Memaknai Falsafah Nrimo Ing Pandum - IBTimes.ID
AkhlakKajian

Memaknai Falsafah Nrimo Ing Pandum

1 Mins read

Salah satu nilai falsafah Jawa yang amat dijunjung di masyarakat pedesaan, lingkungan tempat saya tinggal sewaktu kecil, adalah “nrimo ing pandum.”

Menurut penjelasan beberapa, orang semboyan ini membuat masyarakat Jawa menjadi kurang berambisi dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya. Namun menurut saya, pada kenyataannya tidak demikian juga. Dari zaman kerajaan sampai sekarang biasanya masyarakat Jawa tetap punya prinsip seperti itu. Hanya penilaian dan kadarnya saja yang berbeda-beda.

Falsafah “nrimo ing pandum” menjadi amat bernilai spiritual, adi luhung, jika dimaknai sepenuh hati. Umat muslim juga mengenal prinsip ini sebagai sifat qana’ah (menerima). Maksudnya tentu saja menerima segala apa-apa yang diberikan oleh Allah SWT. Setelah memanjatkan doa dan berusaha secara maksimal, terkadang kita pun menerima hasilnya yang tidak sesuai harapan. Ketidakpuasan kita rasakan hingga akhirnya terkadang juga membuat abai dengan ritual berdoa.

Dalam berdoa kita mengenal beberapa prinsip, seperti mengutamakan “rasa takut” (khauf) sekaligus “mengharap” (raja’) kepada Sang Maha Welas. Sambil meletakkan diri sebagai pribadi yang serendah-rendahnya di hadapan Sang Pemilik Jagat Raya adalah salah satu kunci.

Kita sering kali lalai, terlalu banyak memohon perkara-perkara yang berurusan melulu duniawi. Seperti meminta rezeki yang melimpah serta kelancaran urusan-urusan (dunia), bahkan menjadi prioritas dalam berdoa. Sungguh kita ini jiwa-jiwa yang masih berlumuran dosa.

Namun berdoa semacam itu tidak apa-apa, selama kita memintanya kepada Sang Maha Agung. Bukan memohon kepada selain-Nya, seperti kepada manusia atau kepada iblis dengan segala macam penjelmaannya.

Kita ini memang pribadi yang masih sombong. Dapat dilihat dari subtansi berdoa kita yang hanya perihal materi dan urusan duniawi belaka, begitu kata para Sufi. Tapi, ya akui saja. Memang begitulah kualitas pribadi kita. Memang masih di tingkatan inilah kita. Namun semuanya itu berproses. Pun untuk mencintai Sang Pemilik Alam Raya, kita selalu berproses. Wallahu’alam.

Editor: Arif

Baca Juga  Tipu Daya Iblis Saat Membangunkan Manusia untuk Shalat
Avatar
4 posts

About author
Alumni FAI UMY, tinggal di Yogyakarta. Dapat dihubungi melalui [email protected]
Articles
Related posts
Akhlak

Teladan Rasulullah Soal Cinta Tanah Air

4 Mins read
Cinta tanah air adalah naluri di dalam diri manusia, berdetak di hatinya, dan mengalir di dalam darahnya. Meskipun tanah air itu kering…
Akhlak

Bagaimana Islam Memandang Bulliying?

4 Mins read
Dalam hidup, bagi sebagian orang bercanda atau senda gurau adalah sesuatu yang biasa dan wajar-wajar saja. Ada juga yang mengatakan bercanda itu…
Akhlak

7 Cara Mengingat Kematian

4 Mins read
Makna Kematian “Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan…

Tinggalkan Balasan