Fikih

Karena Muslimah itu Berhijab!

4 Mins read

Nama saya Dwi Nur Adella. Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Tafsir Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah Sendang Agung Paciran Lamongan (STIQSI).

Di artikel saat ini, saya akan bahas perihal “berhijab”. Banyak sekali macam-macam hijab seperti jilbab, burqa, kerudung, niqab dan lain sebagainya, dan tentunya hal tersebut tidaklah asing lagi bagi kaum muslimah.

Kaum muslim dan muslimah memang diharuskan dan diwajibkan menutup aurat, sebagaimana yang tercantum dalam surah An-Nur pada ayat 31 yang di dalamnya mengandung perintah untuk menutup aurat yang hukumnya adalah wajib yang berlaku untuk kaum pria maupun wanita.

Menutup Aurat

Menutup aurat adalah salah satu kewajiban bagi kaum muslim, terutama bagi kaum hawa. Banyak dari kita yang memiliki berbagai macam alasan dan mencari-cari celah agar dapat menghindar dalam menjalankan kewajiban yang satu ini. Mulai dari belum siap, akhlak yang belum benar, bahkan melakukannya nanti ketika sudah menikah.

Menutup aurat tidaklah harus menunggu siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, benar atau tidak benar, menutup aurat itu kewajiban. Jadi, singkirkanlah berbagai macam alasan itu.
Mengenai akhlak yang belum benar, biarlah itu menjadi urusan kita dengan Allah, setidak nya kita sudah berusaha menutup satu pintu dosa.

Yakinlah dengan kita ada usaha untuk menutup aurat, akhlak kita akan lebih baik dari sebelumnya, rasa itu akan muncul dengan sendirinya, karena Allah lah yang mengatur hatimu. Wanita yang menutup aurat bukanlah dia yang terlepas dari salah, bukanlah dia yang luput dari dosa, bukan pula dia yang sempurna, hanya saja yang mau menutup aurat artinya dia sadar bahwa dirinya berharga tak sembarangan orang boleh melihat apa yang seharusnya tidak dilihat.

Baca Juga  Maraknya Pinjol dan Otokritik Berderma Muslim

Allah dan nabi memuliakan seorang wanita, hingga Allah mengistimewakan wanita yang tertulis secara khusus di dalam Al-Qur’an yaitu surat An-Nisa. Lantas mengapa kita harus merendahkan diri kita sendiri? Allah sudah menciptakan berbagai macam perhiasan yang indah di dunia dan seindah-indah nya perhiasan dunia adalah seorang muslimah yang mau menutup auratnya.

Bagi kaum pria memang lebih diberikan keleluasaan terhadap aurat yang perlu ditutupi dibandingkan dengan kaum wanita di mana yang termasuk aurat hampir seluruh dari anggota tubuhnya kecuali bagian wajah dan telapak tangan.

Berhijab Sebagai Suatu Keharusan

Berbicara soal menutup aurat atau berhijabnya seorang wanita muslimah, bisa dikatakan menjadi suatu tantangan tersendiri. Sebagian dari mereka yang belum berkenan untuk menutup auratnya, memiliki beberapa alasan tersendiri. Misalnya, “tidak berjilbab tidak apa-apa yang penting hatinya berhijab”. Dalam penafsiran mereka, menganggap bahwa memiliki perilaku dan hati yang baik lebih penting daripada menutup aurat. Padahal pemikiran tersebut secara jelas salah artian.

Karena apa? Dikarenakan menutup aurat merupakan suatu keharusan dan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk semua umatNya. Dan sebagai umatNya, maka wajib hukumnya untuk melaksanakan. Dalam konteks ini, maka prinsip menutup aurat itu ialah salah satu bentuk dari ketaatan sebagai manusia kepada perintah Allah SWT.

Saya sering menemukan quote bahwa “hidayah itu dicari, bukan ditunggu”. Iya, menurut saya memang benar. Karena untuk memperbaiki diri harus didasari dengan niat dan usaha terlebih dahulu. Memohon dan berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar diturunkan hidayah oleh Allah untuk diri kita ini.

Diibaratkan seperti halnya jika kita memiliki sebuah kendaraan dan dapat mengemudikan kendaraan tersebut dengan baik. Akan tetapi sebagai pengemudi yang baik, kita tahu dimana diwajibkan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagai syarat sah untuk dapat mengemudikan kendaraan tersebut.

Baca Juga  Apakah Haram Orang Muslim Masuk Gereja?

Maka sepandai apapun kita mengemudikan kendaraan akan tetapi tidak memiliki SIM, maka akan dinilai telah melanggar dan tidak taat dengan peraturan lalu lintas yang berlaku dan telah ditetapkan.

Sampai di sini, sudah masuk akal bukan? Kita harus membuat dan memiliki SIM terlebih dahulu sesuai jenis kendaraan, barulah kita diperbolehkan mengemudi kendaraan tersebut.
Sama halnya dengan menutup aurat, sebaik apapun diri kita baik kaum pria maupun wanita akan tetapi mereka masih mengumbar auratnya berarti menunjukkan bahwa kita bukanlah umat yang taat kepadaNya.

Ganjaran Bagi yang Tak Menutup Aurat

Untuk sebagian orang mungkin saja menganggap menutup aurat itu adalah suatu urusan yang sepele. Pada nyatanya tidak, konsekuensi bagi kaum muslimah yang mengumbar aurat sangatlah besar.

Sebagai gambaran bagi kaum muslimah yang tidak menutup auratnya, maka setiap kali ia memperlihatkan auratnya kepada yang bukan mahramnya, maka ia telah melakukan satu perbuatan dosa. Seandainya saja banyaknya dosa perbuatan kita bisa dihitung oleh manusia, tentu kita tidak bisa membayangkan berapa banyak dosa yang diemban baik sengaja maupun tidak disengaja selama bertahun-tahun mengumbar aurat.

Bisa juga diibaratkan jika satu perbuatan dosa yang kita lakukan ditandai dengan munculnya 1 jerawat yang tumbuh di kulit wajah kita, bayangkan saja jika kita selalu melakukan perbuatan dosa dan hasilnya ditandai dengan tumbuhnya jerawat diwajah bagaimana hancurnya wajah kita?.

Berhijab Bukanlah Kekangan

Menutup aurat itu bukan sekedar hanya dengan “tertutup” akan tetapi bagaimana menutup aurat yang sebenarnya dalam syariat Islam. Menutup aurat bagi muslimah bukanlah suatu kekangan. Dengan menutup aurat tidak akan melunturkan kecantikan yang dimiliki oleh wanita, karena cantiknya seorang wanita bukan dilihat dari wajahnya dan bagaimana postur tubunya tapi dilihat dari bagaimana cantik yang terpancar dari akhlak mereka. Muslimah yang mau menutup aurat salah satunya dengan berhijab bukan berarti malaikat, namun ia berusaha taat kepada Allah SWT karena berhijab adalah kewajiban bukanlah pilihan.

Baca Juga  Tidak Salat Jumat Lebih Utama untuk Menghidari Corona

Ketika kita masih awal-awal dan masih canggung dalam menutup aurat, salah satunya berhijab. Mungkin akan banyak orang-orang disekitar kita mengusik dengan jalan hijrah yang kita ambil, dan itu akan membuat ada sedikit kegoyahan dengan keputusan yang kita ambil.

Misalnya seperti ini:
“Pake jilbab tapi kok suaranya besar”
“Pake jilbab tapi kok suka ngomong kasar”
“Pake jilbab tapi kok suka pacaran”
“Pake jilbab kok suka selfi”
“Pake jilbab kok suka bla bla bla bla”

Setiap kali kita melangkah ke jalan yang benar selalu saja ada komentar yang mengaitkan perilaku kita dengan pakaian, padahal jilbab seseorang muslimah adalah identitasnya sebagai seorang muslimah.

Ingat yah!!

Hijab panjang bukan berarti panjang juga keimanan seseorang. Dan hijab panjang bukan berarti seperti ibu-ibu tapi berhijab adalah kewajiban. Jika ada kesalahan dalam dirinya maka salahkan sifatnya, salahkan perilakunya. Jangan salahkan apa yang dia pakai. Karena menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslimah.

Dari sini, lantas apalagi yang menghadang diri kita sebagai seorang muslimah untuk tidak berhijab? Sedikit artikel ini semoga bermanfaat, artikel ini ditulis tidak ada maksud untuk menggurui ataupun memaksa.

Editor: Yahya FR
Print Friendly, PDF & Email
5 posts

About author
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Sendangagung Paciran Lamongan
Articles
Related posts
Fikih

Bermazhab Tak Berarti Anti Modernitas!

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sebagaimana diketahui, sebagai gerakan dakwah Islam Muhammadiyah tidak mengikat diri pada mazhab tertentu. Baik secara fikih maupun…
Fikih

Tak Perlu Jadi Mujtahid untuk Mempraktikkan Ilmu Ushul Fiqih

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Beberapa waktu kemarin, saya berkesempatan ngobrol dengan salah seorang dosen Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)…
Fikih

Fenomena Marital Rape: Bagaimana Membangun Relasi Etis dalam Penikahan?

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Marital Rape | Dalam Islam, pernikahan selayaknya mendatangkan kebahagiaan dan kemaslahatan bagi kedua belah pihak. Pernikahan sendiri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *