Kita Bukan Anti-Sains, Hanya Kurang Total Ber-Sains - IBTimes.ID
Riset

Kita Bukan Anti-Sains, Hanya Kurang Total Ber-Sains

4 Mins read

Belakangan banyak kalangan yang menyebut pemerintah kita berlaku anti-Sains. Media kita seperti Kompas, Jakarta Post, Asumsi.co, memberikan gambaran ini. Saya kira, pemerintah kita memang sedang apes betul di saat kemampuannya merespon Covid-19 tidak optimal. Beberapa statementnya meskipun itu berdasar, langsung dianggap tidak dapat dipercaya.

Memang, pembawaan yang kelewat santai dalam merespon pandemi ini menjadi salah satu muaranya. Belum lagi ketika kita menilik pada kepentingan besar lain yang sedang dibawa: ekonomi dan investasi. Begitu banyak hal penting yang kemudian direspon secara setengah-setengah oleh para pejabat. Ujungnya, oleh publik, itu menjadi tidak layak diperhatikan. Bahkan, mendapat stempel ‘ndak ilmiah!’

Membaca Beberapa Ulasan

Setidaknya, terdapat dua tahap pemerintah bermain-main dengan Sains. Tidak serius. Akhirnya, masyarakat juga tidak bisa langsung percaya ketika mereka berbicara. Ketidakseriusan yang terus menerus inilah yang menyebabkan kita ragu dengan apa yang muncul dari pemerintah. Meskipun hal tersebut dalam beberapa bagian ada benarnya.

Pertama, atas apa yang dilakukan pemerintah secara langsung. Kita bisa merujuk pada ulasan Jakarta Post tentang Jokowi vs Sains, kemudian Kompas tentang pemerintahan kita yang Anti-Sains yang kemudian secara visual dirangkum oleh Asumsi.co dengan beberapa statement pemerintah perihal Covid-19.

Beberapa yang disampaikan oleh pemerintah pada dasarnya sebagian ada benarnya. Meskipun tidak sepenuhnya benar, karena memang ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Hal-hal yang sifatnya umum di kalangan kedokteran disampaikan tidak secara utuh. Oleh karenanya, ketika ada temuan baru muncul anggapan bahwa pemerintah tidak sungguh-sungguh, tidak merujuk sains ketika sedang berpendapat. Misalnya persoalan flu dan suhu. Di sisi lain, karena lebih banyak mengalihkan ke isu-isu non kesehatan, kesan bahwa menomorduakan keselamatan menjadi tampak dominan. Padahal, ya memang begitulah sebagian jobdesk mereka, ngomongin kerjaan masing-masing. Termasuk peluang investasi.

Baca Juga  Kuntowijoyo dan Perkembangan Ilmu Sosial Profetik

Kedua, ini yang lebih tricky. Dan jika benar, bisa dibilang sedang bermain-main dengan Sains. Ngakali Sains, bahasa mudahnya. Pemerintah dalam hal ini menarik beberapa orang yang dianggap punya pengaruh dengan gelar dokter untuk membuat framing bahwa Covid-19 tidak berbahaya. Orang-orang dengan gelar dokter ini, diposisikan persis seperti Terawan, Menteri Kesehatan yang bergelar dokter sekaligus doktor yang otomatis ketika dia berstatement tentang kesehatan sekilas tidak boleh diragukan.

Terdapat tiga tokoh yang dipakai oleh pemerintah Marika, Tirta, dan Cahyono. Yang pertama, dokter yang aktif di Twitter dan selalu memberikan informasi seolah semua baik-baik saja. Bahkan, yang bersangkutan pernah memposting APD dokter dari plastik sebagai bentuk kreativitas.

Tirta juga demikian, dokter ini sempat suatu waktu getol menyerang semua pihak yang menuntut lockdown oleh pemerintah. Walaupun akhirnya taubat juga. Menyetujui lockdown, bahkan bantu bagi-bagi APD. Yang terakhir Cahyono, dengan gelar dokter (hewan) dia juga diundang kemendagri untuk berbicara tentang Covid-19. Hal yang dia anggap biasa saja di video bersama seorang Luna Maya.

Ketiganya sama. Jika kita menganggap bahwa gelar otomatis layak menjadi basis berargumentasi, maka di situlah kita sedang bermain-main dengan Sains. Karena yang dilakukan ketiga orang dengan gelar ‘dokter’ itu sama. Persis seperti ketika Terawan juga berkata ‘nanti juga sembuh sendiri.’ Gelar dokter digunakan sebatas untuk melegitimasi Sains dalam konteks kesehatan. Padahal, ada kepentingan pemerintah yang dibawa di situ: framing bahwa covid-19 ini biasa saja. 

Total dalam Ber-Sains

Kiranya, memang ada yang perlu kita ubah dalam struktur dan kultur kita dalam melihat permasalahan publik. Jika selama ini kita menaruh begitu saja kepercayaan bahwa pemerintah pasti benar, atau pakar yang diundang pemerintah untuk memberi masukan sudah pasti netral, kiranya kita perlu sedikit skeptis. Bukan skeptis untuk sing penting ora. Melainkan skeptis dalam artian menanamkan dalam diri kita bahwa kita semua bertanggung jawab atas apa-apa yang menjadi urusan kita dan bersama. Tentu sesuai kapasitas masing-masing.

Baca Juga  Terapi Mewujudkan Kalender Islam Pemersatu

Berkenaan dengan bagaimana kita merespon persoalan publik berbasis Sains, Hoover (2018) dengan mengangkat isu kesehatan, memberikan beberapa catatan. Ulasan yang dibuat berusaha untuk menjembatani bahwa begitu banyak informasi yang ada di sekeliling kita, akan tetapi kemudian tidak dapat mewujud sebagai solusi atas persoalan. Informasi-informasi seolah hanya berhenti di kalangan para ’pakar‘ atau berserakan dalam naskah-naskah akademik.

Setidaknya, ada yang bisa kita lakukan dan menjadi tradisi baru. Pertama, pakar atau praktisi, perlu menyampaikan hal yang rumit secara akademik menjadi hal yang ringan ke masyarakat luas tanpa mengurangi esensi keilmuannya. Kita ada Twitter, Podtcast, Blog, atau media-media populer lain.

Hal lain adalah kolaborasi yang lebih baik antara lembaga riset dengan pemerintah atau pembuat kebijakan. Dengan adanya hubungan yang terjalin baik, dan tidak kasuistik, maka relasi ini akan lebih cair. Hal-hal penting yang harus disampaikan oleh pakar kepada pembiat kebijakan tidak akan terbelenggu pada pendekatan-pendekatan administratif. Mereka bisa mbisiki pemerintah dengan jalur-jalur non formal. Strategi kedua ini dapat dikategorisasi sebagai penguatan jejaring akademik dan praktisi. Optimalkan peran asosiasi keilmuan dan profesi.

Strategi ketiga adalah hal yang belum ada di Indonesia. Kita perlu ada lembaga yang bisa memediasi pakar dengan pembuat kebijakan secara lebih terstruktur dan independen. Sehingga kajian-kajiannya bisa lebih didengarkan dan mendahului kepentingan-kepentingan lain yang ada. Hanya saja hal ini pun juga kemudian menjadi tanda tanya. Bukannya tidak percaya pakar, akan tetapi memang tidak dapat dipungkiri Sains ketika hendak diimplementasikan mungkin juga membawa kepentingan pakar atau profesional sendiri.

Ada tawaran keempat, sebagai bagian dari total Sains. Merasa pernah dengar istilah ini? Betul, ini adopsi dari total football. Strategi bersepak bola yang meniscayakan setiap pemain secara aktif bertahan dan menyerang. Tidak ada satu bagian khusus yang diberi tugas hanya untuk mencetak gol. Pun demikian total Sains, seharusnya semua pihak memiliki tanggung jawab atas persoalan publik yang sama.

Baca Juga  Diskursus Kekuasaan dan Kebijakan di Masa Pandemi

Kita tidak menyerahkan urusan kebijakan berbasis sains hanya melalui ‘ngutus pakar’. Melainkan semua terlibat dalam memberi masukan. Tentu basisnya adalah ada tidaknya Sains yang menjadi argumen. Jika tiga strategi Hoover menitikberatkan pada pakar, maka dengan strategi terakhir ini keterbukaan Sains yang bisa diakses oleh semua pihak akan menjadikan total Sains dalam pembuatan kebijakan.

Kebijakan berbasis Sains tidak lagi menjadi identik dengan kehadiran pakar dan naskah yang terindeks, melainkan ada atau tidak landasan pengetahuan. Bisa dari membaca naskah ilmiah, bisa lewat populer ilmiah, podcast, blog pakar, dan lain-lain.

Jika demikian, apakah sesungguhnya kita semua perlu lebih banyak berperan lewat memperkaya bacaan untuk mengawal kebijakan?

Editor: Arif

Print Friendly, PDF & Email
Related posts
Riset

Sanad Hadis Tidak Palsu!: Kritik Keras A’zami kepada Joseph Schacht

2 Mins read
Sanad Hadis Tidak Palsu – A’zami melakukan kritik terhadap tesis Joseph Schacht pada kajian Isnad. Inilah kontribusi A’zami yang paling besar terhadap…
Riset

Muhammadiyah: Reformasi Islam Model Protestan

3 Mins read
Benarkah Muhammadiyah Islam Protestan? Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia di bidang pelayanan sosial, terutama dalam gerakan pendidikan, kesehatan,…
Riset

Aksi BEM FAI UMY Mendongkrak Potensi Ekonomi Ubi Gembili

3 Mins read
Aksi BEM FAI UMY Mendongkrak Potensi Ekonomi Ubi Gembili Kita pasti sudah sangat familiar dengan singkong dan ubi jalar dalam dunia umbi-umbian….

Tinggalkan Balasan