Di kandang-kandang peternak, panen yang melimpah semestinya menjadi berkah. Namun kini logikanya terbalik. Telur dan daging ayam justru menumpuk tak terserap, sementara harganya terjun jauh di bawah ongkos produksi. Peternak dihadapkan pada situasi paradoks, antara produksi berarti merugi, namun berhenti pun sama saja.
Angkanya begitu jelas. Di Temanggung, harga telur di tingkat peternak berkisar Rp17.000–18.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian pemerintah sebesar Rp26.500 per kg. Di Jawa Timur, sentra petelur terbesar nasional, kondisinya lebih parah lagi. Seorang peternak asal Bojonegoro menuturkan harga telur di tingkat peternak sudah menyentuh Rp16.000, terjun drastis dari kisaran normal Rp22.000 hingga Rp24.000.
Kerugiannya nyata. Setiap kilogram rugi sekitar Rp7.000, dan dengan panen 57–60 kilogram per hari, kerugian bisa mencapai Rp400.000 dalam sehari. Nasib serupa menimpa peternak ayam broiler, yang harga di kandangnya tertahan di Rp15.500–16.000/kg. Padahal Harga Acuan Pembelian ayam di tingkat produsen ditetapkan Rp25.000/kg.
Sisi Permintaan: Daya Beli yang Tertekan
Akar persoalannya bertemu di dua sisi. Di sisi permintaan, daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang menjadi tulang punggung konsumsi domestik, sedang tertekan. Meski pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5 persen (bahkan 5,61 persen pada Triwulan I 2026), banyak keluarga merasakan pendapatan tak lagi tumbuh secepat kenaikan biaya hidup. Sehingga menunda pembelian barang tahan lama dan menggeser konsumsi ke produk yang lebih murah.
Akarnya struktural, karna upah riil stagnan sejak 2017. Ekonomi tumbuh 4–5% tetapi pertumbuhan upah riil nyaris tak menyentuh 1%. Proporsi kelas menengah pun menyusut dari 21,4% pada 2019 menjadi sekitar 16,6% pada 2025, memperlemah kemampuan belanja rumah tangga. Efeknya langsung terasa di meja makan. Telur dan daging ayam ikut dikurangi porsi belinya, sehingga serapan pasar turun dan stok menumpuk di tingkat peternak.
Sisi Pasokan: Panen Terlalu Banyak
Di sisi lain, produksi justru sedang membanjir seiring lonjakan populasi ternak. Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional menyebut terjadi kelebihan pasokan karena populasi ayam petelur naik sekitar 20 persen, sehingga stok telur menumpuk di farm. Tren peningkatan populasi dan produksi ini bukan hal baru. Produksi telur ayam ras secara nasional terus menanjak dari sekitar 5,70 juta ton (2023) menuju kisaran 6,17 juta ton dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 2,63% per tahun. Sementara produksi daging ayam broiler naik konsisten dari 3,73 juta ton (2019) ke 4,04 juta ton (2020) dan 4,36 juta ton (2021).
Ketika laju penambahan populasi melampaui pertumbuhan konsumsi, oversupply tak terhindarkan. Menteri Perdagangan pun mengakui produksi telur dan daging ayam saat ini melimpah sehingga terjadi kelebihan pasokan. Secara nasional, produksi telur 2026 diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton sementara kebutuhan sekitar 6 juta ton, surplus sekitar 800 ribu ton atau kurang lebih 13% dari kebutuhan nasional. Di daerah, ketimpangan ini ekstrem: produksi telur dari sekitar 300 peternak anggota koperasi di Temanggung mencapai 100–150 ton per hari, sementara kebutuhan konsumsi setempat hanya sekitar 70–80 ton per hari.
| Komoditas / Wilayah | Harga Peternak | Harga Acuan / Normal |
| Telur – Temanggung | Rp17.000–18.000/kg | HAP Rp26.500/kg |
| Telur – Jawa Timur | Rp16.000/kg | Normal Rp22.000–24.000/kg |
| Ayam broiler (kandang) | Rp15.500–16.000/kg | HAP Rp25.000/kg |
| Biaya produksi telur | ± Rp24.000/kg | Harga jual di bawah ongkos |
| Indikator | Angka |
| Populasi ayam petelur | Naik ± 20% (asosiasi peternak) |
| Produksi telur nasional | 5,70 jt ton (2023) → proyeksi 7,3 jt ton (2026) |
| Produksi daging ayam broiler | 3,73 jt ton (2019) → 4,36 jt ton (2021), tren naik |
| Surplus telur 2026 | ± 800 ribu ton (~13% kebutuhan nasional) |
| Proporsi kelas menengah | 21,4% (2019) → ~16,6% (2025), menyusut |
| Upah riil | Stagnan sejak 2017, nyaris tak tumbuh 1% |
Yang membuat luka peternak makin dalam, jatuhnya harga di kandang tak dinikmati konsumen. Selisihnya diserap rantai perantara. Seorang pemimpin asosiasi peternak menggambarkannya blak-blakan. Ia menyebut bahwa harga di peternak disebut sekitar Rp21.000, tetapi konsumen tetap membeli telur Rp29.000–Rp30.000 per kg. Lalu ke mana larinya selisih Rp8.000 itu? Kementan pun mengakui pola ini, bahwa harga jatuh di tingkat peternak sementara harga di tingkat konsumen tidak turun signifikan sehingga relatif stabil.
Ongkos Naik, Margin Tergerus
Beban peternak kian berat karena ongkos produksi justru naik. Sepanjang 2026 terjadi kenaikan harga pakan pada kisaran Rp8.800–Rp9.400/kg, sementara biaya produksi telur sendiri berkisar Rp24.000 per kilogram, angka yang kini jauh di atas harga jual mereka. Tak heran, peternak berpopulasi besar mengaku merugi hingga ratusan juta rupiah.
Inilah potret getir ekonomi peternakan rakyat pertengahan 2026: berhimpit di antara daya beli yang loyo, pasokan yang membanjir, dan margin yang digerus perantara. Jika harga terus berada di bawah biaya produksi tanpa solusi, banyak peternak dikhawatirkan tidak lagi mampu menanggung kerugian dan terpaksa menutup usahanya.
(YY)


