai sarana penyucian diri, dan sarana penyucian harta. Pada hakikatnya, menyantuni atau menolong fakir miskin sesungguhnya menolong kemanusiaan universal. Karena itu, dalam momentum Idul Fitri jangan sampai ada di antara umat Islam yang bersedih dan meminta-minta karena tiada memiliki apa-apa. Itulah sebabnya, mengeluarkan zakat fitri harus dilaksanakan sebelum shalat Id.

***

Etika sosial profetik menuntun kita agar membelanjakan harta sesuai kebutuhan. Menjauhi sikap foya-foya, menghambur-hamburkan, sikap berlebihan, lupa bahwa di dalam harta kita masih ada hak orang-orang yang membutuhkan.

Merujuk firman Allah SWT (Al a’raf:31), “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. Pesan senada dapat dijumpai dalam Surat At Takatsur : (i) bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (ii) hingga kamu masuk ke dalam kubur.

Di samping tidak dibenarkan hidup berfoya-foya atau bermegahan, etika sosial profetik mengajarkan agar kita juga tidak boleh kikir dalam membelanjakan hartanya. Sikap yang harus diambil adalah sikap tengahan, sikap antara tidak boros dan tidak pula kikir. Pola hidup yang sering kita kenal dengan hidup sederhana.

Pesan Allah swt (Q Al Isra:29),“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” Ilustrasi tangan yang terbelenggu pada leher adalah sebuah metafora sikap kikir. Sedangkan mengulurkan tangan dengan terlalu merupakan metafora sikap berlebihan/pemborosan.

Dalam QS. Al Hasyir (59): 7, secara tersurat diberikan satu jalan transformasi berupa membagi kekayaan secara adil dan bertanggungjawab, agar alat produksi dikuasai secara lebih adil. Sejalan dengan pesan itu, etika sosial profetik memberi pedoman atas pengambilan zakat dari harta orang-orang kaya karena dalam harta mereka itu terdapat hak-hak kaum fakir miskin.

Alquran surat At-Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan [mereka dari kekikiran  dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda] dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. Dalam ayat tersebut terdapat kalimat perintah, (‘amr) yaitu خُذْ (ambillah) yang mana hukumnya menjadi wajib untuk dilakukan.  

Dalam kenyataan, implementasi etika sosial profetik berupa memberdayakan masyarakat lemah dan dilemahkan itu tidaklah mudah. Bahkan kesulitan itu juga tercermin dalam perjalanan dakwah Muhammad SAW. Dalam Al quran (Al balad:13-16) nyata sekali dijabarkan kesukaran da’wah nabi. Kesukaran itu adalah “melepaskan budak dari perbudakan (13); atau memberi makan pada hari kelaparan (14); (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat (15); atau kepada orang miskin yang sangat fakir (16).

Pun demikian, agenda membumikan etika sosial profetik menjadi sangat mendesak, Karena terdapat seruan dakwah transformatif di situ. Bahkan wajib dilakukan karena dalam Al-Mâ‘ûn dinyatakan bahwa keimanan seorang muslim harus diuji sejauh mana ia memiliki kepedulian terhadap nasib orang miskin, dan yatim. Allah SWt (Al-Mâ‘ûn:1-3). “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

***

Akhirnya, semoga hari berbuka yang kita rayakan pada 24 mei 2020 ini memberi kesan mendalam bagi umat bahwa keberislaman kita telah benar-benar bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Keceriaan idul fitri menemukan ruang aktualisasinya dengan adanya sikap welas asih sebagai cerminan dari laku etika sosial profetik. Selamat idul fitri 1441 H. Semoga amal ibadah kita diterima Allah Swt. Aamiin


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Nugroho Notosusanto

Nugroho Notosusanto

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.