Review

Kiai Misbach, Pelopor Komunisme Islam di Surakarta

3 Mins read

Surakarta sebuah kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa dan berbudaya santun dan ramah, namun sering dilanda aksi kerusuhan yang melibatkan massa.

Pada abad XVIII-XIX umat Islam di Surakarta dikenal sebagai umat yang moderat dan tidak konfrontatif. Akan tetapi pada awal abad XXI, banyak disoroti sebagai basis gerakan radikal.

Gerakan Komunisme Islam dari Surakarta

Dalam penggalan sejarah pergerakan keagamaan dan politik di Indonesia, pada masa kolonial di Surakarta, terdapat sebuah gerakan yang disebut “Komunisme Islam” dipelopori oleh Moehammad Misbach yang akrab dipanggil Kiai Misbach.

Misbach lahir pada tahun 1876 di Kauman Surakarta. Anak kedua dari pengusaha batik yang religius bernama Dipowirono. Nama kecil Moehammad Misbach adalah Ahmad, setelah menunaikan ibadah haji ia dikenal dengan sebutan Hadji Moehammad Misbach. (halaman 100).

Maka, Misbach menjadi instrumen penting dalam sejarah gerakan Komunisme Islam di Surakarta, yang mendapat dukungan dari kaum santri (putihan) yakni para ulama pesantren serta para aktivis buruh.

Selain itu, munculnya gerakan ini tidak terlepas dari tokoh yang bernama Marco Kartodikromo, ia adalah tokoh yang memberikan pengaruh gerakan revolusioner yang dilakukan Misbach.

Perjumpaan Misbach dan Marco di IJB (Islansche Journalisten Bond) sebuah organisasi yang mewadahi para jurnalis yang kritis terhadap pemerintah, telah mengilhami Misbach mendirikan surat kabar yang diberi nama Medan Moeslimin tahun 1915, dan surat kabar Islam Bergerak pada tahun 1917.

Selain orasi, surat kabar tersebut telah menjadi wadah tulisan-tulisan bernuansa Islam revolusioner yang kritis terhadap kondisi sosial. Hadirnya surat kabar tersebut bertepatan pada masa keemasan Kasunan Surakarta.

Ideologi Komunisme

Mengenai komunisme, ialah ideologi yang dicetuskan Karl Marx. Tujuan dibentuknya ideologi komunis adalah untuk merevolusi tatanan kehidupan dengan cara menciptakan sebuah tatanan kehidupan baru. Di mana, dunia baru yang diharapkan kelak akan dihuni oleh masyarakat yang tidak mengenal kelas (classlesssociety) dan kasta sosial. (Baca: Manifesto of the Communist Party, halaman 9).

Baca Juga  1 Juni: Lahirnya Pancasila dan Cikal Bakal Proklamasi Kemerdekaan

Kuntara (1986) mengatakan, ideologi komunis lahir sebagai respon dan aksi terhadap ideologi kapitalis yang mementingkan kebutuhan pribadi dan mengesampingkan kebutuhan kaum buruh.

Tak heran jika komunisme menjadi ideologi yang paling berpengaruh dalam perkembangan sejarah dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin yang menginterpretasikan pemikiran Karl Marx sehingga dapat disebut “Marxisme-Leninisme” (halaman 39-40).

Perbedaan antara Revolusi Muhammad dan Marx

Dalam khazanah Islam, sebelum Marx mengusung ideologi komunisme, Islam melaui Nabi Muhammad dan Al-Qur’an lebih dahulu melakukan hal tersebut. Gaya hidup bangsa Arab zaman dahulu telah menjadi pusat perhatian Islam untuk melakukan sebuah revolusi total terhadap tatanan kehidupan manusia.

Penghapusan perbudakan, pembatasan istri, pelarangan mabuk, zina dan judi, penataan akhlak, dan lainnya telah di atur dalam al-Qur’an sebagai sebuah revolusi kehidupan umat manusia.

Namun jika di analisis secara mendasar, terdapat beberapa perbedaan dan persamaan antara revolusi yang di usung Nabi Muhammad melalui al-Qur’an dan Marx melalui komunisme.

Persamaannya terletak pada prinsip ideologi yakni melakukan revolusi tatanan kehidupan baru yang lebih baik. Sedangkan perbedaan yang paling mendasar adalah dari segi eksekusi dalam menjalankan ideologi tersebut.

Upaya Memadukan Komunisme dan Islam

Komunisme dan Islam merupakan dua hal yang paradoks, namun upaya pemaduan keduanya pernah terjadi di kota Surakarta. Sebagaimana, Islam dipahami sebagai monoteisme, sedangkan komunisme dianggap ateis.

Komunisme Islam di Surakarta sebuah gerakan revolusioner yang berpaham sinkretis, memadukan doktrin Islam dan komunisme agar terwujudnya keadilan, serta sebagai gerbong anti-kolonial.

Mudhofir Abdullah dalam Moderasi Beragama, ia mengatakan bahwa dalam sejarah gerakan-gerakan politik, terdapat titik taut antara radikalisme dan liberalisme. Masih kata Mudhofir, gerakan komunis disebut dengan liberal dan ekstrem kiri yang menyebabkan kerusuhan dan pemberontakan terhadap negara tahun 1948 dan 1965.

Baca Juga  Puisi O, Ketuhanan, dan Pandemi di Bulan Syawal

Namun perlu diketahui, munculnya radikalisme salah satunya juga disebabkan adanya ketidakadilan yang dirasakan masyarakat.

Sebagaimana munculnya gerakan Komunisme Islam di Surakarta (1914-1942) merupakan respon terhadap kesenjangan sosial antara kaum bangsawan (borjuis) dengan kaum pekerja atau rakyat jelata (protelar).

Selain itu, para pemangku keagamaan yang secara legal formal mengatasnamakan Islam tidak bergerak melawan kapitalisme dan kolonialisme. Bahkan cenderung tidak berpihak terhadap umat Islam itu sendiri. (halaman 226).

Keunikan Komunisme Islam di Surakarta

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gerakan Komunisme Islam di Surakarta memiliki keunikan tersendiri. Pada umumnya komunisme diidentikan sebuah ideologi yang anti agama, namun dalam fakta sejarah di Surakarta ideologi komunisme dan agama Islam dapat melakukan sinkretisme dalam melawan penjajahan, penindasan, dan ketidakadilan di masa kolonial.

Sebagaimana dalam buku Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942, komunisme dan Islam di Surakarta mengajarkan kewajiban berjuang melawan penindasan guna membela harga diri bangsa dan agama.

Mencintai bangsa adalah berjuang membela kaum rakyat tertindas, sedangkan mencintai agama berarti berjuang berdasarkan nilai keagamaan atau sebagai wujud jihad melawan para penindas (halaman 256).

Berdasarkan ulasan diatas, menurut hemat penulis gerakan Komunisme Islam di Surakarta berada di antara dua kutub radikalisme dan liberalisme.

Bahkan di dalam gerakan tersebut terdapat nuansa Islam moderat (wasatiyyah) yang mengedepankan sikap terbuka, toleran, dan tidak kaku. Kemungkinan juga gerakan Komunisme Islam di Surakarta merupakan model moderasi beragama dalam era kolonialisme.

Sebagaimana Muchlis Hanafi, ciri-ciri moderasi beragama, pertama, memahamai realitas. Kedua, memahami prioritas. Ketiga, memahami prinsip gradualitas dalam segala hal.  Keempat, memudahkan dalam beragama, tidak ketat dan kaku. Kelima, mengedepankan dialog. Bersedia mendengar argumen kelompok lain dan tidak menganggap semua yang berbeda dengan pendapatnya pasti salah. Dan keenam, bersikap terbuka dengan dunia luar dan toleran.

Baca Juga  Komunisme Bangkrut, Tidak Mungkin PKI Bangkit

Judul Buku: Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942
Penulis: Dr. Syamsul Bakri, M.Ag.
Penerbit: Nusa Media
Cetakan II: Desember 2020
Tebal: xxvi + 370 halaman
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-602-6913-99-9

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Dosen IAIN Surakarta
Articles
Related posts
Review

Kisah-Kisah Lucu Orang Madura di Tanah Suci

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Berbincang mengenai jamaah haji yang sedang menunaikan rukun Islam kelima, saya tiba-tiba teringat dengan sebuah buku yang…
Review

Menyingkap Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Kisah-kisah yang tertuang di dalam buku ini, Kisah-Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani, sama persis dengan judul…
Review

Suleymanli & Gulen, Wajah Komunitas Muslim yang Akomodatif dengan Nilai Barat

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pada abad ke-20, minoritas Muslim muncul di Eropa untuk mencari pekerjaan, perlindungan dari konflik dan perang, serta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *