Membangun Kembali Peradaban Islam dengan Ilmu
Tajdida

Membangun Kembali Peradaban Islam dengan Ilmu

4 Mins read

Peradaban Islam Ilmu – Bagi banyak sarjana, kembalinya Peradaban Islam kepada titik jaya seribu tahun yang lalu adalah perkara yang sangat mungkin. Hanya syaratnya diperlukan lebih dari usaha sungguh-sungguh. Terdapat pembaharuan atau pemugaran yang musti diselenggarakan pada falsafah pendidikan (falsafah hikmah) yang menyangga masyarakat Muslim.

Kerangka filosofis itu harus secara logis dapat menjalin pada suatu visi pembangunan Peradaban Islam yang dekat dengan ilmu-sains, tanpa melupakan akar spiritualnya. Dalam tulisan ini, falsafah pendidikan itu disebut hikmah. Penjelasannya akan diikuti dengan analisa pada tiga elemen: ontologi, aksiologi dan epistemologi.

Mengenal Falsafah Hikmah

Memang benar bahwa filsafat, falsafah dan hikmah memiliki pengertian yang tunggal dalam Islam. Semuanya merujuk kepada tiga hal: suatu ilmu dari segala ilmu, suatu sikap berpikir secara benar, dan suatu kerinduan akan pencarian hakikat penciptaan di muka bumi.

Akan tetapi, dalam tulisan ini dipilih ‘hikmah’ sebagai suatu aliran falsafah tersendiri yang mewakili pola pikir para ilmuwan Islam zaman keemasan. Adapun ilmuwan yang dimaksud meliputi para ulama yang juga dikenal karena kepakaran dalam filsafat alam dan sains.

Sebut saja, beberapa diantara mereka seperti Al Kindi, Al Farabi, Haytham, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Bajah. Mereka ini kokoh iman sekaligus unggul ilmunya, memiliki kemampuan multibahasa dan melahirkan puluhan karya penting yang mempengaruhi wajah peradaban Barat hari ini.

Konsep falsafah hikmah yang diajukan disini juga pada dasarnya berangkat dari nalar burhani, dalam klasifikasi epistemologi yang dikembangkan Abid al-Jabiri. Dijelaskan bahwa burhani adalah ‘nalar’ berpikir yang cenderung kepada rasionalitas dan menekankan pada demonstrasi kebenaran dibandingkan sekedar tekstualitas ayat dan dialektika retoris.

Meski demikian, disadari bahwa formulasi Jabiri baru mencapai wilayah epistemologi yang tidak dapat dengan mudah diartikulasikan kepada konsep-konsep lain yang bersifat lebih praktis; pendidikan, hukum dan sains. Falsafah hikmah, karenanya, adalah konsep jembatan yang menghubungkan Jabirian dengan realita kini.

Baca Juga  Manhaj Salafi Anti Tesis Manhaj Muhammadiyah

Ontologi-Aksiologi Hikmah

Dalam pandangan falsafah hikmah, dunia dipahami sebagai akumulasi dari gerakan-gerakan. Baik gerakan matahari, bumi dan bulan yang berotasi dan berevolusi satu sama lain berdasar lintasannya. Dunia gerakan ini muncul karena didahului oleh suatu gerakan yang lain, bukan semata-mata bergerak mandiri dari awalnya.

Dalam memahami alam dapat dilakukan dengan melacak penggerak sebelumnya, dan bagaimana proses dari satu penggerak akan menggerakkan satu yang lain. Sains berpijak pada prinsip kausalitas, yang mana dapat dianalisa secara objektif atau diuji melalui eksperimentasi.

Pandangan alam (worldview) yang demikian merupakan prasyarat paling awal sebelum Muslim dapat bekerja lebih jauh untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Dengan kesadaran bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan dengan mematuhi prinsip gerak itu, maka penelitian padanya menjadi mungkin.

Tuduhan bahwa worldview ini akan menjatuhkan seseorang kepada penegasian Tuhan dan penyembahan kepada sains (saintisme) akan ditolak dengan sendirinya. Sebab, tindakan meneliti seorang Muslim pada prinsip gerak itu pada akhirnya akan mendekatkan diri kita kepada Tuhan.

Penjelasannya begini: bahwa segala gerakan-gerakan yang mengada di dunia pasti pada suatu ujung, disebabkan oleh suatu hal yang menggerakan, namun tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain kecuali dirinya. Dzat penggerak itu tidak lain adalah Tuhan.

Demikianlah, nilai (aksiologi) dari penelitian seorang dengan worldview hikmah adalah suatu ibadah. Sebab, melalui penelitian itu seseorang menjadi semakin menyadari bahwa rangkaian gerakan itu sangat kompleks dan dirinya hanya setitik kecil di dalam luasnya dunia ciptaan Tuhan.

Ilmuwan dengan kerangka falsafah hikmah akan terus bekerja untuk menggali rahasia alam semesta yang begitu luas. Hal itu ditujukan bukan semata untuk pengembangan ilmu, namun juga sebagai wujud ibadah dan upaya untuk semakin mengenal Sang Pencipta.

Baca Juga  Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Melalui Pendidikan

Epistemologi Hikmah

Berbicara sumber ilmu pengetahuan, falsafah hikmah sama sekali tidak menegasikan wahyu dan hadits. Justru, keputusan untuk meneliti gejala alam semesta merupakan pelaksanaan perintah dan isyarat dari Tuhan.

Tuhan sendiri mengatakan agar kita secara seksama memikirkan tanda-tanda kebesaran Tuhan (QS. Al-Ghasyiyah: 17-21). Ayat itu juga sekaligus mengilhami pandangan bahwa alam semesta atau sunnatullah adalah ayat-ayat Tuhan dalam bentuk lain yang juga harus dibaca secara seksama.

Kemudian dapat dipahami juga, bahwa manusia diciptakan unggul dibandingkan ciptaan Tuhan yang lain. Dari keunggulan itulah manusia diberi amanah sebagai khalifah karena akalnya. Kemudian sebagai bentuk pertanggungjawaban atas anugerah dan misi Tuhan, maka dimanfaatkan semaksimal mungkin potensi akalnya dalam memahami keseluruhan ayat-ayat Tuhan.

Akal diibaratkan sebagai sebuah pisau yang tajam, yang digunakan untuk membedah rahasia dunia. Maka, dalam kerangka hikmah, seorang muslim didorong agar memiliki kemampuan nalar mumpuni untuk memeriksa dengan teliti semua sumber ilmu (wahyu, indra, intruisi) agar selanjutnya diolah dan dihasilkan produk berpikir yang valid.

Implikasi Pedagogis Falsafah Hikmah

Pemahaman kita pada falsafah hikmah akan berujung pada beberapa konsekuensi atas kompetensi atau profil Muslim dan metodologi pembelajaran dalam kelas-kelas kita. Muslim ideal awal adalah mereka yang memiliki penguasaan sejumlah bahasa asing. Bahasa menjadi pintu untuk memasuki gagasan semua intelektual.

Kemampuan ini penting, karena ia memastikan kesanggupan seorang Muslim untuk melahap literatur berkualitas. Demikian itu adalah teladan dari ilmuwan Muslim terdahulu, dibuktikan dengan kesuksesan mereka dalam menerjemahkan ratusan manuskrip filsafat yunani.

Selanjutnya, semesta dan rahasia dibaliknya menuntut Muslim untuk serakah dalam belajar. Jangan pernah merasa kenyang atau cukup ilmu. Penelitian merupakan proses panjang yang harus ditempuh dengan melewati malam-malam panjang yang sepi ditengah buku-buku. Muslim harus membiasakan diri untuk gemar membaca kembali.

Baca Juga  Muhammadiyah, Berjiwa Pahlawan Tanpa Mengklaim Paling Berjasa

Keluasan wawasan yang dihasilkan dari bacaan itu akan berdampak pada salah satunya keberanian dan kapasitas untuk berinovasi. Maka, tidak akan salah bila Muslim dalam kerangka hikmah tidak hanya titelnya yang panjang, namun daftar penemuan baru ilmiah yang dihasilkan pun juga panjang.

***

Kemampuan terakhir yang harus dimiliki adalah logika. Dengan logika yang tepat, muslim akan terbiasa dalam menyusun kesimpulan berdasar pada argumen dan bukti yang memadai. Logika juga membantu untuk mengatasi kekeliruan berpikir yang terkandung dalam berbagai literatur.

Adapun dalam pendidikannya, muslim harus didorong untuk mahir banyak bahasa asing; baik Arab, Inggris dan bahkan Mandarin. Perlu diinisiasi kelas-kelas atau program belajar di sekolah atau pesantren yang mengakomodasi penguatan bahasa ini. Beberapa institusi yang telah mulai dapat dijadikan contoh untuk hal ini.

Supaya Muslim memiliki kemandirian dalam berpikir dan logika yang lurus, maka mereka tidak bisa hanya diajarkan konten tentang keduanya. Justru, pendekatan belajar itulah yang harus memberi ruang atau kesempatan untuk seorang manusia menanggung sendiri proses berpikirnya. Oleh karena itu, seorang Muslim harus terbiasa untuk berselancar mengarungi ombak literasi.

Selanjutnya, ketika mereka dipercaya untuk berpikir, niscaya mereka akan memanfaatkan segenap potensi berpikir itu secara terus-menerus. Sehingga proses berpikir mendewasakan mereka, menghancurkan batasan lama dan melahirkan potensi baru bagi dirinya serta membangun kembali peradaban Islam dengan ilmu.

Editor: Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
12 posts

About author
Alumni Flinders University, Australia yang sehari-hari berprofesi sebagai Dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Bidang Kajian Ahmad meliputi Kognisi dan Pengembangan Manusia, Epistemologi Islam dan Anti-Neoliberalisme. Ia juga seorang Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Co-Founder Center of Research in Education for Social Transformation (CREASION) dan Sekretaris Umum Asosiasi Psikologi Islam (API) Wilayah Jawa Timur.
Articles
Related posts
Tajdida

Meninjau Kembali Teologi Kerukunan dalam Islam

4 Mins read
Teologi Kerukunan Islam – Ketika Islam datang di Jazirah Arabia, sejumlah agama pun sudah tumbuh dan berkembang. Di Madinah atau Yatsrib, sudah…
Tajdida

Muhammadiyah, Berjiwa Pahlawan Tanpa Mengklaim Paling Berjasa

3 Mins read
Muhammadiyah Pahlawan – Kemarin, 10 November 2021 merupakan peringatan dari Hari Pahlawan. Begitu banyak sekali mereka yang berjuang, berkorban jiwa raga demi…
Tajdida

Dilema Kriteria Baru bagi Penyatuan Kalender Hijriah di Indonesia

2 Mins read
Malaysia dan Singapura sebagai anggota MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) telah melakukan perubahan kriteria dengan menggunakan Neo-Visibilitas Hilal…

Tinggalkan Balasan