back to top
Jumat, Juli 3, 2026

Paradigma Integrasi Agama dan Sains: Jalan Menuju Penerimaan Kalender Hijriah Global Tunggal

Lihat Lainnya

Susiknan Azhari
Susiknan Azhari
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Direktur Museum Astronomi Islam.

Perbedaan penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah masih menjadi kenyataan yang dihadapi umat Islam hingga hari ini. Hampir setiap tahun, sebagian umat memulai puasa atau merayakan Idulfitri pada hari yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan semata-mata dipicu oleh keragaman metode penentuan awal bulan kamariah, tetapi juga menunjukkan bahwa hingga kini dunia Islam belum memiliki sistem kalender yang dapat diterima secara bersama.

Kesadaran akan pentingnya penyatuan kalender sebenarnya telah berkembang sejak beberapa dekade terakhir. Berbagai forum internasional telah mempertemukan para ahli fikih dan astronomi untuk mencari titik temu. Salah satu tonggaknya adalah Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul pada 1437/2016 yang menghasilkan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Konsep ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh Muhammadiyah hingga resmi diberlakukan mulai 1 Muharam 1447 H atau 25 Juni 2025.

KHGT menawarkan sistem kalender yang berpijak pada prinsip one day one date, yakni satu hari dan satu tanggal bagi seluruh umat Islam di dunia. Dengan memanfaatkan perhitungan astronomi modern, awal bulan kamariah dapat dipastikan jauh sebelum waktunya sehingga berbagai agenda keagamaan dapat dipersiapkan secara lebih baik.

Namun demikian, persoalan kalender ternyata tidak berhenti pada ketepatan perhitungan astronomi. Pengalaman menunjukkan bahwa semakin canggih metode hisab yang digunakan tidak selalu diikuti meningkatnya penerimaan masyarakat. Di sinilah muncul pertanyaan yang menarik, mengapa sistem yang secara ilmiah semakin akurat belum tentu memperoleh dukungan yang luas?

Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini tidak lagi mempersoalkan apakah KHGT benar secara astronomi atau sah secara fikih. Fokusnya bergeser pada faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap gagasan kalender Islam global. Hasilnya memberikan pelajaran penting bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada astronomi, melainkan pada cara masyarakat memandang hubungan antara agama dan sains.

Ilmu Falak Belum Cukup

Selama ini berkembang anggapan bahwa semakin tinggi literasi ilmu falak seseorang, semakin besar pula peluangnya menerima KHGT. Dugaan tersebut tampak logis. Orang yang memahami pergerakan bulan, konsep elongasi, tinggi hilal, maupun metode hisab modern semestinya lebih mudah menerima sistem kalender yang dibangun di atas dasar astronomi.

Akan tetapi, hasil penelitian justru menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Melalui analisis terhadap 191 responden yang telah menempuh mata kuliah ilmu falak, ditemukan bahwa pengetahuan dasar astronomi tidak secara otomatis mendorong seseorang menerima maupun mendukung KHGT. Bahkan pengaruhnya terhadap penerimaan kalender global tergolong lemah dan pada beberapa indikator tidak signifikan secara statistik.

Baca Juga:  Menafsir Angka 108 pada Milad Muhammadiyah

Temuan tersebut menarik untuk dicermati. Selama ini diskusi mengenai kalender Islam sering berangkat dari asumsi bahwa persoalannya terletak pada kurangnya pemahaman masyarakat terhadap ilmu falak. Karena itu, berbagai upaya sosialisasi lebih banyak berisi penjelasan mengenai ijtimak, tinggi hilal, elongasi, visibilitas, maupun teknik hisab kontemporer.

Pendekatan semacam ini memang penting, tetapi belum menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Pengetahuan teknis ternyata belum cukup mengubah cara pandang seseorang terhadap kalender Islam global. Sebaliknya, hasil penelitian penulis menemukan bahwa pemahaman mengenai mekanisme hisab, rukyat, dan visibilitas hilal memiliki pengaruh yang lebih baik dibandingkan sekadar penguasaan konsep-konsep astronomi dasar.

Demikian pula pengalaman menggunakan kalender Hijriah dalam aktivitas sehari-hari memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap sikap responden. Namun, pengaruh tersebut tetap belum mampu menjelaskan secara langsung mengapa seseorang akhirnya menerima KHGT. Temuan ini mengandung pesan penting. Persoalan kalender Islam sesungguhnya bukan sekadar persoalan pengetahuan, melainkan juga persoalan keyakinan epistemologis.

Seseorang mungkin memahami cara kerja hisab dengan sangat baik, tetapi apabila ia masih memandang sains dan agama sebagai dua wilayah yang saling bertentangan, pengetahuan tersebut belum tentu mengubah sikapnya terhadap KHGT. Dengan kata lain, informasi astronomi dapat menambah wawasan, tetapi belum tentu mengubah cara berpikir.

Di sinilah penelitian ini menawarkan perspektif baru. Penerimaan terhadap KHGT tidak hanya dibentuk oleh apa yang diketahui seseorang mengenai ilmu falak, tetapi juga oleh kerangka berpikir yang digunakannya ketika memahami hubungan antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Kerangka berpikir itulah yang kemudian disebut sebagai paradigma integrasi agama dan sains.

Integrasi Agama dan Sains sebagai Jembatan

Temuan terpenting dalam penelitian terletak pada variabel yang semula tidak banyak diperbincangkan dalam kajian kalender Islam, yakni paradigma integrasi agama dan sains. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan astronomi baru memberikan pengaruh yang nyata terhadap penerimaan KHGT apabila dipahami melalui kerangka berpikir yang memandang agama dan sains sebagai dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi.

Paradigma ini tidak berangkat dari anggapan bahwa sains harus menggantikan otoritas agama. Sebaliknya, sains diposisikan sebagai instrumen untuk memahami dan mewujudkan tujuan-tujuan syariat. Dalam konteks penentuan kalender Hijriah, perhitungan astronomi bukanlah lawan dari dalil-dalil keagamaan, melainkan sarana untuk mengimplementasikan nilai-nilai syariat secara lebih tepat.

Hal ini menunjukkan bahwa paradigma integrasi agama dan sains berfungsi sebagai variabel mediasi penuh (full mediation). Artinya, hubungan antara pemahaman ilmu falak dengan penerimaan KHGT baru menjadi signifikan setelah melewati paradigma tersebut. Pengetahuan astronomi yang tidak disertai cara pandang integratif belum cukup untuk membentuk dukungan terhadap kalender global.

Baca Juga:  Teks Khutbah Idul Fitri: Menggapai Derajat Takwa 

Hasil penelitian ini mengingatkan bahwa penerimaan terhadap suatu inovasi keagamaan tidak hanya ditentukan oleh kuatnya argumentasi ilmiah. Yang tidak kalah penting ialah bagaimana argumentasi tersebut ditempatkan dalam kerangka keagamaan yang dipahami masyarakat. Dalam praktiknya, banyak perdebatan mengenai kalender Hijriah berakhir pada pertentangan antara hisab dan rukyat. Sebagian melihat keduanya sebagai dua metode yang saling meniadakan.

Padahal, jika dilihat dari perspektif integrasi ilmu, keduanya dapat dipahami sebagai dua pendekatan yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kepastian waktu ibadah sesuai tuntunan syariat. Karena itu, persoalan mendasarnya bukan lagi memilih antara hisab atau rukyat, melainkan bagaimana keduanya dipahami sebagai bagian dari ikhtiar kolektif umat dalam mewujudkan kemaslahatan.

Menggeser Arah Sosialisasi KHGT

Temuan tersebut membawa konsekuensi terhadap strategi sosialisasi KHGT. Selama ini penyampaian mengenai kalender global lebih banyak bertumpu pada penjelasan teknis. Masyarakat diperkenalkan pada istilah elongasi, tinggi hilal, konjungsi, visibilitas, dan berbagai parameter astronomi lainnya.

Pendekatan demikian tentu diperlukan, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa penjelasan teknis saja belum memadai.

Masyarakat perlu memahami alasan mengapa perkembangan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan syariat. Dengan kata lain, pembahasan mengenai kalender Hijriah tidak cukup berhenti pada persoalan “bagaimana menghitung”, tetapi juga harus menjelaskan “mengapa perhitungan tersebut diperlukan” dalam rangka mewujudkan tujuan syariat.

Dalam perspektif ini, persatuan umat menjadi titik tekan utama. Kalender bukan sekadar instrumen penanggalan, melainkan juga simbol kesatuan umat Islam. Ketika umat Islam memiliki acuan waktu yang sama, koordinasi berbagai aktivitas keagamaan akan menjadi lebih mudah. Mulai dari penyusunan kalender pendidikan, penyelenggaraan ibadah haji, kegiatan ekonomi syariah, hingga kerja sama antarnegara Muslim dapat dilakukan dengan kepastian waktu yang lebih baik.

Karena itu, narasi mengenai KHGT semestinya tidak hanya menonjolkan keunggulan teknis sistem kalender, tetapi juga menjelaskan manfaatnya bagi kehidupan umat secara lebih luas. Pendekatan semacam ini berpeluang memperluas ruang dialog di tengah masyarakat. Perdebatan yang selama ini berkisar pada aspek metodologis dapat diarahkan menuju pembahasan mengenai tujuan bersama yang ingin dicapai, yaitu terwujudnya kesatuan umat Islam dalam penanggalan Hijriah.

Menuju Fikih yang Responsif terhadap Realitas

Salah satu gagasan menarik yang ditawarkan hasil penelitian ini ialah pentingnya mengembangkan apa yang disebut sebagai fikih empiris. Yang dimaksud bukanlah mengubah sumber hukum Islam, melainkan memberi perhatian lebih besar terhadap kenyataan sosial ketika hukum diterapkan.

Baca Juga:  Teladan Politik "Helm" Pak A.R. di Tengah Polemik Tambang

Dalam tradisi usul fikih dikenal konsep taḥqīq al-manāṭ, yaitu memastikan bahwa suatu ketentuan benar-benar sesuai dengan konteks penerapannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapan masyarakat menerima paradigma integrasi agama dan sains merupakan bagian penting dari proses tersebut.

Pendekatan ini membuka ruang yang lebih luas bagi dialog antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan modern. Perdebatan mengenai kalender tidak lagi berhenti pada pencarian dalil yang saling dipertentangkan, tetapi bergerak menuju upaya memahami bagaimana syariat dapat diwujudkan secara efektif dalam kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Dalam konteks KHGT, hal ini berarti bahwa legitimasi syariat tidak hanya dibangun melalui argumentasi normatif, tetapi juga melalui kemampuan menjelaskan relevansi ilmu pengetahuan bagi terwujudnya tujuan hukum Islam. Di sinilah letak pentingnya paradigma integrasi agama dan sains. Paradigma tersebut menjadi penghubung antara otoritas teks keagamaan dengan perkembangan astronomi modern. Ia bukan sekadar pendekatan akademik, melainkan juga fondasi intelektual bagi penerimaan masyarakat terhadap inovasi dalam bidang keagamaan.

Catatan Akhir

Perdebatan mengenai kalender Hijriah kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Perbedaan pandangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dinamika pemikiran Islam. Namun demikian, hasil penelitian ini memberikan pelajaran berharga bahwa penyatuan kalender tidak cukup diupayakan melalui penyempurnaan metode hisab atau penambahan data astronomi semata.

Yang lebih mendasar adalah membangun cara pandang yang menempatkan agama dan sains sebagai dua unsur yang saling menguatkan. Pengetahuan astronomi memang penting, tetapi ia baru akan melahirkan perubahan sikap ketika dipahami dalam kerangka yang menghubungkan ketepatan ilmiah dengan tujuan-tujuan syariat.

Temuan ini sekaligus memperkaya wacana penyatuan kalender Islam. Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada aspek fikih dan astronomi, sementara dimensi epistemologis relatif kurang mendapat tempat. Padahal, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan KHGT sangat dipengaruhi oleh kemampuan menghadirkan narasi yang mempertemukan wahyu dan sains dalam satu kesatuan yang utuh.

Apabila paradigma tersebut dapat dikembangkan secara lebih luas melalui pendidikan, dakwah, dan literasi publik, peluang diterimanya Kalender Hijriah Global Tunggal akan semakin terbuka. Pada akhirnya, penyatuan kalender bukan hanya persoalan memilih metode penentuan awal bulan, melainkan juga ikhtiar membangun kesadaran bersama bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan cita-cita syariat untuk menghadirkan persatuan umat Islam.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru