Inspiring

Karya Anak Bangsa: Penemuan Vent-I untuk Pasien Covid-19

4 Mins read

Jagat sosial media di Indonesia digemparkan dengan viralnya karya anak bangsa yang sangat membantu dunia kesehatan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19. Karya itu adalah penemuan alat sederhana berupa Vent-I untuk membantu pernafasan bagi pasien yang terkena virus Covid-19. Berita ini pun langsung ditulis Dahlan Iskan, sampai tulisannya tentang penemuan alat ini viral dan tersebar di grup whatshap.

Karya Anak Bangsa

Vent-I ini menjadi karya nyata anak bangsa di tengah darurat krisis alat medis. Alat ini dirakit oleh Dosen STEI ITB yang juga merupakan Pembina YPM SALMAN ITB, yaitu Pak Dr H Ir Syarif Hidayat bersama timnya. Saat diwawancarai oleh beberapa media terkait dengan hal tersebut, beliau menjelaskan bahwa “ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya kepada tenaga medis yang tidak mampu melawan Corono dengan senjata yang memadai. Adapun tujuannya bukanlah untuk menghasilkan teknologi canggih, yang hanya bisa diproduksi sedikit. Akan tetapi, tujuan kami adalah secara efektif membuat alat yang dapat diproduksi secara massal dan dapat dipergunakan secara massal. Artinya secara sengaja kami memilih teknologi yang sederhana.”

Sebagaimana yang diberitakan dalam akun IG @salmanitb pada Kamis 23 April 2020, alat ini sekarang sudah mendapat sertifikasi “lulus” uji untuk semua kriteria sesuai standar SNI IEC 60601-1:204. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, ventilator portabel CPAP, Vent-I dinyatakan sudah layak digunakan pada Jumat 24 April lalu.

Lebih lanjut, Vent-I akan diproduksi sekitar 300-500 sesuai dengan jumlah donasi yang masuk ke Rumah Amal Salman. Sampai sekarang dalam setiap agenda BMKA SALMAN ITB, masih terus melakukan penggalangan dana untuk memproduksi Vent-I lebih banyak lagi. Tujuannya agar nanti bisa dikirim secara gratis ke Rumah Sakit di seluruh Indonesia.

Baca Juga  Hasyim Muzadi: Pembela Hukum Allah, Non-Syariatisasi

Bapak Ridwan Kamil selaku Gubernur Jawa Barat pun tidak tinggal diam. Beliau menyambut hangat dan dan langsung bertemu tim Vent-I PT. Dirgantra Indonesia (PTDI) untuk melihat produksi Vent-I yang akan diproduksi secara industri oleh PTDI.

Syarif Hidayat

Melihat prestasi Pak Syarif ini, saya tidaklah terlalu kaget, karena pantaslah beliau bisa seperti itu lantaran berani bermimpi dan memiliki etos kerja yang tinggi. Terlebih, beliau menempatkan kepercayaan dirinya yang tinggi sebagai Muslim. Karakter Muslim sejati itulah yang beliau contohkan sejak saya mengenalnya sekitar satu tahun yang lalu.

Tetapi jujur, saya cukup tersentuh dengan stetemen  beliau yang mengatakan bahwa “Ini memang saatnya lockdown, tetapi saya lebih memilih mati dalam keadaan berdiri daripada mati dalam keadaan memeluk lutut.” Dari sanalah terlihat cerminan kekuatan tauhid yang sudah menjadi tradisi di Salman ITB.

Sejak tahun 1974 sosok Bang Imaduddin menanamkan benih kekuatan karakter dengan konsep Tauhidnya. Melalui pelatihan kepemimpinan berbasis Tauhid bernama Latihan Mujtahid Dakwah (LMD) yang sampai sekarang sudah angkatan ke-202. Dan pak Syarif sendiri turut menjadi pemateri dalam pelatihan tersebut.

Islam Rahmatan Lil Alamin

Setiap orang yang belajar Islam dengan benar, baik secara ilmu ataupun berupa wawasan keislaman, tentu membuatnya untuk turut memperjuangkan cita-cita Islam sebagai agama rahmatallilalamin. Seperti halnya dengan kawan-kawan di Gontor, yang akhir-akhir ini marak mensosialisasikan Islamisasi ilmu pengetahuan, aktif melakukan kajian via online maupun offline, gagasan yang berlandaskan dengan menjadikan Islam sebagai worldview.

Akan tetapi, dalam hal ini saya tidak akan membahas banyak perihal itu. Sebab, terlepas dari pro-kontra dengan gagasan tersebut, namun sangat layak untuk dipelajari, pun juga sebagai penambah khazanah ilmu pengetahuan di masa kontemporer dan yang lebih penting lagi adalah menjadi penangkal kerasnya arus sekularisasi, terutama bagi saya generasi milenial yang lahir saban hari.

Baca Juga  Sudahkah Kita Mengamalkan Al-Ma’un di Tengah Pandemi Covid-19?

Setelah belajar ajaran (silmi) Islam lebih dekat, saya sendiri punya cita-cita tinggi tentang Islam, yaitu cita-cita peradaban islam yang rahamatallilalamin, dan spirit itu salah satunya  saya  temukan melalui Latihan Mujtahid Dakwah (LMD) SALMAN ITB. Terlebih ketika sudah memahami bahwa Islam adalah agama yang syumul dan mutakammil (menyeluruh dan sempurna).

Saya menjadi semakin semangat untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sebagaimana juga nasihat dari Ust. Anton Ismunanto (Intelektual Muda Muhammadiyah) kala kami mengundang beliau beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah kajian tentang Intelektual Muslim. Di akhir kajian tersebut, beliau menyelipkan nasihat berupa: “tiga syarat untuk menjadi muslim sejati.” Pertama, seorang muslim harus memahami Islam dan mencintainya. Kedua, adanya kebanggaan sebagai muslim. Ketiga, keberpihakan kepada Islam.

Ketiga syarat inilah yang saya temukan dalam sosok Pak Dr H Ir Syarif Hidayat, sejak saya kenal beliau, sekitar satu tahun yang lalu, melalui acara LMD SALMAN ITB. Saya langsung tergugah dan bangga melihat sosok bapak-bapak yang sudah luamayan tua tetapi semangat dam jiwanya masih muda sekali. Bagaimana tidak? Kami peserta LMD waktu itu, bukan hanya menerima materi di tengah hutan belantara Tangkuban Perahu, tetapi juga ditantang oleh beliau untuk berkontribusi besar pada ummat dan bangsa.

Ketulusan Melayani

Dalam acara LMD tersebut, beliau menyampaikan materi tentang karakter Nabi Muhammad SAW, di samping kaya dan dermawan, beliau umpamakan seperti karakter seorang ibu yang tulus melayani anaknya. Begitu dengan sang Nabi Agung Muhammad SAW yang tulus melayani ummatnya, sampai dipenghujung usianya pun masih sempat menyebut, “ummati, ummati, ummati,” saking cintanya kepada ummatnya.

Ketulusan melayani inilah yang juga dicontohkan beliau kepada kami, selalu semangat, lemah-lembut, tetapi tegas dan percaya diri sebagai muslim tercermin dalam setiap penjelasan beliau.

Baca Juga  Siti Walidah, Pionir Keberaksaraan Perempuan Berkemajuan

Salah satu cita-cita mulianya ialah, mendirikan Rumah Sakit Islam di berbagai kota di Indonesia. “Sebab, Indonesia ini memiliki Masjid terbanyak, tetapi rumah sakit sedikit. Apa sesama muslim bakalan tega untuk melihat saudara muslimnya sakratul maut di RS non muslim,” begitulah ungkapan beliau dengan tegas.

Sosok Mujahid dan Mujtahid

Sejak tahun 2019 lalu, Pak Syarif dikenal bukan hanya sebagai Pembina YPM Salman ITB ataupun sekedar Dosen STEI ITB. Akan tetapi, juga sebagai Ahli Petir Indonesia dan Pencetus Kabel Laut.  Pria yang meraih gelar Doktor dari University Of Tokyo ini, selalu tampil sebagai muslim yang bermentalitas tinggi untuk memperkenalkan ide dan gagasannya. Maka tak heran beliau terus mampu berinovasi dalam situasi dan kondisi seperti sekarang.

Beliau juga pernah bercerita saat mengisi materi LMD, perihal kebiasaanya yang jarang sekali tidur cepat di malam hari, sembari menunjukkan mata pandanya. Sebab, di saat malam hari itulah, beliau banyak menulis ide dan gagasan sesuai bidang keahliannya. Sampai tidak jarang juga guru besar luar negeri datang ke Indonesia, lantaran ingin mendengarkan gagasan cemerlangnya.

Bagi saya, inilah sosok Mujahid plus Mujtahid, yang menginpirasi dengan keteladanannya sebagai Muslim dalam berkontribusi untuk Indonesia.

Editor: Arif

Print Friendly, PDF & Email
4 posts

About author
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam 2017, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. Kader kultural NU, yang memilih untuk BerKAMMI. Sering mengikuti kajian di Muhammadiyah dan juga aktif mengisi khutbah jum'at di beberapa Masjid Muhammadiyah. Aktif sebagai pegiat Literasi "New Native", Founder @cendekia_muda.id :Komunitas Intelektual Aktivis Mahasiswa SeIndonesia. Wadah Mengkaji lebih dalam gagasan "Ilmu Sosial Profetik" Prof Kuntowijoyo.
Articles
Related posts
Inspiring

Merawat Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Awal tahun 1970-an ditandai dengan babak pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. Kemunculan intelektual publik seperti almarhum…
Inspiring

Candra Sihotang, Guru Madrasah Berprestasi yang Pernah Jadi Buruh

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Jika Presiden Indonesia, Joko Widodo punya tagline “Kerja, Kerja, Kerja”, tampaknya slogan “Berjuang, Berusaha, Berprestasi” cocok disematkan kepada Candra…
Inspiring

Maftuhah Mustiqowati, Guru Madrasah Pelopor Peduli Lingkungan

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Seringkali orang akan acuh ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan, penghijauan bumi, serta upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *