Berpikir Tanpa Menghamba kepada Syahwat

 Berpikir Tanpa Menghamba kepada Syahwat
Ilustrasi: Jojonomics            

Sudah menjadi fitrah manusia yang telah diamanahkan akal untuk selalu berpikir, bernalar, dan memunculkan ide-ide dan pemikirannya yang baru. Inilah yang membuat manusia berbeda dengan hewan sehingga mempunyai peran dan tugas yang berbeda pula. Semakin banyak kelebihan maka akan semakin banyak pula tuntutan yang harus dijalankan dalam rangka mempertanggung jawabkan amanah tersebut kepada Sang Pemberi Akal.

Definisi Akal

Menurut Imam Al-Ghazali (1111 M) akal dapat dimaknai dengan 4 hal. Pertama, akal adalah potensi yang membedakan manusia dengan hewan. Kedua, akal adalah pengetahuan yang dicerna seorang anak yang telah mendekati usia dewasa.

Ketiga, akal adalah pengetahuan yang berdasarkan pengalaman yang dilalui dan pada gilirannya memperhalus budinya. Sehingga orang yang berakal tentulah mempunyai budi pekerti yang halus. Sebaliknya, sesorang yang tidak halus budinya maka ia dikategorikan sebagai orang yang tidak berakal.

Keempat, akal adalah kekuatan insting yang menjadikan seseorang mengetahui dampak semua persoalan yang dihadapi, lalu ia mampu menekan hawa nafsunya serta mengatasinya agar tidak terbawa larut olehnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kehadiran akal pada hakikatnya adalah membawa manusia pada kehalusan budi. Sementara buah pemikirannya semata-mata untuk kepentingan ummat bukan berpikir dengan memperturutkan hawa nafsunya.

Berpikir dengan Akal bukan Syahwat

Seorang manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk senantiasa berpikir dalam segala aspek kehidupan. Bahkan, dalam perintah ibadah pun diperintahkan untuk mencari dan memikirkan manfaat dan latar belakang mengapa manusia diperintahkan untuk salat, puasa, berinfak dan sebagainya.

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya mengatakan bahwa berpikir adalah kewajiban agama. Tetapi dalam berpikir juga dituntut tiga hal yakni; kesungguhan, tanggung jawab dan manfaat. Hal itu agar manusia berpikir bebas namun tetap dalam batasan-batasan yang diridhoi-Nya. Tidak harus sarjana, profesor, dan para filsuf, semua manusia diperintahkan untuk senantiasa berpikir paling tidak tentang masalah-masalah kecil. Contohnya, mengapa harus salat?

Setiap muslim pasti tahu salat hukumnya adalah wajib. Namun banyak yang tidak tahu alasan mengapa Allah swt mewajibkannya dan apa manfaat yang diperoleh ketika mendirikan sholat sehingga kita tidak mampu khusyu’ dalam salat karena tidak tahu tujuan kita mendirikannya.

Bahkan walaupun pemikiran seseorang itu keliru, tetapi ia mempunyai kesungguhan dan tanggung jawan ia masih dapat ditoleransi. Sebuah analogi yang unik bahwa akal/pemikiran itu adalah “pisau bermata dua”. Ia bisa menjadi pelita yang menerangi kegelapan sekaligus menjadi meteor yang membakar dirinya sendiri.

Quraish Shihab juga menjelaskan walaupun terus diasah akal tetap dapat keliru. Sehingga dalam berpikir tidak boleh melibatkan emosi, pola tingkah laku yang dikendalikan oleh syahwat. Syahwat membuat akal bersifat subjektif. Ketika akal mengikuti syahwat maka hasil pemikiran seseorang akan sesuai dengan keinginnya bukan realitanya. Mereka akan berpikir sesuai dengan apa yang mereka mau dan butuhkan. Seperti para ilmuwan dan pakar yang akan mengeluarkan teori untuk kepentingan pribadinya.

Etika Berpikir

Para pakar-pakar Muslim telah memiliki kesepakatan dalam berpikir dan meneliti yakni : 1) hasil pemikiran atau penelitian harus mendatangkan manfaat; 2) mengutamakan kemaslahatan yang besar; 3) menampik kemudharatan lebih utama daripada mendatangkan kemaslahatan; 4) menghormati manusia yang hidup/wafat.

Masih menurut Quraish Shihab, etika ini ditetapkan tidak lain dan tidak bukan untuk menjadi pedoman bagi pemikir-pemikir muslim dalam mengembangkan konsep pemikirannya. Agar mereka tidak taklid terhadap pemikiran-pemikiran Barat yang sering kali dibenarkan dan diadopsi teorinya. Tentu itu bukan hal yang salah, tetapi faktor luar yang menimpa pemikiran sementara pemikir muslim adalah kekaguman yang berlebihan terhadap hasil pemikiran Barat sehingga menerima sepenuhnya hasil pemikiran mereka.

Pemikiran Barat cenderung menggunakan syahwat dalam konsep berpikirnya yang kini mempengaruhi dunia Timur. Sebagai contoh, produksi teknologi yang setiap abad terus berkembang. Setiap hari akan selalu ada produk-produk terbaru yang tidak akan pernah habis. Barang yang dibeli hari ini akan tidak bernilai lagi di esok hari sehingga mendorong syahwat material dan budaya konsumtif masyarakat. Ironisnya, masyarakat Timur hanya mengadopsi produknya untuk dikonsumsi bukan pemikirannya untuk terus produktif.

Pemikiran Barat ini juga hanya memberikan keuntungan besar bagi mereka saja, kemudharatannya lebih besar daripada kemaslahatannya. Inilah yang disebut sebagai syahwat dimana dorongan atau keinginan yang timbul dalam dirinya digunakan untuk meraih sesuatu yang menyenangkan dan menguntungkan diri.

Oleh sebab itu, sebagai seorang pemikir muslim tentulah kita tidak menjadikan syahwat sebagai Tuhan dalam berpikir (QS. Al- Furqan : 43) dan akibat mengikuti syahwat tersebut. Hingga seorang ilmuwan Prancis Descrates berjanji dengan kalimat “Saya tidak dapat mengerjakan proyek-proyek yang berguna bagi sebagian orang tetapi membahayakan orang lain”.

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Pheby Mawaddah Situmorang

Sekbid IMMawati PK IMM Prof.Dr. Hamka Cabang Medan Aktivis Nasiyatul Aisyiyah Tapanuli Selatan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.