Tarikh

Kesultanan Malaka: Awal Peradaban Islam di Malaya

3 Mins read

Kesultanan Malaka | Penyebaran agama Islam di Malaka terjadi pada tahun 1414 Masehi, ketika Sultan Malaka pertama (bernama Parameswara) masuk Islam setelah menikahi Putri Sultan Pasai.

Parameswara mengubah namanya menjadi Iskandar Syah. Kesultanan Malaka menjadi maju ketika Sultan Mansur Syah memerintah. Karena, Kesultanan Malaka waktu itu menjadi pusat pemerintahan kerajaan Melayu yang terbesar di Asia Tenggara sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam pada masa itu (Ahmad, 1987, hal. 513).

Kemunculan Kesultanan Malaka di Asia Tenggara mendapat dorongan baru dalam Islamisasi. Kesultanan Malaka menguasai beberapa kerajaan yang telah masuk Islam seperti Aru, Pedir, dan Lambri.

Daerah-daerah baru di Sumatera yang kemudian masuk dalam kekuasaan Malaka seperti Kampar, Indra Giri, Siak, Jambi, Bengkalis, Riau, dan Lingga juga telah masuk Islam. Untuk Semenanjung Malaya, seperti Pahang, Pattani, Kedah, Johor, serta daerah lain yang mengakui kekuasaan Malaka dan menerima Islam (Rahmawati, 2014, hal. 110).

Kehadiran Kesultanan Malaka di Semenanjung Melayu merupakan penguasa baru di Alam Melayu setelah keruntuhan Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Pada asasnya, Kesultanan Malaka merupakan sambungan dari Kerajaan Sriwijaya berpusat di Palembang yang runtuh pada akhir abad ke-14. Karena, Sultan Iskandar Syah (Parameswara) adalah raja terakhir memerintah di Palembang (Kerajaan Sriwijaya) sebelum dia diusir tentera Kerajaan Majapahit (Ibrahim, 2005, hal. 73)

Bidang Politik dan Ekonomi

Pada tahun 1459 M, Sultan Muzzafar Syah mangkat dari jabatan sultan di Kesultanan Malaka dan digantikan oleh Sultan Mansur Syah (1459-1477). Jabatan pemerintahan Mansyur Syah dianggap hanya sebatas formalitas saja, karena pada hakikatnya, Tun Perak (Bendahara Kesultanan) berkuasa penuh dalam pemerintahan dibantu oleh Laksamana Hang Tuah.

Baca Juga  Gejolak Politik Rasial Pasca Kemerdekaan Malaysia

Pada saat ini, Kesultanan Melaka berhasil merampas Pahang dan Terengganu dari Kerajaan Siam (Thailand sekarang). Setelah itu, Kesultanan Malaka berhasil menguasai wilayah Johor, Bengkalis, Bentan, Muar, dan Kepulauan Karimun pada tahun 1477 Masehi negeri-negeri tersebut menjadi bagian kekuasaan Kesultanan Malaka.

Puncak kemajuan Kesultanan ini, saat Sultan Mansyur Syah mangkat pada 1477 M, Tun Perak (Bendahara Kesultanan) masih tetap mengendalikan hal-hal penting negara dan dilantik menjadi sultan bergelar Sultan Alauddin (1477-1488 M).

Kesultanan Malaka menjadi maju dalam perdagangan karena Kesultanan Malaka sebagai kota pelabuhan ramai dikunjungi banyak pedagang sebagai pusat transit perdagangan di wilayah Asia Tenggara.

***

Kota pelabuhan Malaka memberikan kesempatan kepada para pedagang asing untuk membuka perwakilan dagang mereka masing-masing di Kota Malaka. Selain menjalankan dagang untuk memperoleh keuntungan, pihak asing juga bisa mengenal dari dekat cara hidup masyarakat Islam di Malaka.

Kesultanan Malaka pada saat itu juga sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah lain di Nusantara (Ahmad, 1987, hal. 522-523).

Pelabuhan Malaka berfungsi sebagai pusat transaksi antar kompeni datang dari lingkunan lokal hingga internasional, baik dari wilayah Aceh, Filipina, Maluku, Jawa, Cina, hingga berasal dari daratan Eropa.

Para pedangang dan kompeni saling melakukan transaksi berupa barang-barang bawaan mereka, seperti halnya porselin dari Cina. Sedangkan, dari saudagar Nusantara menjual rempah-rempah kepada para pedagang luar negeri yang berkunjung ke pelabuhan Malaka.

Pelabuhan Malaka memberikan dampak positif bagi pemasukan bea dan upeti terhadap perbendaharaan keuangan Kesultanan Malaka hingga menjadikan kesultanan menjadi makmur dan mampu mensejahterakan rakyatnya.

Bidang Agama dan Ilmu Pengetahuan

Kedudukan Kesultanan Malaka terus bertambah maju dan dianggap penting oleh semua pihak. Ramai tokoh Islam luar negeri datang ke Malaka, seperti orang Malabar, Hindustan, Afghanistan, dan lain-lain.

Baca Juga  Mengenal Historiografi Islam Modern

Kedatangan mereka menyebabkan Malaka pada waktu itu dianggap sebagai tempat perjumpaan ulama Islam bagi membincangkan masalah-masalah agama, khususnya dalam bidang aqidah, tasawuf, dan fiqih.

Kedatangan Islam telah memunculkan sistem pendidikan yang baru kepada masyarakat Melayu. Pendidikan ini bukan saja ditumpukan kepada golongan istana, tetapi kepada orang awam.

Hasil penulisan di zaman Islam tidak dihasilkan semata-mata kepada kepentingan pihak elit birokrat dan golongan bangsawan, akan tetapi dituliskan untuk bacaan orang Islam.

Satu sistem pendidikan paling masyhur ialah sekolah Al-Qur’an yang mempelajari aspek-aspek bacaan tajwid, tafsir, dan menghafalkannya. Sekolah Al-Qur’an juga meliputi perkara-perkara seperti fikih, tauhid, akhlak, bahasa Arab.

Pada abad ke-15, kajian Islam di Malaka telah mengalami peningkatan ke level tinggi, bahkan sudah jauh lebih maju. Kedudukan istimewa telah diberikan kepada para guru dan ulama di Malaka.

Kitab sejarah Melayu ada meriwayatkan tentang Kitab Darul Maziun (hadiah dari ulama Hadhramaut), disambut oleh Sultan Mansyur Syah dengan segala kebesaran dan di arak mengelilingi Kota Melaka, kemudian dikirim ke Pasai untuk di terjemahkan ke dalam bahasa Melayu.

Selain itu, kitab-kitab kesusastraan Islam telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu, seperti Hikayat Muhammad al-Hanafiah dan Hikayat Amir Hamzah. Menurut sejarah Melayu,  hikayat-hikayat ini dibacakan untuk menaikkan semangat prajurit-prajurit Melayu melawan para musuh mereka.

***

Bukti kekuatan pengaruh Islam dalam pemerintahan kesultanan Melayu pada masa itu dapat dilihat dalam Kitab Hukum Qanun Kesultanan Malaka. Walaupun pada akhirnya, Kesultanan ini mampu dikalahkan oleh Portugis, tetapi pemerintahan Islam itu telah berpindah ke wilayah Kesultanan Johor yang muncul sebagai sebuah kesultanan berusaha mengembangkan agama Islam (Ahmad, 1987, hal. 533).

Dengan demikian, peran Kesultanan Malaka terhadap bumi Semenanjung Malaya sangat luar biasa untuk memajukan daerah tersebut. Kesultanan Malaka mampu memberikan kontribusi aktif dan memberikan progresifitas dalam berbagai bidang kehidupan terutama bidang politik-ekonomi dan bidang ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Beda Penanganan COVID-19, antara Malaysia dan Indonesia

Semua i’tikad baik yang dicanangkan dan dilaksanakan oleh para pemangku jabatan kesultanan telah menjadikan Semenanjung Melayu menjadi terkenal hingga penjuru internasional dan menjadi pusat perdagangan di ranah Asia Tenggara pada abad klasik Nusantara.

Referensi:

Ahmad, D, Ikhtisar Perkembangan Islam. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, (1987).

 M. Y. Ibrahim, Penguasaan dan Pengukuhan Melayu Melaka. In Prosiding Seminar Antarbangsa Kesultanan Melayu Nusantara. Kuala Lumpur: Lembaga Muzium Negeri Pahang dan Inst. Alam & Tamadun Melayu, 2005.

Rahmawati, “Sejarah di Asia Tenggara”, Jurnal Rihlah, (Makassar: UIN Sultan Alauddin Makassar, 2014.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
15 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Articles
Related posts
Tarikh

Kisah Junaid Al-Baghdadi Berguru kepada Orang Gila

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Nalar dalam dunia sufi, seringkali bertolak belakang dengan kesadaran kaum awam. Namun, ketidaklaziman tersebut bisa dipetik hikmah…
Tarikh

Ketika Kata Jihad "Disalahgunakan" Saat Perang Dunia 1

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sejak Islam berkembang dan muncul sebagai agama yang membawa peradaban. Istilah jihad telah begitu fenomenal di seluruh…
Tarikh

Islamisasi dan Kolonialisasi Perancis di Republik Afrika Tengah

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Republik Afrika Tengah merupakan negara lebih kecil dari Texas (Amerika Serikat) dan berada di tengah benua Afrika…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *