LPPI UMY dan IBTimes Adakan Madrasah Literasi

0
293
IBtimes.ID

Yogyakarta-IBTimes.ID- Arus perkembangan teknologi informasi, per hari ini, kianlah cepat. Terlebih informasi digital, tiap menit bahkan tiap detik, selalu kita dapati berita baru di linimasa media berita atau media sosial yang berada di gawai pribadi kita. Banyaknya kanal atau media penyedia berita digital, menyebabkan berita yang tersebar tidaklah melalui proses kurasi yang ketat.

Terbukti, betapa banyak berita bohong yang sengaja dibuat hanya untuk mendulang views tanpa mempertimbangkan kualitas konten dan dampak negatif dari perilaku tersebut. Tidak hanya dalam bentuk berita, informasi bohong juga secara cepat tersebar dalam bentuk gambar, video, artikel, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kecerdasan literasi, terutama literasi digital, wajib dimiliki setiap insan untuk menyaring berita benar yang terselip dalam hutan rimba berita bohong.

Menyadari kebutuhan tersebut, Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan PC IMM AR Fakhrudin dan IBTimes.ID, menyelenggarakan kegiatan “Madrasah Literasi Kaum Muda Muhammadiyah” dengan tema “Muhammadiyah Millenial: Mencari Platform Baru Gerakan”. Kegiatan tersebut dimulai tanggal 23-25 Agustus 2019 yang bertempat di Dolandeso, Kulonprogo Yogyakarta.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyaring bibit-bibit penulis millenial Muhammadiyah yang nantinya akan dibekali teknik-teknik kepenulisan oleh para pemateri selama kegiatan berlangsung. Hal itu diikhtiarkan agar para penulis milenial Muhammadiyah mampu menghasilkan konten tulisan yang berkualitas untuk melawan narasi-narasi hoaks yang sudah jamak di temukan di media daring.

Rangkaian kegiatan Madrasah Literasi diawali dengan seminar umum yang diadakan di Ruang Sidang Pasca Sarjana UMY. Terdapat empat pembicara kunci yang mengisi seminar tersebut, antara lain; Fajar Riza Ul Haqq (Staff Khusus Kemendikbud RI), Hasnan Bachtiar (Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah), Iqbal Aji Daryono (Penulis), dan Lya Fahmi (Psikolog dan Influencer).

Baca Juga  UM Magelang: Gelar Angkringan Ramadhan Bersama Ganjar Pranowo

Seminar diawali dengan pidato pembuka dari Miftahul Haqq, selaku perwakilan LPPI UMY, yang mengungkapkan urgensi diadakannya kegiatan ini.

“Di tataran media daring, Muhammadiyah sangat tertinggal dari media-media lain, Suara Muhammadiyah pun saya kira belum masuk urutan 10 besar media daring. Maka saya harapkan para peserta Madrasah Literasi mulai berpikir keras selama kegiatan berlangsung supaya mempunyai skill dan bekal untuk menghasilkan tulisan yang bagus dan bermutu. Itu termasuk manifesto dakwah Muhammadiyah kekinian” Ujar Miftah.

Miftah menganjurkan seluruh komponen millenial Muhammadiyah memaksimalkan media alternatif yang ada guna memasifkan dakwah islam berkemajuan Muhammadiyah.

“Millenial itu bukan sekadar generasi, tetapi juga tentang teknologi” kata Iqbal Aji Daryono selaku pembicara pertama di awal prakata yang ia sampaikan.

Iqbal banyak menjelaskan banyak sekali pergeseran perilaku, karakter, dan pola hidup manusia, terutama generasi millenial, seiring terjadinya percepatan kemajuan teknologi yang tak mungkin dimungkiri dan dihindari per hari ini.

“Beberapa minggu yang lalu, saya datang di sebuah kota yang belum pernah saya datangi sebelumnya dan tidak terlalu mengetahui bahasa yang dituturkan mayoritas orang di sana. Tiba-tiba saya merasa ketakutan untuk keluar dari penginapan saya di kota itu. Kenapa? Sederhana sekali, karena saya tidak mempunyai paket data internet. Apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada. Saya akan tersesat karena tidak bisa menggunakan google map” ujar Iqbal.

Iqbal pernah merasa jengkel tatkala terjadi peristiwa kerusuhan 22 Mei, beberapa akses media sosial dibatasi sehingga ia tidak bisa mengakses gambar dan video. “Padahal lima tahun yang lalu, saat saya memiliki HP Siemens C35, saya tidak merasa butuh gambar, tidak merasa butuh video” imbuhnya.

Baca Juga  Mengapa Komunitas Inggris ini Kagum pada Muhammadiyah?

“Berapa banyak orang yang teriak-teriak karena merasa terbungkam karena perlakuan itu” tambah Iqbal.

Iqbal menjelaskan bahwa karakter media sosial (cepat, ringan, dan instan) membentuk karakter manusia menjadi seperti itu. Manusia sekarang inginnya membaca dan melihat yang instan-instan, to the point, menarik, dan tidak berbelit-belit. Maka, pesan Iqbal, kita harus menyesuaikan karakter manusia sekarang dalam membuat konten-konten tulisan yang akan kita suguhkan.

Hasnan Bachtiar selaku pembicara kedua mengungkapkan bahwa media sosial (seperti Instagram, Facebook, Twitter) itu tidaklah netral. Ada wacana dan narasi yang dimainkan dibalik itu, kata Hasnan mengutip Micahel Foucoult “Power Determines Knowledge”.

“Kalau penguasaan atas media dan teknologi, kita sangat susah untuk menguasai, tetapi jika persoalan wacana kita sangat bisa menguasai jika kita bekerja secara kompak” ujar Hasnan.

Hasnan juga membahas tentang masa depan Literasi tradisional yang, menurutnya, tidak akan pernah menemui masa kepunahan.

“Literasi tradisional, yakni membaca, menulis, dan berdiskusi itu akan bertahan lama. Dari tradisi literasi itu akan membangun suatu kebudayaan. Dari kebudayaan akan timbul suatu peradaban. Maka jika kita merawat tradisi literasi dengan baik, maka kita akan memiliki sejarah peradaban yang baik pula” tandas Hasnan.

Fajar Riza Ul Haqq, selaku pembicara ketiga memulai pembicaraannya dengan merefleksikan kembali kisah Minke dalam film dan novel “Bumi Manusia”. Di akhir upaya Minke melawan penjajahan, ia menggunakan pena (tulisan-red) sebagai senjata terakhir. Hal itu menjelaskan bahwa melalui upaya menulis, bisa digunakan sebagai alat berjihad melawan penjajahan kolonial pada waktu itu.

Lya Fahmi sebagai pembicara penutup memberikan beberapa tips menjadi Muhammadiyah Millenial, antara lain; (1) Rajin membuat konten yang berkualitas dan mempunyai visi dakwah (tidak perlu masuk struktur Muhammadiyah untuk memulai membuat konten), (2) Kerjakan yang perlu dikerjakan (jangan menunda-nunda), (3) Banyak berkolaborasi dan (4) Peduli pada seni (terutama seni dalam berdakwah, supaya konten dakwah tidak membosakan).

Baca Juga  Dua Kader Pondok Shabran ini Siap Wakili UMS pada Ajang MTQMN di Banda Aceh

Lya berpesan bahwa Muhammadiyah Millenial harus mempunyai proyek (bisa berupa passion atau strategi dakwah) yang diekspose habis-habisan di media apa pun. Ia juga berpesan bahwa janganlah sampai malu mendeklarasikan diri sebagai anak Muhammadiyah.


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here