Ketika Pak AR Menasehati Pak Harto

0
9835
Ketika Ketum PP Muhammadiyah Pak AR Menasehati Pak Harto
Ilustrasi. Sumber: IBTimes

Oleh: Sam Elqudsy

Membaca tulisan di muhammadiyahgl.com berjudul Cara Ketum Muhammadiyah Menasehati Presiden Soekarno, saya tergelitik untuk menelusuri lebih jauh tentang hubungan Ketum Muhammadiyah dengan Presiden pada periode kepemimpinan masing-masing. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah relasi antara Presiden Soeharto dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah, KH Abdul Rozaq Fachruddin yang biasa disapa Pak AR. Tulisan ini membahas ketika Ketum PP Muhammadiyah menasehati Pak Harto.

Abdul Rozaq Fachruddin adalah putra pasangan KH Fachruddin dan Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman. Lahir di Pakualaman Yogyakarta pada 14 Februari 1916. Pak AR adalah seorang kader Muhammadiyah lahir-batin. Beliau dididik dan dibesarkan di sekolah Muhammadiyah kemudian mengabdi di Muhammadiyah, baik sebagai guru, muballigh maupun pimpinan.

Sepanjang kariernya sebagai guru, Pak AR telah mengajar di lebih dari sepuluh sekolah Muhammadiyah. Menjadi muballigh favorit sejak berusia muda, ketua Pemuda Muhammadiyah, Pandu Hizbul Wathan, ketua ranting, ketua cabang, ketua wilayah hingga akhirnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Ketua PP Muhammadiyah Terlama

Dalam Muktamar Muhammadiyah ke 38 tahun 1968 di Yogyakarta, Pak AR memperoleh suara terbanyak. Namun beliau tidak bersedia ditunjuk sebagai ketua hingga akhirnya terpilih KH Fakih Usman. Kepemimpinan KH Fakih Usman hanya berlangsung sepekan, karena beliau meninggal dunia. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, KH AR Fachruddin ditunjuk menggantikan KH Fakih Usman. Terciptalah sejarah di Muhammadiyah, Ketua tersingkat digantikan Ketua terlama.

Sebagai Ketua PP Muhammadiyah (sekarang istilah tersebut telah diganti dengan disebut Ketua Umum), Pak AR menjabat lebih lama daripada pendiri Muhammadiyah sendiri. KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah “hanya” selama 11 tahun dari tahun 1912-1923, sementara Pak AR memimpin Muhammadiyah selama 22 tahun, sejak tahun 1968 hingga 1990.

Baca Juga  Ali Syariati Dibenci Siapapun Tapi Dicintai Rakyat

Predikat Pak AR sebagai ketua terlama sepanjang sejarah Muhammadiyah tampaknya akan bertahan sepanjang masa, dengan catatan tidak ada perubahan AD/ ART Muhammadiyah. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah (yang terbaru) pasal 17 ayat 2 disebutkan bahwa jabatan Ketua Umum Pimpinan Pusat, Ketua Pimpinan Wilayah, Ketua Pimpinan Daerah, masing-masing dapat dijabat oleh orang yang sama dua kali masa jabatan berturut-turut.

Hubungan Pak AR dan Pak Harto

Pada awalnya, umat Islam sangat bersyukur dengan datangnya orde baru. Pemerintah melaksanakan pembangunan dan mewujudkan kemajuan di segala bidang. Namun bulan madu pemerintah orde baru dengan umat Islam ternyata tak berlangsung selamanya. Hal ini tak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan umat Islam.

Hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah orde baru juga mengalami pasang-surut. Namun demikian, hubungan Pak AR dengan Presiden Soeharto dapat dikatakan sangat baik. Tak pernah sekalipun Pak Harto punya alasan untuk marah kepada Pak AR. Meskipun dalam beberapa kesempatan Pak AR mengkritisi kebijakan Presiden Soeharto hingga menolak tawaran untuk diangkat menjadi menteri agama. Berkali-kali ditawari jabatan, sejumlah itu pula pinangan Pak Harto ditolak oleh Pak AR.

“Saya sudah cukup ngurusi Muhammadiyah saja Pak Harto, terima kasih,” jawab Pak AR.

Penerimaan Asas Tunggal Pancasila

Salah satu hal krusial yang cukup mengganggu keharmonisan hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah orde baru adalah diwajibkannya Pancasila sebagai asas tunggal. Muktamar Muhammadiyah sempat tertunda selama beberapa waktu karena Muhammadiyah tak kunjung menerima asas tunggal. Akhirnya melalui Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta tahun 1985, Muhammadiyah menerima asas tunggal setelah melalui perdebatan alot dan diskusi yang panjang. Akhirnya Muhammadiyah mendeklarasikan diri sebagai Organisasi Islam yang berakidah Islam dan berasaskan Pancasila.

Baca Juga  Bung Tomo, Radio Pemberontakan, dan Detik-detik Revolusi 10 November

Pak AR mengibaratkan penerimaan asas tunggal Muhammadiyah seperti kewajiban pengendara sepeda motor memakai helm dengan mengibaratkan Pancasila sebagai helm dan Muhammadiyah sebagai pengendaranya. Menurut Pak AR, menggunakan helm adalah bagian dari ketaatan terhadap peraturan tanpa harus kehilangan identitas dan kepribadiannya. Penerimaan asas tunggal dengan analogi memakai helm ini adalah permisalan yang sangat tepat karena pada waktu itu pemerintah sedang gencar mensosialisasikan pemakaian helm untuk keselamatan berkendara di jalan raya.

Ketika Ketum PP Muhammadiyah Pak AR Menasehati Pak Harto

Salah satu kelebihan Pak AR adalah sikapnya yang sederhana dan dapat berkomunikasi dengan siapapun lawan bicaranya. Kemampuan berkomunikasi inilah yang membuat Pak AR dapat diterima semua kalangan, dari rakyat jelata, pemuka agama hingga pejabat negara.

Dalam sebuah tayangan program “Melawan Lupa” Metro TV berjudul Mata Air Keteladanan KH AR Fachruddin, Sukriyanto AR, putra kedua Pak AR menyebutkan bahwa saat berkomunikasi dengan Pak Harto, Pak AR menggunakan bahasa krama inggil (bahasa Jawa yang paling halus). Pada tahun 1987, Pak AR pernah menyarankan Pak Harto untuk menyiapkan kader penggantinya. Pak Harto menjawab, “Kulo tasih digondeli (saya masih diharapkan masyarakat)”.

Ketika ditanya wartawan tentang apa yang disampaikan kepada Presiden, Pak AR menjawab hanya silaturrahmi biasa saja, tidak ada maksud khusus. Pak AR sama sekali tidak menyinggung sarannya agar Pak Harto mengakhiri jabatannya. Ketika disarankan mundur oleh Pak AR untuk kedua kalinya pada tahun 1992, jawaban Pak Harto tetap sama.

Pak AR Wafat

Pada hari Jumat, 17 Maret 1995 Pak AR Wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Presiden Soeharto, yang pernah dua kali disarankan mundur namun tak bergeming itu, memesan khusus sebuah pesawat Hercules untuk membawa jenazah Pak AR ke Yogyakarta. Sebelum meninggal, Pak AR juga pernah berobat ke Australia dengan fasilitasi dari Presiden Soeharto.

Baca Juga  Abdul Kahar Muzakkir, Penggagas Perguruan Tinggi untuk Kaum Perempuan

Jenazah KH Abdul Rozaq Fachruddin, Ketua Muhammadiyah terlama itu, dikebumikan di Pemakaman Umum Karangkajen, satu kompleks dengan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here