Logika Warganet dan Fikih Kebencanaan - IBTimes.ID
Moderasi

Logika Warganet dan Fikih Kebencanaan

4 Mins read

Beberapa hari ini kita kembali mendapat berita berduka bencana banjir, setelah awal Januari 2020 juga terjadi banjir. Banyak saudara kita yang terkena bencana banjir di daerah Jabodetabek dan Banten. Penulis sendiri tinggal di daerah Tambun Selatan, Bekasi. Terdapat beberapa bagian daerah yang terkena banjir.

Reaksi Masyarakat

Dengan adanya banjir, beberapa warganet memberi berbagai macam kritik dan saran untuk dijadikan suatu pelajaran. Padahal bisa jadi ini adalah bencana untuk kita bersama, seharusnya sama-sama kita mengambil pelajaran.

Ada juga yang justru menyalahkan kinerjanya pemerintah, jangan-jangan bukan semuanya salah pemerintah tetapi karena kesalahan kita, yang belum kita sadari. Tetapi di samping itu masih banyak relawan yang siap terjun mendampingi dan menyelamatkan para korban banjir. Ada yang mendo’akan mereka dan memberi bantuan tenaga, dana, serta membantu pemulihan lingkungan.

Penulis bukan berniat mengkritisi keadaan duka tersebut, karena sudah banyak orang yang lebih pintar memberi tanggapan kritik dan saran. Kalau semua komentar memberi kritik dan saran, siapa nanti yang bertugas mendengarkan. Bahkan penulis pun belum bisa membantu mereka secara maksimal.

Karena sudah banyak yang mengkritisi serta memberi saran perbaikan agar mengurangi terjadinya banjir. Tulisan ini hanya sebatas kompilasi-kompilasi dari beberapa sumber, karena setelah mendengarkan ceramah dari ustadz Fahrudin agar mengurangi masalah di media sosial tentang saling salah menyalahkan. Tulisan ini bukan suatu karya ilmiah yang di teliti dengan ketat.

Jangan Saling Menyalahkan

Karena level dan maqam hidup kita itu sama, maka bisa jadi bencana tersebut untuk dijadikan pelajaran untuk kita bersama. Bukan berarti yang sedang terkena musibah bencana terus dianggap paling banyak dosanya. Bisa jadi ini bukan dosa mereka yang terkena musibah, tetapi ini dosa kita.

Walaupun yang terkena bencana saudara kita. Mungkin dengan adanya bencana tersebut untuk dijadikan pelajaran dan peringatan bagi kita, agar kita yang bertaubat. Jangan-jangan bukan mereka yang harus bertaubat, tapi itu peringatan buat kita yang harus bertaubat.

Baca Juga  Penyebab Paham Salafi Subur di Muhammadiyah

Dengan adanya bencana ini bukan suatu yang mengagetkan, karena akhir-akhir ini sering terjadi bencana di negara kita. Sudah dari zaman dahulu Nabi Muhammad SAW berkata kehidupan didunia ini sudah mulai memasuki masa-masa terakhir, karena Al Qur’an kitab suci terakhir dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Bisa jadi ini suatu tanda isyarat untuk penutup kehidupan di dunia. Wallahu a’lam. Tetapi secara geografis memang negara kita juga masuk wilayah ring of fire sering terjadi bencana.

Yang penting kita melakukan yang terbaik untuk saudara kita, tetapi bukan hanya yang penting baik saja, yang cukup baik pun juga harus kita lakukan dengan tulus. Membantu saudara kita yang terkena musibah. Mendo’akan mereka secara berjamaah tetapi harus benar-benar doa yang tulus. Atau kita bisa mendoakan saudara kita yang kena musibah, dengan niat tulus tanpa berjamaah.

Jangan lakukan apapun yang menambah masalah, dengan adanya bencana ini kita mendoakan agar selamat dan juga ikut membantu saudara kita yang terkena musibah. Bukan justru saling salah menyalahkan dengan menggunakan logika berfikir, misalnya suatu musibah adalah sebagai hukuman bagi orang yang banyak dosanya, apalagi dengan menunjuk secara langsung kepada korban musibah banjir tersebut.

Kesalahan Logika

Memang tipe manusia itu macam-macam kalau dibagi, ada yang problem solver, dia pemecah masalah dan mencarikan solusi. Ada yang part of the problem, dia bagian dari masalah. Ada yang lebih parah lagi trouble maker si pembuat masalah, jangan ikut-ikutan masuk yang kategori pembuat masalah di media sosial atau pun di masyarakat.

Kita harus mencari solusi secara bersama-sama, bukan pakai logika bahwa mereka kena bencana karena banyak dosa, iya bisa jadi. Tapi jangan-jangan bencana ini karena dosa-dosa kita. Walapun kita tidak terkena bencana, tetapi ini sebagai ujian peringatan untuk kita, sudah berbuat dan membantu apa kita untuk saudara kita yang menjadi korban bencana. Bisa jadi mereka yang terkena ujian bencana lolos karena sabar dan lebih beriman.

Baca Juga  Menjadi Khalifah Ekologis

Sekarang ujiannya buat kita, nanti di akhirat di tanya bagaimana kamu melihat saudaramu kena musibah, sudah membantu apa dan berbuat apa untuk mereka dengan level kemampuanmu? Seandainya bencana di ukur dengan banyaknya dosa, maka seharusnya bencana tersebut didatangkan kepada negara-negara jauh dari nilai agama.

Logika semacam itu bisa jadi tidak masuk akal kalau hanya untuk menunjuk dosa-dosa orang lain, bagaimana dengan dosa kita. Menurut Ustadz Fahruddin, Ada sebuah cerita untuk dijadikan pelajaran kita bersama. Umat islam pernah kaget ketika Baghdad jatuh, bahkan Kekhalifahan Abbasiyah dijatuhkan oleh kerajaan Mongol yang kafir. Umat Islam banyak ulama salafus shaleh dan orang alim, kenapa bisa kalah dengan kerajaan Mongol. Ini logika tidak masuk, jadi kurang banyak apa orang sholehnya dan para Ulama salafus sholeh dipihak umat Islam sampai bisa kalah dengan Kerajaan Mongol yang kafir.

Kalau ada orang terkena bencana lebih baik kita tolong dahulu jangan pilih-pilih kasih. Misalnya ada korban bencana, terus suruh sang korban tiba-tiba harus bertaubat sekarang juga atas dosanya. Lebih baik dibantu dulu, kalau sudah di tolong baru mari kita taubat bareng-bareng. Jangan gunakan logika yang tidak masuk, misalnya banyak dosanya kali para korban bencana tersebut. Iya bisa jadi, tetapi sudah saya jelaskan ujian bencana itu untuk pelajaran kita bersama-sama.

Fikih Kebencanaan

Konsep tentang bencana ada yang tergolong pada natural disaster, namun ada pula yang terkait dengan human error. Yang pertama tentu murni dari kuasa Allah SWT, sedangkan yang kedua sering dianggap sebagai kesalahan prilaku manusia. Sebagaimana firman Allah SWT: “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut akibat ulah manusia”. Dalam firman yang lain juga dicantumkan bahwa segala hal positif itu datangnya dari Allah, adapun yang negatif akibat ulah manusia sendiri.

Baca Juga  Sekolah: Fondasi Untuk Membangun Bangsa Yang Maju

Bicara tentang bencana tidak bisa lepas dari pemahaman taqdir, ikhtiar dan sunnatullah. Di kalangan ulama ada tiga penafsiran konsep tersebut. Menurut Muhammad Azhar anggota majelis tarjih PP Muhammadiyah, Taqdir merupakan ketetapan ilahi, sesuai dengan upaya minimal atau maksimal (ikhtiar) manusia dalam memahami dan menjalani hukum-hukum Tuhan (sunnatullah). Sunnatullah atau hukum alam dan sosial ini akan menimpa semua umat manusia tanpa melihat aspek suku, bangsa bahkan agama.

Namun, mengingat manusia sebagai khalifatullah fil-ardl, maka baik potensi bencana yang natural disaster maupun human error, tetap berlaku firman Allah bahwa: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri terlebih dahulu berupaya merubah nasib mereka sendiri.“ (QS ar-Ra’du: 11).

Maka untuk itu manusia harus berikhtiar dan membawa perubahan yang lebih baik dalam mengelolah alam dan lingkungan sosial. Ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU sudah berikhtiar membentuk lembaga penanggulangan bencana. Tak hanya ormas Islam bahkan negara juga melakukan ikhtiar dengan membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Tak hanya di dalam negeri bahkan banyak negara lain juga sudah berikhtiar untuk membentuk organisasi penanggulangan bencana. Karena secara taqdir dan sunnatullah, umumnya masing-masing daerah atau negara sudah punya sunnatullahnya sendiri-sendiri sesuai alam yg mengitari daerah atau dinegara tersebut. Misalnya untuk negara kita yang berada dalam Ring Of Fire lebih sering terjadi gempa, karena secara sunnatullah memang berada di wilayah ring of fire. Daerah-daerah yang dekat pegunungan tentu lebih berpotensi mengalami bencana dampak meletusnya gunung api.

Editor: Nabhan

Avatar
13 posts

About author
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nusantara Bekasi | Warga Muhammadiyah
Articles
Related posts
Moderasi

Cara Membendung Paham Radikal di Perguruan Tinggi

3 Mins read
Rangkaian Aksi Teror Dua minggu yang lalu, kita kembali dikejutkan dengan aksi teror di Gereja Katedral, Makassar. Hanya berselang tiga hari dari…
Moderasi

Cara Menjadi Moderat di Bulan Suci Ramadhan

3 Mins read
Moderasi Beragama Wacana moderasi beragama semakin hari menjadi ikonik di tengah-tengah umat Islam. Moderasi menjadi pilihan mutakhir untuk menangkal berbagai macam isu…
Moderasi

Menyelamatkan Kata “Bid’ah” dari Pemaknaan yang Ngawur

4 Mins read
Pemaknaan Kata Bid’ah yang Keliru Bid’ah bisa dibilang adalah kata yang cukup populer belakangan ini, khususnya setelah maraknya gerakan Salafi. Hanya saja,…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa