Kiai Ahmad Badawi: Ulama Ahli Nahwu Saraf yang Lentur Berdakwah - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kiai Ahmad Badawi: Ulama Ahli Nahwu Saraf yang Lentur Berdakwah

3 Mins read

Ahmad Badawi dilahirkan dari tokoh besar Muhammadiyah. Kelak saat ia wafat pun menjadi orang besar pula yang pernah dimiliki oleh Muhammadiyah.  Ahmad Badawi lahir dari K.H. Muhammad Fakih salah satu pengurus Muhammadiyah 1912 sebagai komisaris. Ibunya Hj. Siti Habibah merupakan adik kandung Ahmad Dahlan. Bila ditarik garis keturunannya, Ahmad Badawi adalah keturunan Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam (Riska, 2016).

Dilahirkan di Kampung Muhammadiyah Kauman Jogjakarta pada tanggal 5 Februari 1902. Badawi kecil adalah santri kelana. Setelah belajar dari ayahnya sendiri, pada tahun 1908-1913, ia menjadi santri di Pondok Pesantren Lerab Karanganyar untuk belajar ilmu nahwu dan sharaf. Selanjutnya, ia nyantri kepada Kiai Dimyati di Termas Pacitan. Kemudian di tahun 1915-1920, Badawi nyantri di Pesantren Besuk Wangkalan Pasuruan. Ia berlabuh di pesantren terakhir di Kauman dan Pandean Semarang di tahun 1921. Pendidikan formalnya hanya dilalui ketika ia memasuki Sekolah Dasar. Ia bersekolah di sekolah yang didirikan oleh Kiai Dahlan. Pendidikan dari pesantren ke pesantrenlah yang kemudian mengantarkannya menjadi orang besar.

Badawi kecil adalah seorang yang gigih mencari ilmu. Tentu tidak lepas dari didikan sang ayah yang merupakan ulama besar Muhamadiyah. Badawi mengikuti terbitnya cahaya Muhammadiyah dari ufuk timur. Namun ia baru memasuki Muhammadiyah di tahun 1927 tepatnya 25 September 1927.

Semenjak itu, ia mulai mengepakkan sayapnya mengarungi dakwah dan membaktikan hidupnya di Muhammadiyah dan umat. Tahun 1927, ia mengajar di Madrasah Mualimat kemudian menjadi guru Kepala Mualimat di tahun 1927-1953. Di tahun 1947, ia menjadi B.P.P. Di tahun 1962-1965 beliau menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan terpilih kembali dari tahun 1965-1968. Dan di tahun 1968-1971, ia masih menjadi penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Baca Juga  Ketika Pak AR Memimpin Yasinan

Lentur dalam Dakwah

Meski menguasai berbagai dalil dan ilmu yang mumpuni tentang agama, Badawi mampu membawakan dakwah dengan luwes. Badawi adalah Kiai yang suka guyonan yang tidak membuat para jamaahnya bosan.

Ia juga profil Kiai yang digemari anak muda. Baik dari kalangan pemuda dan pemudi. Perhatiannya kepada dakwah kaum hawa begitu getol dengan perhatiannya dan kiprahnya di Muallimat. Di kalangan pemuda ia juga sering mengisi pelatihan dan diklat yang diselenggarakan oleh para ortom anak muda.

Meski jadi Kiai idola anak muda Muhamamdiyah di kala itu, ia juga tidak ketinggalan memperhatikan masjid sebagai mercusuar dakwah Muhammadiyah. Mushala Stasiun Tugu Jogjakarta menjadi saksi perhatian beliau kepada jamaah masjid dan perlunya masjid sebagai pusat dakwah.

Kiai Badawi juga merupakan pegiat literasi yang mumpuni. Dalam catatan  biografisnya yang ditulis H.M. Junus Anis (1971), kita bisa menemukan cara Badawi menggiatkan literasi. “ Salah satu usaha beliau dalam penjiaran Islam, pernah menjelenggarakan Perpustakaan Keliling jang dibawa dengan geledegan dan memulai didorong oleh beliau sendiri.”

Kiai Badawi adalah ulama yang dicintai umat. Ini disebabkan karena beliau sangat aktif di berbagai lini kehidupan dan begitu luas pergaulannya. Di dalam setiap segi kehidupan yang ia ikuti, ia menanamkan jejak dan perannya yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Dalam harian Mertju Suar misalnya, ia adalah salah satu pencetus ide dan menjadi penasehatnya hingga akhir hayatnya. Di Muhammadiyah sendiri, ia menapaki dari tingkat ranting dan menjadi guru sampai dengan pimpinan pusat.

Kiai Badawi juga merupakan tokoh penggerak koperasi pedagang batik. Ia berperan bersama Muhammadiyah dalam menyelamatkan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) dari rongrongan PKI pada waktu itu.

Baca Juga  Sosok Buya Syafii, Negarawan yang Berwajah Teduh

Ahmad Badawi dan Peran Kebangsaan

Dalam aspek kebangsaaan, Kiai Badawi pernah menjadi penasehat Soekarno. Badawi adalah sosok yang blak-blakan dalam mengkritik Soekarno. Ia mengkritik tanpa tedeng aling-aling (ditutup-tutupi). Dari tulisan Djarnawi hadikusumo, kita menyimak cerita tentang keberanian Badawi yang mengkritik Soekarno.

“Pernah beliau memegang tangan Soekarno yang keriput sambil berkata: “Rupanja Bung Karno sudah sangat tua. Oleh karena itu, seringlah minta ampun kepada Allah.” Bung Karno pun marah dan menjawab: “Apa saja banjak dosa Kiai?” dengan mata melotot. Djawab Kiai Badawi: “Sudah barang tentu semua manusia selain Nabi dan Rasul tentu banjak dosa, apalagi Bung Karno seorang Presiden.”

Di kalangan anak muda, Badawi termasuk yang cukup populer. Beliau pernah menyarankan Soekarno untuk tidak membubarkan HMI ketika kemelut Soekarno yang sedikit menekan ormas Islam dan juga kalangan PSI saat kedekatan Soekarno dengan PKI menguat. Badawi juga tokoh Muhammadiyah yang mendukung kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang terkenal dengan 6 penegasan IMM.

Sesuai cita-cita hidupnya selama ini, ia telah menjadi pendakwah yang dicintai umat hingga akhir hayatnya. Keteguhan dan etos dakwahnya patut diteladani. Ia menghibahkan 10% hartanya untuk Muhammadijah, juga koleksi pustakanya selain untuk anaknya agar diserahkan kepada Muhammadiyah.

Hadirnya Kiai Badawi adalah oase dan teladan bagi kalangan muda Muhammadiyah. Di Muhammadiyah ternyata banyak tokoh atau ulama handal yang kiprahnya tidak diragukan, tetapi juga pinter ngaji dan ahli nahwu dan sharaf seperti di kalangan Nahdatul Ulama.  

Editor: Yahya FR

Avatar
8 posts

About author
Pegiat Literasi
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, Pembaru Kepustakaan Islam

4 Mins read
Dalam sejarah peradaban Islam, abad ke-18 menempati posisi tersendiri. Umat Islam pada itu dipandang sebagai awal dari satu peradaban. kemudian era tersebut…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Islam Berkemajuan ala Ziauddin Sardar

3 Mins read
Isu seputar hubungan antara Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan memang tidak pernah berakhir untuk didiskusikan. Terlebih di tengah pandemi, ada banyak respons…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (2): Telaah Atas Hadith dan Sejarahnya

7 Mins read
Sebelum membahas telaah Asad ke atas hadith dan sejarahnya, telah dibahas latar belakang seorang Muhammad Asad. Asad yang mendalam terhadap hadith sebenarnya…

Tinggalkan Balasan