Kesadaran Ekologis untuk Menyudahi Banjir dan Krisis Air

 Kesadaran Ekologis untuk Menyudahi Banjir dan Krisis Air

Sumber: IBTimes/Galih Qoobid Mulqi

Oleh: Al Bawi*

Indonesia pada awal tahun 2020 dihebohkan dengan bencana ekologis yang melanda beberapa wilayah di Indonesia. Tepat pada pembuka tahun, daerah Jabodetabek dan sekitarnya hingga Selasa (7/1/2020) masih mengalami bencana banjir dan longsor. BNPB menyebutkan ada 169 titik banjir yang melanda wilayah Jabodetabek. Terdiri dari 97 titik di Jawa Barat, 63 titik di DKI Jakarta, dan 9 titik banjir di wilayah Banten dengan kisaran kedalaman mulai dari 1-2,5 meter.

Banjir dan Kekeringan

Banjir di wilayah Jabodetabek menjadi sorotan publik selama sepekan ini memunculkan silang pendapat dan perbincangan hangat. Mulai dari tata kelola kebijakan para pemangku pemerintah yang belum maksimal mengenai pengembangan untuk mengantisipasi banjir hingga kepada kebiasaan (habitus) masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan, hal ini menjadi berdapak kepada penyumbatan lalu lintas air.

Karena pada hakekatnya air akan kembali ke laut dan dia akan mencari tempat rendah untuk mengalir dengan berbagai macam cara. Mulai dari masuk ke rumah warga dan menghancurkan struktur bangunan yang ada agar dia (air) bisa lewat ke daratan yang lebih rendah.

Tidak hanya itu saja, tetapi di wilayah Jabodetabek ditumbuhi bangunan kokoh yang berbentuk beton bukan ditumbuhi pepohonan. menurut Emil Salim Bahwa hutan (pepohonan) mempunyai kemapuan mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah. Melalui kesuburan tanah ini air yang turun dari langit akan menyerap dan bisa tertampung dengan baik di kedalaman tanah. Sehingga air yang turun bisa dimanfaatkan untuk kemudian hari untuk di kelola oleh semua makhluk hidup.

Setelah mendengar kisah banjir yang menimpa wilayah Jabodetabek ini ada bencana ekologis yang tidak banyak dibicarakan di ruang publik yaitu kekeringan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dilansir dari Detik News (7/1/2020) ada 41 Dukuh, 27 Desa di 10 Kecamatan dengan jumlah penduduk 10.844 jiwa di Kulonprogo mengalami bencana kekeringan.

Baca Juga  Compatibility between Islam and Democracy (2): Political System and Civil Society Point of View

Kedua bencana ekologis yang terjadi dalam satu pulau, yaitu Pulau Jawa menjadi ironi berkepanjangan bagaimana iklim sudah tidak stabil dalam tataran semesta. Melalui dua bencana ekologis ini dapat kita pahami bersama adalah bersumber kepada air. Karena dengan adanya air yang tidak tertampung, Jabodetabek dan sekitarnya mengalami banjir. Sedangkan ketidakkesediaan air mengakibatkan 10.844 jiwa di Kulonprogo mengalami kekeringan.

Membangun Kesadaran Ekologis

Dalam studi teknik Geologi yang terbukti empirik bahwa sumur-sumur dengan galian lebih dari 100 meter dialami oleh Indonesia. Bahwa ada sifat keserakahan manusia (antroposentris) hadir untuk menghalangi kinerja air secara hakekat. Menurut hemat saya, hal ini bukan sepenuhnya disalahkan air itu sendiri, tetapi manusia yang dibekali akal dan pikiran (ulul albab).

Melalui pengelolaan sungai perlu kiranya memperhitungkan daya dukung lingkungan dan jenis tanaman yang sesusai kemampuan tanah untuk menyerap air. Hal ini pula mengapa pohon mempunyai akar yang dalam sehingga ada daya tampung air melalui prinsip pokok menahan laju aliran air untuk penyerapan air semaksimal mungkin.

Dalam jihad konstitusinya Muhammadiyah berpandangan bahwa air merupakan kekayaan utama dan mengeuasai hidup hajat orang banyak. Sehingga dalam pengelolaanya seharusnya di kembalikan kepada Negara bukan kepada kuasa perusahaan. Apabila tata kelola air masih dikelola oleh pihak swasta maka Indonesia belum termasuk negara yang berdaulat.

Penumbuhan kesadaran ekologis melalui jejak individu maupun kelompok merupakan pekerjaan rumah yang panjang untuk dikerjakan. Dengan hadirnya pemanfaatan dan pengelolaan air yang efektif serta efesien sehingga menjadi komparatif untuk di kelola secara swadaya masyarakat atapun pihak berwajib melalui pemangku kebijakan, yaitu pemerintah. Pemerintah harus terjun langsung menangani permasalahan ini sehingga kedua bencana ekologis yang terjadi hari ini, yaitu banjir dan kekeringan, bisa terselesaikan.

Baca Juga  Ilmu Falak dan Intelektual Islam

Gerakan Kecil dan Besar

Menumbuhkan kesadaran ekologis merupakan kunci utama bagi seluruh manusia, karena seluruh manusia wajib bertangung jawab untuk menjaga ekosistem yang ada. Bagaimanapun manusia adalah wakil dari Allah di muka bumi (khalifah fi al-ardh) yang bertanggungjawab atas kelangsungan kehidupan. Sehingga keberlanjutan lingkungan hidup bisa tetap terlaksana dengan baik, terutama menyudahi kasus banjir dan krisis air untuk seluruh warga Indonesia.

Harus ada rencana mitigasi membangun perbaikan iklim supaya tidak terjadi krisis iklim yang berkepanjangan. Bahkan COP25 di Madrid belum bisa mengendalikan negara-negara maju untuk menurunkan emisi karbon yang berdampak pada lingkungan dan menimbulkan efek rumah kaca. Bahkan keberlanjutan krisis iklim ini akan berdampak kembali kepada fase tidak stabil yang dialami manusia di muka bumi. Melalui regulasi yang tepat, tata kelola dan pemanfaatan air perlu dipertimbangkan dengan baik sehingga terbentuk kesadaran ekologis.

Sudah saatnya setiap manusia di muka bumi mulai melakukan gerakan kecil untuk turut hadir menjaga ekosistem. Juga gerakan besar untuk melawan bahaya krisis iklim yang berdampak kepada banjir yang dan kekeringan air. Hal ini pula menjadi refleksi diri bahwasanya alam mempunyai jalanya sendiri, alam mempunyai hakekatnya sendiri.

Manusialah yang hadir dengan tangan serakahnya. Dengan segala apapun yang dilakukanya untuk merusak lingkungan.

*) Pimpinan Pusat IPM dan Kader Hijau Muhammadiyah Yogyakarta

Editor: Nabhan Mudrik Alyaum

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *