back to top
Senin, Februari 16, 2026

Krisis Imkanur Rukyah, Kebenaran Wujudul Hilal, dan Kebutuhan Kalender Global

Lihat Lainnya

KH. Dr. Hamim Ilyas, M.Ag
KH. Dr. Hamim Ilyas, M.Ag
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Ilmu Falak sebagai ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu dibangun dengan menggunakan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Tulisan ini mengkaji secara singkat Imkanur Rukyah dan Wujudul Hilal yang menjadi kriteria penentuan awal bulan Kamariah dalam Ilmu Falak yang lagi ngetrend sekarang; dan rintisan kalender Hijriah global.

Imkanur Rukyah

Penggunaan Imkanur Rukyah (IR) sebagai kriteria untuk menentukan awal bulan Kamariah di Indonesia dalam perpektif filsafat ilmu merupakan krisis nyata dari Ilmu Falak.

Secara ontologis, IR memandang bulan pada malam penggenapan usia  bulan Kamariah menjadi 30 hari masih berada di siklus bulanan lama sehingga lahir di siklus bulanan baru sudah berusia lebih dari 24 jam.

Jika digunakan analog 30 hari usia bulan Kamariah sama dengan usia manusia 60 tahun, maka manusia “IR” begitu lahir sudah berusia 2 tahun.

Secara epistemologis, IR tidak menggunakan tolok ukur kebenaran korespondensi yang menjadi tolok ukur kebenaran ilmu-ilmu alam, yakni kesesuaian pernyataan dengan kenyataan.

Hilal pada sore hari tanggal 29 bulan berjalan saat matahari terbenam sebenarnya sudah wujud, tapi wujudnya dianggap tidak ada hanya karena kurang dari 3 derajat.

Secara aksiologis, ilmu falak seharusnya memberi maslahat universal untuk membangun kalender global, tapi oleh IR hanya digunakan untuk memberi pembenaran ajaran rukyah yang dipahami dari hadis yang sebenarnya disabdakan Nabi untuk menentukan awal bulan Kamariah pada zaman beliau ketika Ilmu Falak belum maju.

Baca Juga:  Menunggu Fatwa Haram Plastik Sekali Pakai

Wujudul Hilal

Dalam pada itu Wujudul Hilal (WH) dalam perspektif filsafat ilmu adalah kriteria yang benar.

Secara ontologis WH memandang bulan yang berada di siklus baru diterima sebagai sudah berada di siklus baru sehingga ketika lahir baru berusia kurang dari 1 jam.

Dan dengan analog manusia, manusia WH ketika lahir berusia 0 bulan.

Kemudian secara epistemologis, WH menggunakan tolok ukur kebenaran korenpondensi. Hilal yang sudah berada di atas ufuk diterima sudah berada di atas ufuk meskipun kurang dari 3 derajat dan tidak bisa dirukyah.

Kemudian secara aksiologis, WH terbukti telah memberi kepastian kalender waktu ibadah sehingga diikuti tidak hanya oleh warga Muhammadiyah pengguna WH, tapi juga warga ormas lain penganut hisab.

Jadi Muhammadiyah kukuh menggunakan WH tidak karena ego organisasi tapi karena mengamalkan kebenaran ilmu pengetahuan.

Kalender Global

Peradaban umat manusia sekarang digerakkan oleh ilmu pengetahuan. Umat yang tidak menggunakan ilmu pengetahuan pasti menjadi umat tertinggal.

Karena itu pengamalan kebenaran ilmu pengetahuan selanjutnya harus menggerakkan umat menggunakan kalender Hijriah global untuk memajukan peradaban umat dalam berkalender.

Karena umat pada umumnya belum memiliki kesadaran penggunaan kalender Hijriah global maka harus ada yang berani merintisnya.  Sebagian umat yang telah merasakan kebutuhan terhadap kebutuhan kalender global pasti mendukung rintisan tersebut.

Sebagian umat perintis dan pendukung kalender Hijriah global menjadi minoritas kreatif yang menghela kemajuan umat berkalender.

Baca Juga:  Kasus Hukuman bagi Siswi SMP Negeri di Lamongan Karena Tak Pakai Dalaman Jilbab, Wajib Jadi Perhatian Semua Pihak

Cepat atau lambat perjuangan mewujudkan kalender Hijriah global pasti terwujud.

Hasilnya umat sama-sama senang.

Editor: Soleh

Peristiwa

2 KOMENTAR

  1. Hasil pemikiran aqal sehat manusia yg tlh teruji antara lain berupa ilmu pengetahuan untuk meningkatkan peradaban manusia, maka barang siapa yg tdk mau menggunakan akal sehatnya dlm beragama, niscaya akan ditimpakan kpda mereka kehinaan dari Tuhan Penciptanya(QS. 10 : 100)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru