Muhammadiyah Kehilangan Maestro Dakwah, Drs. KH. Muchtar Adam
Ulama

Muhammadiyah Kehilangan Maestro Dakwah, Drs. KH. Muchtar Adam

4 Mins read

Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun, penulis ucapkan sambil bermunajat kepada Allah agar almarhum KH Muchtar Adam dimasukkan kedalam SyurgaNya, amien. Beliau tutup usia pada tanggal 7 Juli 2021 dan dimakamkan dini hari 8 Juli 2021 di makam dekat dengan Pondok Pesantren Al Quran Babussalam yang beliau pimpin.

Taaddadatil asbaab wal mautu waahid, sebab musabab orang meninggal dunia bisa bermacam-macam. Tetapi sesungguhnya kematian itu hanyalah satu, yakni karena sudah ajalnya, karena sudah ketentuan Allah.

Sungguh Muhammadiyah sekali lagi kehilangan salah satu putera terbaiknya, maestro dakwah, kiai Multitalenta, seorang kiai yang juga seorang politisi, seorang kiai yang juga visioner. KH Muchtar Adam telah mendirikan Pesantren Babussalam di beberapa tempat, ada di Selayar dan ada di Pulau Nias, almarhum juga seorang penulis prolifik.

Sang Kiai yang Penulis

Buku karyanya hampir seratus judul dengan berbagai macam tema. Mulai dari tafsir, hadits, sejarah, politik Islam, sampai tasawuf. Inilah antara lain judul buku yang telah ditulis oleh KH Muchtar Adam:

  1. Dinamika Perbandingan Madzhab,
  2. Jalan Menuju Wahdah Islamiyah Penuh Onak dan Duri,
  3. Ijtihad, Antara Teks dan Konteks,
  4. Tazkiyatun Nafs.
  5. Ma’rifatur Rosul,
  6. Ma’rifaturrusul,
  7. Ma’rifatul Malaikat,
  8. Kumpulan Hadits Ma’rifatullah,
  9. Peta Mufassir Al Quran,
  10. Pola Tafsir 30 Ayat Al Quran,
  11. 77 Angka 7 dalam Al Quran dan Hadits,
  12. Zionis Dalam Al Quran,
  13. Membuka Tujuh Pintu Syurga, Menutup Tujuh Pintu Neraka,
  14. Tafsir Istiadzah,
  15. Sejarah Kurban,
  16. Bersahabat Dengan Al Quran,
  17. Yerusalem dari Masa ke Masa,
  18. Membina Generasi Qurani, dan puluhan judul buku yang lain.

Beliau tidak hanya memiliki kuasa lisan (dakwah bil lisan) tetapi juga kuasa tulisan (dakwah bil kitabah). Di Pesantren Al Quran Babussalam yang berlokasi di Ciburial, Bandung, sebuah dataran tinggi yang sejuk dan dari situ kita bisa menikmati keindahan panorama kota Bandung. Di pondok itulah beliau mendidik para santrinya untuk cinta Alquran dan mendalami, mengkaji dan mengamalkan Al Quran.

Baca Juga  Sejarah Sosial Puasa Ramadan

Pesantren juga memiki beberapa unit bisnis pengembangan seperti Pengembangan Tibbun Nabawi -pengobatan ala Nabi, Air mineral kemasan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIH) Babussalam, tidak kalah pentingnya Pesantren juga memiliki Grup Drum Band Babussalam Kabilah Hizbul Wathon (HW) Al Muchtariyah. Begitulah nama almarhum disematkan.

Tepatnya tahun 2017, penulis sempat sowan ke pesantren almarhum di Ciburial dan Bermalam di pesantren satu malam. Diawali sebelumnya dengan ramah tamah, diskusi, sharing dan sekaligus penulis mewawancarai beliau tentang “Akademi Tabligh Muhammadiyah” yang beliau termasuk alumni angkatan pertama.

Beliau menceritakan kolega satu angkatannya. Salah satunya almarhum Mustari Siraj asal Sulawesi yang kemampuan berbahasa Jawanya tidak kalah dengan orang Yogya. Sampai-sampai untuk mengisi pengajianpun dalam Bahasa Jawa beliau fasih.

Almarhum mengakui selain Bahasa Arab dan kompetensi lain, ketrampilan berbahasa daerah (…bi lughoti qoumihim) merupakan salah satu kompetensi yang dilatihkan di Akademi Tabligh Muhammadiyah (ATM) di Kauman Yogyakarta. Tidak lama berselang, almarhum bicara dengan istrinya dalam Bahasa Sunda yang juga tidak kalah fasehnya.

Akademi Tabligh Muhammadiyah (ATM) yang berdiri 18 November 1958, merupakan follow up dari hasil Munas Tabligh di Solo dan diketuai oleh Dekan Prof. K.H. A. Kahar Muzakkir. Di antara guru-guru almarhum adalah Prof. Farid Ma’ruf, Buya Hamka, Kyai Azhar Basyir, dan lain-lain. Penyelenggaraan Akademi Tabligh Muhammadiyah berlangsung sampai tahun 1963. Dalam perkembangannya ATM menjadi Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah (FIAD) pada tahun akademik 1963-1964.

Menurut Haitami, putera menantu almarhum, Pak Kiai sering menceritakan bahwa 4 kader Muhammadiyah Selayar pada tahun 1956 diberangkatkan menuju Pulau Jawa dengan Perahu Pinisi. Diantara keempat kader tersebut antara lain: 1. Mustari Siraj, beristrikan orang Blitar, mukim di Yogyakarta, meninggal tahun 1991, 2. Abdur Rahman, tinggal di Daya Makassar, sudah meninggal, 3. Muchtar Adam, beristrikan putri Bandung dan Dakwah di Bandung, yang keempat Ustadz Haitami agak lupa Namanya.

Baca Juga  Muhammadiyah: Quota Besar, Kaya Followers

Pada tahun 1991, atas desakan para tokoh Selayar baik di Selayar, Makassar dan Jakarta, almarhum didesak untuk mendirikan Pesantren Babussalam di Selayar. Lalu almarhum berinisiatif untuk melangkah dan mempersiapkannya. Dipanggillah 20 orang Sarjana Putera daerah untuk dikader dan dipersiapkan selama 2 tahun di Bandung dan diasuh oleh KH. Abdul Kadir Kassim, yang merupakan Guru almarhum Kyai Muchtar Adam saat di Sekolah Menengan Islam (SMI) Muhammadiyah Selayar setingkat SMP.

Setelah itu berdirilah Pesantren Babussalam Selayar dibawah asuhan seorang guru yang rela meninggalkan profesi gurunya di Makassar. Ini merupakan sejarah emas catatan perkaderan Muhammadiyah, yang keempat kader yang diutus tadi telah melaksanakan tugasnya. Tradisi kaderisasi ini harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Almarhum di kemudian hari juga menulis buku secara lebih komprehensif “Dinamika Muhammadiyah Selayar”.

Kiai Peduli Lingkungan: Eco-Pesantren

Pesantren Alquran Babussalam nampai sangat rindang dan Sejuk. Tidak ada satupun lahan yang tidak termanfaatkan untuk ditanam bahkan sampai nama tanaman yang langka-langka pun akan dicari dan ditanam di lingkungan pesantren tersebut.

Selain itu, salah satu program KBIH, beliau mengembangkan hibah buku, yakni menggalakkan para jamaahnya untuk hibah buku, kitab-kitab. Dan kitab-kitab turots berbahasa Arab itu juga disalurkan ke pesantren-pesantren yang membutuhkan di sekitar wilayah Bandung.

Ini bukti kepedulian terhadap lingkungan dalam makna lain, yakni Pesantren di sekitar Babussalam. Program Umroh Plus yang beliau kembangkan melalui KBIHnya, memungkinkan beliau melakukan lawatan ke berbagai negara mulai dari Turki sampai Yerussalam. Tak pelak ditulis pula buku tentang Yerusalem “Yerusalem Dari Masa ke Masa”.

Sepak Terjang Dakwah KH Muchtar Adam

Pernah berdakwah selama dua tahun di Pulau Buru, khusus dalam misi pembinaan ruhani tahanan politik PKI. Hal ini merupakan pengalaman luar biasa. Beliau berdau dengan temannya harus atur strategi dan menyapa tahanan, sampai mendakwahinya mulai dari sel yang satu menuju sel yang lain. Di Pulau buru itu sempat juga almarhum berjumpa dengan penulis novel prolifik Pramoedya Ananta Toer.

Baca Juga  Wardan Diponingrat, Sang Pengagas Hisab Hakiki

Almarhum pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dapil Jawa Barat Partai Amanah Nasional yang kala itu masih dipimpin Prof. Amien Rais, Ph.D. Duduk di komisi VI yang membidangi Pendidikan, Pariwisata dan Olahraga. “Pendidikan Islam harus mewarnai rancang bangun kebijakan Pendidikan di Indonesia, itulah yang saya perjuangkan saat di DPR RI,” ujar almarhum.

Salah satu sahabat beliau yang juga sering bertandang ke Pesantren Babussalam adalah Dr. Tanri Abeng, M.B.A. Dalam sebuah acara di Pesantren Babussalam. Saat Prof Nazaruddin Umar berkunjung, kebetulan beliau saat itu masih menjabat Wakil Meteri Agama RI. Apresiasi Prof Nazaruddin atas karya-karya almarhum, “Wah Pak Kiai kalau di Nahdotul Ulama (NU), dengan karya puluhan ini pak Kiai sudah bisa mengembangkan madzhab Tariqat Muhtariyah,” Untung Pak Kiai Muhammadiyah.

Editor : Yusuf

Avatar
1 posts

About author
Ketua Majelis Tabligh PWM DIY, Dosen UAD, Anggota MPK PP Muhammadiyah
Articles
Related posts
Ulama

Syekh Zakaria, Anak Yatim yang Bersemangat Mencari Ilmu

4 Mins read
Nama lengkapnya adalah Zainuddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari al-Khazraji as-Sunaiki al-Qahiri al-Azhari asy-Syafi’i, atau yang kerap…
Ulama

Abbas Ibn Firnas: Sang Penerbang Pertama dari Andalusia

2 Mins read
Abbas Ibn Firnas – Dunia mungkin mencatat Wright bersaudara sebagai penemu pesawat terbang. Tetapi, jauh sebelum itu, terdapat tokoh lain yang menemukan…
Ulama

At-Thabaqat al-Kubra Karya Ibnu Sa’d: Rujukan Historiografi Islam Awal

3 Mins read
Asal Muasal Kitab at-Thabaqat al-Kubra at-Thabaqat al-Kubra – Ibn Sa’d, 168-230 H/ 784-845 M, adalah salah satu pelopor penulisan biografi dalam literatur…

Tinggalkan Balasan