KH. Ahmad Badawi (1): Sosok Ulama Otoritatif - IBTimes.ID
Inspiring

KH. Ahmad Badawi (1): Sosok Ulama Otoritatif

3 Mins read

Ahmad Badawi sosok pendiam, tawadlu’ dan tidak pernah meninggalkan ibadah fardlu sekalipun sibuk di Muhammadiyah dan pemerintahan,” kesan Badruzzaman, keponakan KH Badawi dalam Pengajian Malam Selasa dengan tema ”Mengenal KHA Badawi” pada 24 Desember lalu. Pengajian rutin yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini digelar di Aula Madrasah Muallimin Muhammadiyah dengan tujuan untuk menggali keteladanan sang tokoh.

Di balik pribadi yang humble, Ahmad Badawi juga sosok yang luas wawasan pengetahuan agamanya dan dapat diterima oleh semua kalangan. “Saja sangat kagum kealiman dan kekuatan ingatannja Pak Badawi Almarhum; setiap saja bawakan masalah, soal-soal keagamaan tentu beliau memberikan djawaban dengan dalil-dalilnja jang lengkap, tidak minta waktu untuk penjelidikan/memikirkan lagi. Memang luas dan dalam ilmu pengetahuan agamanja, tulis HS Mintaredja (1971) mengenang dua tahun wafat Ahmad Badawi.

Surat kabar Mertju Suar juga memberi kesaksian, “Bukan sadja di kalangan ulama-ulama Muhammadijah, pun di kalangan ulama-ulama di luar Muhammadijah, apabila bersama-sama melakukan pembahasan agama, para ulama itu akan merasakan keluasan dan kedalaman ilmu agama KHA Badawi…” tulis Mertju Suar nomor 12 tanggal 26 April 1969. Tak ada yang meragukan derajat keulamaannya.

Ahmad Badawi lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 5 Februari 1902 (HM Yunus Anis, 1971: 24). Ia salah satu putra KH Muhammad Fakih—tokoh yang namanya tercantum dalam struktur Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah pertama. Dalam besluit rechtpersoon Muhammadiyah 1912 terdapat nama yang tertulis “M. Tjarik M.H. Fakih,” komisaris HB Muhammadiyah pertama. Kyai Fakih menikah dengan Siti Habibah, adik kandung KH Ahmad Dahlan. Dengan demikian, ia keponakan sang pendiri Muhammadiyah.

Dengan membaca riwayat Pendidikan Ahmad Badawi, kita akan mafhum mengapa ia menjadi sosok yang luas pengetahuan agamanya, berkepribadian low profile, dan mampu di terima semua kalangan. Rupanya, ia salah satu di antara murid-murid pertama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang pertama kali dirintis oleh KH Ahmad Dahlan (1911).

Baca Juga  Sunni dan Syi'ah Jangan Dipertentangkan: Pandangan Tiga Tokoh Muhammadiyah

Di sekolah Islam modern pertama di Yogyakarta inilah sang tokoh menempuh Pendidikan dasarnya. Pada tahun 1908-1913, ia melanjutkan belajar di Pesantren Lerap, Karanganyar, untuk mengenal Ilmu Nahwu dan Sharaf. Dalam catatan Yunus Anis (1971: 27), Ahmad Badawi kecil rupanya pernah mengaji kepada KH Ibrahim, adik ipar KH Ahmad Dahlan yang dikenal mumpuni dalam bidang agama Islam.

Pada sekitar 1913-1915, ia melanjutkan belajar agama di Pesantren Termas, Pacitan, untuk memperdalam Ilmu Nahwu, Sharaf, dan seni menulis Arab indah (kaligrafi). Dari Pesantren Tremas, Badawi muda melanjutkan pendidikannya di di Pesantren Besuk, Wangkal, Pasuruhan pada sekitar 1915-1920. Terakhir, ia melanjutkan belajar agama di Pesantren Kauman dan Pandean, Semarang pada 1920-1921. Pada masanya, nama-nama institusi pendidikan Islam tempat belajar Ahmad Badawi sangat populer karena kualitasnya.

Pada mulanya, Ahmad Badawi bukanlah simpatisan Muhammadiyah, terutama pada periode perintisan yang dipimpin langsung oleh KH Ahmad Dahlan. Namun, hubungan kekeluargaan antara Ahmad Badawi dengan pendiri Muhammadiyah ini menyebabkan ia tergerak untuk aktif di organisasi rintisan sang pamannya (Jw. Wak).

Konon, pada suatu ketika KH Ahmad Dahlan sedang sakit. Ahmad Badawi, sang keponakan, menjenguknya. “Mana jang diderita dan semoga lekas sembuh,” doa sang keponakan kepada pamannya. “Jang kuderita ialah memikirkan Muhammadijah. Kenapa seperti kau belum suka turut dan masuk Muhammadijah?” keluh sang paman kepada keponakannya. Pada saat itulah, Ahmad Badawi menyatakan sudah masuk dan aktif di Muhammadiyah, tercatat dalam stambook sebagai anggota nomor 8.543. Mendengar kabar tersebut, KH Ahmad Dahlan langsung menunjukkan ekspresi kegirangannya (Yunus Anis, 1971: 25).

Karir Ahmad Badawi di Muhammadiyah dimulai sejak 1926, ketika ia masuk Bagian Tabligh HB Muhammadiyah. Sambil berdakwah, ia mengajar di Madrasah Muallimin dan Muallimat (dulu Kweekschool Muhammadiyah dan Kweekschool Isteri), dan aktif menggerakkan literasi lewat Bagian Taman Pustaka. Ia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah dan Hizbul Wathan.

Baca Juga  Ki Hadjar Lebih Pantas Menjadi Bapak Pendidikan Nasional daripada Kiai Dahlan, Benarkah?

Sampai memasuki masa pendudukan Jepang, Ahmad Badawi tercatat sebagai salah seorang milisi yang bergabung dalam Hizbullah. Terhitung mulai tahun 1942-1945, Kyai Badawi menjadi pembantu Syu-Mu-Ka. Ia juga tercatat sebagai pengurus Asjkar Perang Sabil (APS), angkatan perang yang dibentuk dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan tantara Belanda (Agresi Militer Belanda II).

Memasuki fase Orde Lama, kiprah Ahmad Badawi di Muhammadiyah maupun di pemerintahan sangat strategis. Ia menjabat sebagai Penasehat Kementerian Agama pada tahun 1946-1947. Dalam Muktamar Setengah Abad di Jakarta, Kyai Badawi mendapat amanat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Memasuki tahun 1963, Kyai Badawi diangkat sebagai penasehat pribadi Presiden Soekarno untuk urusan bidang agama. (bersambung)

Avatar
120 posts

About author
Pengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.
Articles
    Related posts
    Inspiring

    Wasil bin Atha': Pemikir Rasionalis dalam Teologi Mu'tazilah

    3 Mins read
    Setiap agama pasti mempunyai ajaran teologi. Bahkan dalam Islam sendiri istilah teologi disebut sebagai ilmu kalam yang mana istilah itu bertujuan untuk…
    Inspiring

    Pesan Islam Cinta Sang Habib Muda

    4 Mins read
    Belum lama ini, tepatnya pada tanggal 10 November 2020, Habib Rizieq Shihab baru saja pulang ke tanah air. Dalam kepulangannya itu, hadir…
    Inspiring

    Gus Dur: Kiai Kampung dengan Kearifan Lokal

    4 Mins read
    KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur merupakan Putra dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hajjah Solichah. Ia merupakan tokoh…

    Tinggalkan Balasan